Puasa dan Toleransi

Sejak kecil kita sudah mengenal puasa dan yang ada di benak kita mengenai bulan puasa adalah lapar, haus, tarawih, liburan dan petasan! Saat masih kecil bulan puasa adalah bulan yang paling menyenangkan karena libur sekolah paling lama, jam sekolah lebih cepat, tidak ada ulangan, pulang tarawih sekalian main petasan, dan bila kita berhasil puasa sebulan akan mendapat angpaw saat lebaran nanti. Aah indahnya bulan puasa ….:)

Semakin dewasa kita semakin tahu bahwa puasa not as simple as that. Puasa tak sekedar lapar dan haus belaka. Karena sedari kecil hanya dilatih sebatas kebiasaan maka banyak yang gagal paham akan makna puasa saat dewasa

Makna Puasa

Puasa atau shiyam menurut bahasa Arab yang berarti “menahan” . Puasa berarti menahan diri dari segala hawa nafsu mulai dari terbit fajar sampai matahari terbenam yang disertakan dengan niat dan syarat.

Apabila malam datang, siang lenyap dan matahari telah terbenam, maka sesungguhnya telah datang waktu berbuka bagi orang yang puasa.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Puasa adalah salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh umat Muslim. Puasa yang wajib dilakukan adalah pada bulan Ramadhan selama sebulan sehingga dikatakan juga bulan puasa.

Apabila kamu melihat bulan (di bulan Ramadhan), hendaklah kamu berpuasa dan apabila kamu melihat bulan (di bulan Syawal) hendaklah kamu berbuka…”(HR.Bukhari dan Muslim).

Segala sesuatu yang wajib pasti ada syarat dan ketentuannya. Karena ini adalah ibadah yang wajib, maka untuk melaksanakannya pun ada persyaratannya yaitu dilaksanakan dengan niat, dan harus mampu menahan dari segala yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai matahari terbenam. Puasa wajib dilakukan bagi umat Islam yang berakal, usia baligh, serta kuat berpuasa. Syarat wajib puasa diantaranya adalah suci; bagi yang haid atau nifas tidak sah berpuasa tapi harus mengqadhanya.

Islam memberi keringanan bagi yang tidak mampu/kuat dan diperbolehkan untuk tidak berpuasa Baca lebih lanjut

Wanita dan Aurat

Bila dipikir, apa enaknya menjadi wanita…punya rambut indah, panjang, tebal tapi harus ditutup. Sudah repot-repot merawat kulit agar mulus tapi tetap tak ada yang boleh menyentuh dan melihatnya. Suara kita sungguh indah dan enak di dengar, tapi tetap saja tak boleh bersuara keras. Kita sengaja merawat tubuh kita agar tetap sehat, bugar, langsing tapi tetap saja ditutup tak boleh ada yang melihatnya, hanya suami saja yang berhak melihat lekuk tubuh kita.

Mengapa dalam Islam, wanita seolah disembunyikan alias begitu tertutup dan tidak boleh dipertontonkan? Padahal wanita itu kan identik dengan sesuatu yang indah di muka bumi ini.

Kenapa?

Karena wanita begitu berharga. Karena wanita sangat berharga dan terhormat.

Begitu berharganya wanita dalam Islam sehingga harus dijaga, dan tak boleh dilihat sembarang orang. Kita pasti tahu bagaimana kita menjaga harta, uang, emas, atau apapun simpanan kita yang berharga seperti ijazah dsb. Kita pasti senantiasa menjaganya di tempat yang aman seperti di brankas atau bank atau di lemari yang tertutup rapat, dengan password yang tak boleh seorang pun tahu. Karena bila kehilangan, maka menangislah kita.

Begitulah wanita, sangat berharga sehingga harus dijaga. Tak boleh sembarang orang tahu bagaimana cantiknya wanita di balik hijabnya. Begitu berharganya wanita sehingga hanya suami saja yang boleh menatap lekuk tubuhnya. Begitu berharganya wanita sehingga tak bisa sembarang orang tahu betapa mulus kulitnya.

