Takdir dan Kebetulan (2)

Katanya tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Segalanya sudah diatur alias takdir. 

Lalu apakah ini kebetulan atau takdir bila tiba-tiba kita bertemu dengan orang yang sama persis dengan kita? 

Ada “kebetulan” yang aneh yang kualami belakangan ini….

Beberapa minggu yang lalu, aku kebetulan bertemu dengan “diriku” sendiri. Aku bertemu dengan “aku di masa lalu”.  I met myself in the past. Seperti di film2. Aneh? Ya….. Tapi begitulah….dan ini riil. 

Dan sekali lagi apakah ini kebetulan? Aku bertemu dengan seseorang dengan kondisi yang sama denganku di masa lalu,  seorang anak kos dengan logat sunda yang jauh dari ortu,reviewer, putih, kecil, lemas, sering ga masuk karena sakit, gampang marah dan sensitif. 

“Lho, kok nih anak gue banget yah?” 😐 yeah …..she was me in the past!

Rasanya seperti tak percaya. Tapi saat melihatnya, aku ibarat melihat kembali ke masa lalu yang sebenarnya ingin kulupakan. Tapi kenapa bisa ada kebetulan yang seperti ini? 

Hanya saja aku kali ini berbeda dengan yang lalu. My life has changed. Dan bila dulu aku mempunyai posisi sebagai murid, kali ini aku sebagai guru. Dan dia adalah “murid”ku. Dan tidak semua guru paham akan kondisinya, bahkan banyak yang salah paham. Ketika dia datang padaku, aku paham benar akan segala problemnya.  Sebagaimana guru yang pernah jadi murid. Ditambah aku dulu adalah murid yang sama sepertinya. 

Dan anehnya langsung beruntun berbagai kebetulan lainnya. Posisi aku dan dia adalah sebagai “guru” dan “murid” bukan sebagai teman sekelas. Tapi entah kenapa kita jadi sering ketemu di tempat-tempat yang aku tahu, itu adalah tempat “rawan” bagi orang sepertinya. Di jalan, di kamar mandi, pas lagi shalat, kebetulan juga ketemunya saat dia lagi sendiri. Kadang saat bertemu dengannya, ingin sekali hati ini untuk memeluknya dan sekedar bertanya “are you okay?” Tapi – kebetulan lagi – dia pun sepertinya bisa membaca pikiranku, tiba2 dia suka menyapaku dan mengatakan”lihat Bu, aku sehat sekarang.” 😊 Dan aku pun tersenyum ……dan menangis ketika mendengarnya. 

Apa ini kebetulan? Atau takdir?

Kadang aku pun bertanya-tanya, apakah dibalik segala keputusanku 3 tahun lalu yang di jalani dengan segala isak tangis, ragu, takut, sedih untuk hijrah, apakah ini jawabannya? Apakah memang sudah “diatur” supaya aku menjaga mereka? Agar aku menjadi “guru” teladan bagi “murid”ku karena aku pernah menjadi mereka? 

Ataukah ini hanya kebetulan saja? 😊

Wallahualam 

(Arlin, Jakarta 1 April 2016) 

Ujian dan Usaha

“Sungguh akan Kami uji iman kalian dengan kesusahan dan kesenangan” (Al Anbiya:35)

Ujian tidak identik dengan kesulitan atau kesedihan seperti sakit, lapar, atau kemiskinan. Tapi ujian juga bisa berupa kesenangan seperti harta, rejeki, kesehatan, anak, keluarga, dan masih banyak lagi. Sebagaimana nabi Sulaiman yang di uji dengan kekayaannya atau nabi Yusuf yang di uji dengan ketampanannya.
Dan biasanya ujian terbesar justru datang dari keluarga…lihatlah nabi Luth yang di uji dengan istrinya, nabi Ibrahim dengan ayahnya, nabi Muhammad dengan pamannya, nabi Nuh dengan anaknya. Maka dari itu, kita harus senantiasa mendoakan keluarga kita…karena mereka hanyalah titipan dan ujian terbesar kita di dunia dari Sang Maha Kuasa.

Ujian dan usaha adalah hubungan sebab akibat yang saling berhubungan. Bila kita sedang berusaha mengerjakan sesuatu agar segera mendapatkan solusi itulah ujian. Sedangkan kita diuji agar kita berusaha. Nabi Ayub diuji dengan sakit agar berusaha untuk bersabar dan Nabi Muhammad diuji menjadi yatim piatu agar berusaha menjadi mandiri.

