Perkara Ponsel dan Toilet

Apakah boleh bawa HP ke toilet alias WC?

Memang tidak ada hukumnya di Al Quran atau hadist, karena pada zaman Rasulullah SAW belum ada ponsel. Namun di era digital sekarang, dimana setiap orang kemanapun dan kapanpun pasti membawa ponsel, termasuk ke toilet. Bahkan ada yang bilang, serasa ada yang kurang bila tidak bawa HP ke toilet, karena kita nanti akan bengong alias melamun sendirian saja.

Lalu….. Apakah boleh?

Ada beberapa yang harus diperhatikan mengenai boleh tidaknya perkara ini. Kita pisahkan dulu antara ponsel alias HP dan toilet.

Ponsel atau telepon seluler alias telepon genggam adalah alat digital mobile yang pastinya di kenal saat ini oleh semua orang. Saat ini ponsel ibarat “computer” mini, dengan segala macam aplikasi ada di dalamnya. Dulu ponsel sebatas hanya untuk menelpon dan sms saja. Sekarang ponsel ibarat “otak” manusia. Segala macam kebutuhan ada di situ, mulai dari kamera, Al Quran, arah kiblat, peta, daftar belanja, sosmed, fitness guideline, majalah, musik, TV, segalanya…ibarat pasar malam. Komplit dan mudah kita genggam kemanapun. Segala macam informasi pasti ada di situ, mulai dari urusan pekerjaan, rumah tangga, hingga hal-hal religi.

Sedangkan toilet alias kamar mandi atau WC adalah tempat yang paling kotor atau banyak kumannya, tempat berkumpulnya segala jenis kotoran dan termasuk tempat yang paling menjijikan di dunia. Karena itu kita harus melangkah dengan kaki kiri. Selain itu tempat berkumpulnya kuman, kamar mandi juga tempat berkumpulnya jin. Jin atau setan paling banyak berada di kamar mandi. Maka dari itu kita tak boleh membaca ayat suci atau menyebut nama Allah di kamar mandi demi menghormati Allah SWT. Kamar mandi selain kotor karena kuman, juga kotor karena “penghuni” lainnya.

Lalu bagaimana hubungannya antara ponsel dan toilet? Kesannya perkara ini ringan, tapi akan menjadi berat bila terjadi hal-hal tak terduga… Baca lebih lanjut

Sebaiknya : Doa dulu atau coba dulu?

“Mumpung masih muda kita kerja dulu, nanti berdoanya pas sudah tua saja”

“Yang penting coba aja dulu…., berdoa sih ntar aja…”

Uups……benarkah begitu?

Tapi kalau dipikir-pikir…..,

Sebelum makan, kita berdoa dulu apa merasakan enaknya sambel dulu ?

Sebelum hujan, sedia payung dulu atau langsung kebanjiran dulu?

Sebelum berjalan, bertanya dulu atau nyasar dulu?

Sebelum pacaran, kenalan dulu atau janjian dulu? Baca lebih lanjut

Tiada Yang Sempurna

Upin dan Ipin tengah asyik bermain kejar-kejaran, namun tiba-tiba Ipin tersandung batu dan jatuh. Kaki Ipin patah. Ipin tak bisa bermain lagi, duduk diam di depan TV dan selalu minta tolong saudaranya,Upin, bila ada yang ingin diambilnya dan tak terjangkau karena tak bisa berjalan. 

Akhirnya Ipin pun diberi tongkat untuk membantunya berjalan. Ipin sangat senang. Keesokannya Ipin mencoba ikut bermain petak umpet bersama temannya. Beberapa kali Ipin mencoba namun tetap tak berhasil, permainan jadi tak seru karena langkahnya Ipin tertinggal – lebih lambat – dibandingkan temannya. Semakin Ipin mencoba, dia pun semakin tersiksa. Akhirnya Ipin menyerah. Ipin memutuskan berhenti bermain dan istirahat di saung pinggir lapangan. Ipin semakin sedih dan menyesal sambil melihat temannya bermain, kaki serta tongkatnya. 

^_^

Tak ada yang sempurna di dunia. Meskipun kita terlahir dalam keadaan fisik sempurna. Lengkap dengan segala tangan kaki yang berfungsi. Namun alam pula lah yang bicara. Seiring dengan waktu segalanya bisa berubah. Seperti Ipin yang terlahir sempurna dan biasa bermain mendadak terkena musibah sehingga tak bisa jalan. 