Tak hanya sekedar berharga tapi juga terhormat. Kita tahu bagaimana orang-orang terhormat di negeri ini seperti presiden atau pejabat senantiasa dijaga atau dikawal. Begitu pula wanita. Wanita sangat terhormat sehingga senantiasa harus menjaga auratnya.

Mengapa wanita begitu berharga dan terhormat? Baca lebih lanjut

Perkara Ponsel dan Toilet

Apakah boleh bawa HP ke toilet alias WC?

Memang tidak ada hukumnya di Al Quran atau hadist, karena pada zaman Rasulullah SAW belum ada ponsel. Namun di era digital sekarang, dimana setiap orang kemanapun dan kapanpun pasti membawa ponsel, termasuk ke toilet. Bahkan ada yang bilang, serasa ada yang kurang bila tidak bawa HP ke toilet, karena kita nanti akan bengong alias melamun sendirian saja.

Lalu….. Apakah boleh?

Ada beberapa yang harus diperhatikan mengenai boleh tidaknya perkara ini. Kita pisahkan dulu antara ponsel alias HP dan toilet.

Ponsel atau telepon seluler alias telepon genggam adalah alat digital mobile yang pastinya di kenal saat ini oleh semua orang. Saat ini ponsel ibarat “computer” mini, dengan segala macam aplikasi ada di dalamnya. Dulu ponsel sebatas hanya untuk menelpon dan sms saja. Sekarang ponsel ibarat “otak” manusia. Segala macam kebutuhan ada di situ, mulai dari kamera, Al Quran, arah kiblat, peta, daftar belanja, sosmed, fitness guideline, majalah, musik, TV, segalanya…ibarat pasar malam. Komplit dan mudah kita genggam kemanapun. Segala macam informasi pasti ada di situ, mulai dari urusan pekerjaan, rumah tangga, hingga hal-hal religi.

Sedangkan toilet alias kamar mandi atau WC adalah tempat yang paling kotor atau banyak kumannya, tempat berkumpulnya segala jenis kotoran dan termasuk tempat yang paling menjijikan di dunia. Karena itu kita harus melangkah dengan kaki kiri. Selain itu tempat berkumpulnya kuman, kamar mandi juga tempat berkumpulnya jin. Jin atau setan paling banyak berada di kamar mandi. Maka dari itu kita tak boleh membaca ayat suci atau menyebut nama Allah di kamar mandi demi menghormati Allah SWT. Kamar mandi selain kotor karena kuman, juga kotor karena “penghuni” lainnya.

Lalu bagaimana hubungannya antara ponsel dan toilet? Kesannya perkara ini ringan, tapi akan menjadi berat bila terjadi hal-hal tak terduga… Baca lebih lanjut

Sebaiknya : Doa dulu atau coba dulu?

“Mumpung masih muda kita kerja dulu, nanti berdoanya pas sudah tua saja”

“Yang penting coba aja dulu…., berdoa sih ntar aja…”

Uups……benarkah begitu?

Tapi kalau dipikir-pikir…..,

Sebelum makan, kita berdoa dulu apa merasakan enaknya sambel dulu ?

Sebelum hujan, sedia payung dulu atau langsung kebanjiran dulu?

Sebelum berjalan, bertanya dulu atau nyasar dulu?

Sebelum pacaran, kenalan dulu atau janjian dulu? Baca lebih lanjut

Tiada Yang Sempurna

Upin dan Ipin tengah asyik bermain kejar-kejaran, namun tiba-tiba Ipin tersandung batu dan jatuh. Kaki Ipin patah. Ipin tak bisa bermain lagi, duduk diam di depan TV dan selalu minta tolong saudaranya,Upin, bila ada yang ingin diambilnya dan tak terjangkau karena tak bisa berjalan. 