Hanyaaa….sayangnya manusia suka gagal paham. Manusia sering menganalogikan kesulitan dengan ujian; sedangkan segala keberhasilan, kesuksesan dan kekayaan identik dengan usaha. Baca lebih lanjut

Drama Gojek

gojek“Drama” Gojek pertengahan Desember minggu kemarin bisa dibilang garing. Sangat garing. Ibarat seseorang yang menjual ponselnya ke dealer barang bekas, tapi dia sendiri yang membeli ponselnya karena disuruh istrinya.😀

Terus terang mengenai peraturan larangan Gojek alias ojek on line dan sejenisnya yang kemarin sempat di keluarkan oleh mentri tranportasi itu, 90% saya setuju. Kenapa? Silakan baca dulu…just my opinion..😉

Katakanlah kita memang butuh transportasi umum, tapi apakah hanya ojek solusinya? Apakah ojek aman? Dari seluruh dunia, hanya Indonesia satu-satunya yang masih menggunakan ojek sebagai transportasi umum….dan sepertinya hanya di negeri ini saja yang mengenal ojek! yah..mungkin di India atau negara Asia yang padat lainnya masih ada, itupun sudah terbatas penggunaannya.Di negara lain, penggunaan ojek sebagai transportasi umum sudah dilarang sejak zaman kuda gigit besi karena masalah keamanan. Motor atau kendaraan roda dua lainnya hanya aman bila digunakan SATU orang penumpang …yaitu sang drivernya sendiri. Dan ini sudah aturan baku yang semua orang sudah tahu sejak zaman Majapahit, dan hanya negeri kita lah yang melanggarnya. Hebaat….

Di negara lain, demi keamanan sang penumpang sendiri, pemerintahnya sudah melarang “ojek” karena memikirkan masalah safety jauh-jauh hari. Sedangkan bila di sini, untuk urusan transportasi ….yang dipikirkan hanya mudah, murah, sampai tujuan, sekian. Dan bila terjadi kecelakaan yang disalahkan….yah pemerintah! Dan ketika pemerintah memutuskan demi masalah jangka panjang alias safety …yah salah juga!:)

Peraturan dari kementrian perhubungan kemarin mengenai syarat kendaraan umum yang minimal harus beroda tiga, berbadan hukum, dan memiliki izin sebagai angkutan umum sudah tepat. Dan Gojek alias ojek on line tidak memenuhi kriteria itu, sehingga dilarang. Lalu timbul pertanyaan lagi, kenapa ojek zaman baheula alias ojek pangkalan tidak dilarang? Jawabannya karena Gojek sifatnya reservasi atau sudah dipesan via aplikasi jadi sudah di order ibarat orang booking hotel untuk malam tahun baru sehingga pasti pemakaiannya dan bisa lebih mudah untuk mencegahnya. Sedangkan ojek pangkalan sifatnya tentative, tambahan lagi untuk melarangnya masih sulit membedakan apakah itu jasa tukang ojek atau seseorang yang menunggu pacarnya dengan motor di bawah pohon jambu?:) Sepertinya kementrian perhubungan mau menertibkan ojek dari yang on line dulu, dan bila berhasil baru yang ojek pangkalan….mungkin….

Lagipula pak menhub juga bilang akan diizinkan untuk beroperasi kembali asalkan Gojek dan sejenisnya ini mau memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Artinya… Baca lebih lanjut

Narsis dan Riya

 

riya1

Kenapa biasanya orang santai saja bila dicap “narsis” tapi agak risih bila disebut “riya”? Padahal narsis dan riya konotasinya 11-12 alias beda tipis, secara garis besar bermakna akan memperlihatkan kelebihan diri ini kepada publik.

Ingat beberapa waktu lalu sempat heboh di sosmed, tentang seorang ustadz yang diserang netizen karena menyatakan bahwa selfie identik pula dengan riya. Sebenarnya bila dipikir dengan logika..yah ada benarnya juga.

Manusia agak risih dengan istilah “riya” karena identik dengan agama yang berkaitan dengan penyakit hati sehingga menjurus ke arah dosa. Sedangkan “narsis” kesannya lebih santai, lebih kekinian dan lebih populer, lagipula tidak membawa masalah agama…sehingga bisa diterima.