Wajar bila Ipin menyesal dan sedih. Dia seperti kehilangan kehidupan lamanya; bermain, berlari, yang kini tak dapat dilakukan lagi.Kini dia pun harus tergantung kepada orang lain. Setiap memandang temannya, Ipin hanya iri karena dia dulu merasa bisa namun sekarang tidak. 

^_^



Ipin  tak sendiri di dunia ini. Masih banyak yang senasib dengannya. Dimana merasa dirinya cacat (disable) tak sedari lahir. Sehingga agak sulit untuk beradaptasi dan menerima kondisinya. 

Kita tercipta oleh Sang Maha Penguasa Alam Semesta. Dan kita pun harus bersatu dengan alam. Kita harus mengikuti aturannya. Semua sudah di atur mengapa harus ada yang tinggal di darat, laut maupun di udara. Agar bumi ini bisa saling melengkapi. Semua sudah di atur sesuai kemampuannya. Tak mungkin kita memaksakan ikan tinggal di darat, atau ayam tinggal di laut. Sama saja dengan membunuh mereka. 

Semua sudah di atur sesuai scope-nya masing-masing. Meskipun kita sudah berusaha untuk mencoba, bila alam tak mengizinkan kita tetap saja tak akan bisa. Kita tak bisa memaksa diri sesuai kehendak agar kita sama dengan yang lain. Lihatlah Ipin  yang sudah mencoba berlari meskipun sudah dibantu tongkat tetap saja tak berhasil. Dan apabila terus dipaksakan, Ipin bisa saja akan celaka dan kaki yang masih sehat pun akan lumpuh pula. Ipin awalnya memaksa diri karena ambisi dan terobsesi oleh lingkup sekitar yang sempurna. Namun akhirnya dia pun sadar akan kondisinya.  Apakah Ipin menyerah? Tidak. Dia telah mencoba. Meskipun gagal. Setidaknya itu adalah jawaban memang dia tak bisa melakukannya. Seseorang dikatakan menyerah apabila belum mencoba sama sekali dan sudah putus asa. 

Lalu mengapa ada orang seperti Ipin? Yang mendadak mengalami tidak berfungsinya alat gerak tubuh namun tak sedari lahir, sehingga sulit beradaptasi?

Masih ingat metamorfosis sempurna yang di alami kupu-kupu? Semula ulat yang hidup di tanah dan berubah menjadi kupu-kupu yang bisa terbang. Semuanya adalah kehendak Sang Pencipta dan harus bersatu lagi dengan alam ciptaanNya. 

Begitu pula dengan Ipin, harus berupaya beradaptasi di alam mana dia harus berada. Tak akan mungkin seekor kupu-kupu merayap terus di atas daun. Dia harus belajar terbang,  mengelilingi bunga dan mengisap nektarnya. Banyak orang yang jijik akan ulat namun semua orang menyukai kupu-kupu. 

Mungkin saat ini Ipin menyesali keadaannya yang tak bisa berlari namun suatu hari dia akan menyadari justru itulah anugrah terindah yang pernah dia miliki. Sebagaimana kupu-kupu cantik yang mampu menyuburkan bunga dan menghiasi indahnya taman.

Setiap orang diberi kelebihan dan kekurangan. Kita mungkin tak bisa berjalan, tapi itu pasti karena kita bisa “terbang”😉

Actually, being disable is a gift. Trust me😊

And just like Ipin,  you’re not alone.  (arlin)

Jakarta, 1 April 2015

Shalat

Di awal tahun ada teguran teman yang membuatku tertegun dan speechless “Usia terus bertambah dan waktu terus berubah, apakah shalatmu masih begitu2 saja?”

Ku akui memang tak pernah lupa shalat, dari kecil sudah dibiasakan shalat bahkan sudah menjadi kebutuhan tapi yah terus terang setiap hari sama saja shalatnya. Bacaan setelah Al Fatihah hanya itu2 saja suratnya, masih sering menunda waktu shalat, masih mengabaikan suara adzan demi urusan duniawi, lebih senang shalat sendiri daripada berjamaah, jarang shalat sunnah, shalat tergesa-gesa, dan masih banyak lagi. Sementara usia terus dewasa namun shalatnya masih seperti anak kecil 7 tahun yang baru belajar shalat. 😶

Perbedaannya hanya satu ; dulu saat 7 tahun harus disuruh , sekarang kesadaran sendiri. Itu saja bedanya. 