Akhirnya Ipin pun diberi tongkat untuk membantunya berjalan. Ipin sangat senang. Keesokannya Ipin mencoba ikut bermain petak umpet bersama temannya. Beberapa kali Ipin mencoba namun tetap tak berhasil, permainan jadi tak seru karena langkahnya Ipin tertinggal – lebih lambat – dibandingkan temannya. Semakin Ipin mencoba, dia pun semakin tersiksa. Akhirnya Ipin menyerah. Ipin memutuskan berhenti bermain dan istirahat di saung pinggir lapangan. Ipin semakin sedih dan menyesal sambil melihat temannya bermain, kaki serta tongkatnya. 

^_^

Tak ada yang sempurna di dunia. Meskipun kita terlahir dalam keadaan fisik sempurna. Lengkap dengan segala tangan kaki yang berfungsi. Namun alam pula lah yang bicara. Seiring dengan waktu segalanya bisa berubah. Seperti Ipin yang terlahir sempurna dan biasa bermain mendadak terkena musibah sehingga tak bisa jalan. 

Wajar bila Ipin menyesal dan sedih. Dia seperti kehilangan kehidupan lamanya; bermain, berlari, yang kini tak dapat dilakukan lagi.Kini dia pun harus tergantung kepada orang lain. Setiap memandang temannya, Ipin hanya iri karena dia dulu merasa bisa namun sekarang tidak. 

^_^



Ipin  tak sendiri di dunia ini. Masih banyak yang senasib dengannya. Dimana merasa dirinya cacat (disable) tak sedari lahir. Sehingga agak sulit untuk beradaptasi dan menerima kondisinya. 

Kita tercipta oleh Sang Maha Penguasa Alam Semesta. Dan kita pun harus bersatu dengan alam. Kita harus mengikuti aturannya. Semua sudah di atur mengapa harus ada yang tinggal di darat, laut maupun di udara. Agar bumi ini bisa saling melengkapi. Semua sudah di atur sesuai kemampuannya. Tak mungkin kita memaksakan ikan tinggal di darat, atau ayam tinggal di laut. Sama saja dengan membunuh mereka. 

Semua sudah di atur sesuai scope-nya masing-masing. Meskipun kita sudah berusaha untuk mencoba, bila alam tak mengizinkan kita tetap saja tak akan bisa. Kita tak bisa memaksa diri sesuai kehendak agar kita sama dengan yang lain. Lihatlah Ipin  yang sudah mencoba berlari meskipun sudah dibantu tongkat tetap saja tak berhasil. Dan apabila terus dipaksakan, Ipin bisa saja akan celaka dan kaki yang masih sehat pun akan lumpuh pula. Ipin awalnya memaksa diri karena ambisi dan terobsesi oleh lingkup sekitar yang sempurna. Namun akhirnya dia pun sadar akan kondisinya.  Apakah Ipin menyerah? Tidak. Dia telah mencoba. Meskipun gagal. Setidaknya itu adalah jawaban memang dia tak bisa melakukannya. Seseorang dikatakan menyerah apabila belum mencoba sama sekali dan sudah putus asa. 

Lalu mengapa ada orang seperti Ipin? Yang mendadak mengalami tidak berfungsinya alat gerak tubuh namun tak sedari lahir, sehingga sulit beradaptasi?

Masih ingat metamorfosis sempurna yang di alami kupu-kupu? Semula ulat yang hidup di tanah dan berubah menjadi kupu-kupu yang bisa terbang. Semuanya adalah kehendak Sang Pencipta dan harus bersatu lagi dengan alam ciptaanNya. 

Begitu pula dengan Ipin, harus berupaya beradaptasi di alam mana dia harus berada. Tak akan mungkin seekor kupu-kupu merayap terus di atas daun. Dia harus belajar terbang,  mengelilingi bunga dan mengisap nektarnya. Banyak orang yang jijik akan ulat namun semua orang menyukai kupu-kupu. 

Mungkin saat ini Ipin menyesali keadaannya yang tak bisa berlari namun suatu hari dia akan menyadari justru itulah anugrah terindah yang pernah dia miliki. Sebagaimana kupu-kupu cantik yang mampu menyuburkan bunga dan menghiasi indahnya taman.