Kata “narsis” berasal dari Baca lebih lanjut

Takdir dan Kebetulan

“Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu” (Thaha:3)
Teringat kata-kata seorang teman bahwa “Tuhan Maha Sutradara”. Artinya semua kejadian di dunia ini baik di langit maupun di bumi adalah skenario-Nya. Allah sudah mengatur segalanya, bahkan untuk daun-daun yang jatuh berguguran pun Allah telah mengaturnya. Katanya tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Tapi benarkah begitu? Bukankah memang banyak kejadian karena “kebetulan”?

Lihatlah “skenario” ini: Baca lebih lanjut

Just My Opinion

Kata orang, sakit adalah penggugur dosa.
Tapi benarkah demikian?
Menurutku, sakit justru memperbanyak dosa. Tak percaya? Bayangkan bila kita sakit, pastinya tidak bisa beribadah wajib rutin setiap hari ; puasa tidak bisa, kadang shalat pun sulit, apalagi sampai haji…pastinya sangat sulit. Ibadah yang paling ringan seperti tersenyum pun sepertinya juga tidak mungkin.
Kegiatan ibadah yang diwajibkan agama saja tidak bisa dilakukan, begitu pula kegiatan sehari-hari manusia sebagai mahluk sosial. Bermain tidak bisa, belajar tidak bisa, tidak masuk sekolah atau kerja kadang terpaksa menitipkan pekerjaannya ke rekannya, membantu orang di sekitarnya juga tidak bisa. Atau bahkan bisa dikatakan orang sakit justru – maaf – merepotkan orang di sekitarnya. Bayangkan, untuk makan dan minum saja minta tolong, kadang perlu dipapah untuk jalan ke kamar mandi dsb, dan bukan tidak mungkin bila biasanya orang sakit cenderung rewel atau manja kadang mudah emosi karena faktor psikis sakit yang di deritanya sehingga mudah marah dsb kepada orang sekitarnya karena kesal tak kunjung sembuh atau minta dilayani.
Lalu bila seperti itu keadaannya, dimanakah letak penggugur dosanya?
Percaya kan bila orang sakit justru semakin banyak dosanya? Baca lebih lanjut

Forgive & Forget 

Sorry seems to be the hardest word (Elton John)

Minta maaf memang sulit tapi memaafkan jauh lebih sulit lagi. Tapi nilainya jauh lebih mulia di mata Allah dan manusia lainnya. 

Manusia bukanlah mahluk yang sempurna. Kita tak pernah lepas dari kelalaian atau kekhilafan alias kesalahan yang biasanya akan menimbulkan kekesalan bagi orang lain di sekitar kita. Sudah sewajarnya kita meminta maaf bila berbuat salah…..



Tapi……….

Biasanya kita enggan atau cenderung sulit  memaafkan kesalahan orang lain. Kita merasa karena kita yang mempunyai kuasa, merasa yang paling pintar atau yang paling baik, rasanya tak dapat memaafkan kesalahan orang lain bahkan cenderung menyimpan dendam sekian lama atau ada rasa ingin membalas kesalahannya , tak jarang ada pula yang nyumpahin agar orang itu dapat balasannya. 

Lalu, akankah hidup kita tenang bila harus seperti itu? Dan apakah keuntungan yang kita dapat jika sumpah kita menjadi kenyataan ? Yang pastinya dosa kita akan semakin bertambah besar. Astaghfirullah…

Memang sulit memaafkan kesalahan orang lain. Karena gengsi atau ego, biasanya kita lebih memilih untuk “melupakan” daripada “memaafkan”. Dengan “melupakan”berharap bisa hilang dari ingatan kita akan kesalahan orang lain. Tapi, sebenarnya ini adalah cara yang salah . Pada dasarnya manusia tak akan bisa melupakan begitu saja. Setiap manusia mempunyai sel memory pada otaknya dimana setiap peristiwa yang dialami pasti direkam dalam otak kita. Bila kita mencoba “melupakan” itu sama saja kita memasang deadline kebencian kita untuk memaafkan seseorang, nanti bila masa itu lewat dan emosi kita mencapai klimaksnya bisa jadi justru “meledak”. 