Seiring bertambahnya usia kita di dunia, berarti semakin berkurang pula jatah hidup kita di dunia. Dimana maut semakin dekat. Dan shalatnya masih begitu2 saja? Dimana shalat adalah penolong kita di alam kubur nanti…..

Astaghfirullah…

Sebenarnya tidak sulit meningkatkan kualitas shalat. Entah kenapa godaannya begitu besar. Seperti bacaan setelah Al Fatihah, sudah hapal hampir semua surat juzamma, namun entah mengapa lidah spontanitas selalu keluar surat ‘qulhu’saja? 

Mencoba shalat tepat waktu pun tidak sulit. Tapi mungkin juga tidak mudah. Kala kita dewasa, biasanya kita cenderung terkejar oleh nafsu duniawi. Lebih mengutamakan pekerjaan daripada shalat, lebih mengutamakan menjawab telpon masuk daripada shalat, mengutamakan tayangan film daripada shalat, mengutamakan makan daripada shalat. 

Sebenarnya memang benar adanya bahwa barakah bagi yang menjalankan shalat tepat waktu. Setelah shalat, kita terasa tak ada lagi beban dan jauh lebih tenang menjalankan aktivitas. Waktu pun terasa lebih banyak. 

Namun ada saja godaannya, entah mengapa panggilan adzan tidak membuat kita berdebar dan langsung bersiap shalat dan berwudhu? Mengapa suara adzan kalah getarannya dengan suara telepon dari seseorang yang membuat kita berdebar dan bergegas mengangkatnya? Mengapa suara adzan kalah suaranya dengan suara atasan yang menyuruh kita menyusun laporan akhir tahun? Mengapa suara adzan tak sekeras suara perut yang lapar sehingga kita berprinsip ‘lebih baik makan ingat shalat daripada shalat ingat makan’?  Mengapa suara adzan kalah indahnya dengan mimpi dan bantal yang terus melelapkan kita di waktu subuh? 

Godaan itu mungkin masih belum seberapa….Masih ada lagi godaan lain saat shalat yang lebih berat dimana kita juga berdosa bila menentang atau meninggalkannya. Seperti ketika hendak shalat namun dipanggil ibu atau di suruh suami. Ketika adzan namun bayi menangis. Ketika memasuki waktu shalat harus menolong orang sakit. Lalu sebaiknya mana yang didahulukan? Allah Maha Tahu dan Maha Adil. Wallahualam. 

Setiap hari selalu saja ada usaha memperbaiki diri lebih baik, lebih sehat, lebih sukses dsb. Tapi lewat teguran teman tsb sepertinya ada yang terlewat. Lupa memperbaiki kualitas shalat hari demi hari, karena di rasa setiap hari sudah shalat. Sementara waktu maut semakin sempit untuk menjemput, jangan sampai shalatku dan orang2 di sekitarku terus begitu2 saja. Semoga tahun ini jauh lebih baik. Amin. (arlin)

-terima kasih kepada yg sdh mengingatkan….

Jakarta, 14 Maret 2015

Cerita dari Jakarta (4)

Sebenarnya banjir tahunan di Jakarta adalah berkah bagi warga ibukota. Tak percaya?  Coba bayangkan, hal2 ini hanya terjadi di Jakarta saat ada banjir: 

  • Ada bonus tambahan cuti tanpa dipotong jatah cuti tahunan.
  • Atasan meminta anak buahnya agar pulang cepat.
  • Trus di kantor kita juga cuman leyeh-leyeh aja, lupa soal meeting dsb yang ada bahas soal lewat mana nanti jalan yang ga kebanjiran atau daerah mana yang ga kebanjiran, maklum lah banyak yang mendadak cuti saat itu. 
  • Anak sekolah pun mendadak libur. 
  • Saat jalan keluar untuk aktifitas bisa menikmati jalanan ibukota yang longgar – karena hampir semua orang enggan keluar- ,,kapan lagi Jakarta ga macet…? 

Semua orang seakan satu nasib, tak ada atasan atau bawahan, karena sama2 kebanjiran, jadi tak ada yang namanya arogansi karena jabatan. Bahkan istana saja kebanjiran 😄. Jadi, sebenarnya banjir tahunan di ibukota adalah nikmat yang sudah menjadi tradisi klasik dan sebaiknya jangan kita ingkari. Nikmati saja. Karena banjir hanyalah air, dan air adalah berkah bagi tiap orang. 

Bayangkan di negeri lain yang sengsara karena kekurangan air, sementara di kita air melimpah berlebih sampai meluap jauh ke seluruh jalan. Bayangkan bila suatu saat nanti – entah kapan – pemerintah berhasil menghilangkan banjir di Jakarta, mungkin….warga DKI akan kangen suasana momen kebanjiran yang tinggal kenangan. Kangen disuruh pulang cepat oleh atasan, kangen naik mobil merangkap water boom gratis sepanjang jalan…., bayangkan betapa tambah garingnya Jakarta bila tak ada banjir. Justru itu yang patut di banggakan😄

Daripada tak ada hentinya saling menyalahkan soal banjir yang tak akan ada habisnya dan kita juga lelah di buatnya. Rakyat menyalahkan pemerintah yang kerjanya ga becus, pemerintah menyalahkan rakyat yang buang sampah sembarangan. Daripada lelah saling menyalahkan, lebih baik nikmati saja keadaan.

Kapan lagi Jakarta yang identik dengan panas justru full of water? Kapan lagi semua warga Jakarta bisa punya kolam renang sendiri? Kapan lagi kita malamnya dapat email disuruh libur! – bukan lembur – dari kantor? Kapan lagi bisa komplit kumpul sekeluarga di hari kerja karena anak sekolah pun libur? Kapan lagi kita bisa silaturahmi dan bergotong royong dengan tetangga karena membersihkan jalanan yang banjir? Sungguh, banjir itu memang anugrah kan……..😉😅
Keep on positive thinking
…..
Segala sesuatu pasti ada hikmahnya…
Di balik musibah pun kita harus bisa bersyukur……(arlin)

 Jakarta, 27 Februari 2014

Saya Ingin Seperti Mereka

….dan ternyata mereka ingin seperti saya! 

Rakyat ingin seperti Presiden yang mempunyai kekuasaan. 
Namun Presiden ingin seperti rakyat yang mempunyai kebebasan.

Pembantu ingin seperti majikan yang setiap hari ikut arisan dan pergi ke mall.
Namun majikan ingin seperti pembantu yang hanya numpang tidur dan makan namun masih menerima gaji bulanan. 

Atasan ingin seperti bawahan yang tidak perlu bertanggung jawab apabila ada kesalahan. 
Namun bawahan ingin seperti atasan yang gajinya lebih besar. 

Karyawan ingin seperti direksi yang mempunyai posisi jabatan dan penghasilan tertinggi.
Namun direksi ingin seperti karyawan yang kerja apapun pasti dibayar tanpa takut terancam bangkrut perusahaannya.

Dan itulah manusia.  Manusia yang tak pernah puas diberi nikmat apapun.
Selalu membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

 “Rumput tetangga selalu lebih hijau”

…..kelihatannya (saja) lebih hijau…..kita tidak tahu di halaman tetangga apakah banyak semut merah, cacing atau tanah yang selalu kering. Kita hanya melihat “rumput”nya saja.
Kita selalu iri dengki akan kelebihan orang lain. Sehingga selalu berpikir bahwa dunia ini tidak adil. So what? Semua orang diberi beban dan cobaan menjalani hidup, hanya saja berbeda-beda jenis cobaannya. Setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kita selama ini hanya melirik “rumput” tetangga saja, tidak melihat “tanah” atau “pohon”nya. Itulah yang membuat kita dengki dan selalu ingin seperti orang lain.

Sebelum melihat rumput tetangga, sebaiknya kita lihat rumput kita sendiri. Setiap hari kita menyiram dan menyiangi rumput kita. Tetangga kita sebenarnya pun iri melihat hijaunya rumput di halaman kita. Lalu buat apa kita  merasa rumput tetangga lebih hijau, padahal tetangga kita pun tak mempunyai halaman yang ditumbuhi rumput sehelai pun ? 😄

(Arlin, 10/3/14)