Maka, jalan terbaik adalah kita mau memaafkan kesalahan orang lain. Meskipun orang tersebut belum tentu mau memaafkan kita. Kita berusaha demi silaturahmi yang terbaik, kita akui saja kesalahan kita. Perkara siapa yang salah atau benar, serahkan saja urusannya kepada Yang Maha Kuasa. Apabila tak ada kesempatan untuk bertemu dengannya lagi, minta maaf lah dalam hati, maafkan kesalahannya setiap malam sebelum tidur sebagaiman telah disunnahkan oleh Rasulullah untuk memaafkan kesalahan orang lain sebelum tidur.  Karena siapa tahu kesalahan yang kita perbuat kepadanya jauh lebih banyak daripada kesalahannya. 

Bagaimana jika kita sulit memaafkan kesalahan orang lain dan selalu ada rasa dendam?

Perbanyak istighfar, karena itu tandanya kita telah memiliki penyakit hati alias sombong. Artinya kesombongan kita jauh lebih besar daripada kesalahan orang itu.  Bayangkan Rasulullah saja yang sudah jauh lebih mulia dari kita, masih menerima dicaci maki setiap hari dan mau memaafkan kesalahan umatnya. Di dunia ini tak ada yang paling benar dan paling berkuasa.Karena seharusnya yang pantas dipuji hanyalah Allah, bila kita merasa diri kita yang paling benar dan tak ingin dihina berarti kita sombong.  Apabila kita merasa yang paling mulia dengan bersikap tidak mau mengakui kesalahan, tidak merasa pantas dihina, merasa yang paling benar , waspadalah itu semua adalah gejala awal kesombongan. Dari situ syaitan bisa masuk dengan mudah, dimana sombong adalah sifat syaitan yang utama, sehingga kita akan sulit untuk memaafkan. Astaghfirullah. 😰

“Jadilah engkau pemaaf dan perintahkan orang mengerjakan yang ma’ruf (kebaikan) serta berpalinglah dari orang2 yang bodoh (keburukan). ” (Al A’raf:199) 

Apakah kita juga mempunyai kesalahan terhadap orang lain?

Namanya manusia pasti tak pernah lepas dari kesalahan dan kelalaian sehingga pastinya kita pernah berbuat salah dengan orang lain entah disengaja atau tidak sengaja, baik kita sadari atau di luar kesadaran kita. Kita tak tahu segala sikap atau lisan kita – mungkin – bisa jadi sebuah cercaan yang menyakitkan bagi orang lain, meskipun kita tak ada maksud untuk menghina. Bila ada orang lain yang tak bisa memaafkan kita, hal ini akan mempersulit urusan kita saat di padang Mashyar nantinya. Makanya  kita harus senantiasa menjaga lisan, sikap,  perilaku. Atau sebaiknya diam. 

Lalu bagaimana bila orang lain tak mau memaafkan kesalahan kita?

Usahakan perbanyak istighfar dan memohon taubat dariNya. Setiap saat. Karena Allah lah yang Maha Pemaaf dan Maha Pemberi Taubat. Dan biasakan pula setiap malam sebelum tidur, kita sempatkan waktu untuk memaafkan kesalahan orang lain di sekitar kita, yang kita kenal, entah di masa lalu atau pun sampai detik terakhir. Ingat, memaafkan bukan melupakan. Cara memaafkan terbaik adalah kita mengingat kesalahan, istighfar, memaafkannya serta minta ampun kepada Allah. Meskipun sulit, tapi perlahan hati kita akan ikhlas akan segala kesalahannya, kita tetap ingat kesalahannya tapi kita pun akan diberi keyakinan bahwa bisa saja kita akan melakukan kekhilafan yang sama sehingga kita sendiri akan ikhlas memaafkannya. Percayalah. Insya Allah. 

Dan apabila kita telah memaafkan kesalahan orang2 di sekitar kita, insya Allah , Allah pun akan memaafkan kita. Insya Allah. Amin. ☺️☺️🙏

“Barangsiapa memaafkan kesalahan orang lain maka Allah akan memaafkan kesalahannya pada hari kiamat.” (H.R Ahmad)

Try to forgive, not to forget. Remember, give is better than get. If you forgive something, automatically you will forget it too 😃

And…please forgive me. 🙏

Jakarta, 18 September 2015

-arlin-