Setiap orang diberi kelebihan dan kekurangan. Kita mungkin tak bisa berjalan, tapi itu pasti karena kita bisa “terbang”😉

Actually, being disable is a gift. Trust me😊

And just like Ipin,  you’re not alone.  (arlin)

Jakarta, 1 April 2015

Shalat

Di awal tahun ada teguran teman yang membuatku tertegun dan speechless “Usia terus bertambah dan waktu terus berubah, apakah shalatmu masih begitu2 saja?”

Ku akui memang tak pernah lupa shalat, dari kecil sudah dibiasakan shalat bahkan sudah menjadi kebutuhan tapi yah terus terang setiap hari sama saja shalatnya. Bacaan setelah Al Fatihah hanya itu2 saja suratnya, masih sering menunda waktu shalat, masih mengabaikan suara adzan demi urusan duniawi, lebih senang shalat sendiri daripada berjamaah, jarang shalat sunnah, shalat tergesa-gesa, dan masih banyak lagi. Sementara usia terus dewasa namun shalatnya masih seperti anak kecil 7 tahun yang baru belajar shalat. 😶

Perbedaannya hanya satu ; dulu saat 7 tahun harus disuruh , sekarang kesadaran sendiri. Itu saja bedanya. 

Seiring bertambahnya usia kita di dunia, berarti semakin berkurang pula jatah hidup kita di dunia. Dimana maut semakin dekat. Dan shalatnya masih begitu2 saja? Dimana shalat adalah penolong kita di alam kubur nanti…..

Astaghfirullah…

Sebenarnya tidak sulit meningkatkan kualitas shalat. Entah kenapa godaannya begitu besar. Seperti bacaan setelah Al Fatihah, sudah hapal hampir semua surat juzamma, namun entah mengapa lidah spontanitas selalu keluar surat ‘qulhu’saja? 

Mencoba shalat tepat waktu pun tidak sulit. Tapi mungkin juga tidak mudah. Kala kita dewasa, biasanya kita cenderung terkejar oleh nafsu duniawi. Lebih mengutamakan pekerjaan daripada shalat, lebih mengutamakan menjawab telpon masuk daripada shalat, mengutamakan tayangan film daripada shalat, mengutamakan makan daripada shalat. 

Sebenarnya memang benar adanya bahwa barakah bagi yang menjalankan shalat tepat waktu. Setelah shalat, kita terasa tak ada lagi beban dan jauh lebih tenang menjalankan aktivitas. Waktu pun terasa lebih banyak. 

Namun ada saja godaannya, entah mengapa panggilan adzan tidak membuat kita berdebar dan langsung bersiap shalat dan berwudhu? Mengapa suara adzan kalah getarannya dengan suara telepon dari seseorang yang membuat kita berdebar dan bergegas mengangkatnya? Mengapa suara adzan kalah suaranya dengan suara atasan yang menyuruh kita menyusun laporan akhir tahun? Mengapa suara adzan tak sekeras suara perut yang lapar sehingga kita berprinsip ‘lebih baik makan ingat shalat daripada shalat ingat makan’?  Mengapa suara adzan kalah indahnya dengan mimpi dan bantal yang terus melelapkan kita di waktu subuh? 

Godaan itu mungkin masih belum seberapa….Masih ada lagi godaan lain saat shalat yang lebih berat dimana kita juga berdosa bila menentang atau meninggalkannya. Seperti ketika hendak shalat namun dipanggil ibu atau di suruh suami. Ketika adzan namun bayi menangis. Ketika memasuki waktu shalat harus menolong orang sakit. Lalu sebaiknya mana yang didahulukan? Allah Maha Tahu dan Maha Adil. Wallahualam. 

Setiap hari selalu saja ada usaha memperbaiki diri lebih baik, lebih sehat, lebih sukses dsb. Tapi lewat teguran teman tsb sepertinya ada yang terlewat. Lupa memperbaiki kualitas shalat hari demi hari, karena di rasa setiap hari sudah shalat. Sementara waktu maut semakin sempit untuk menjemput, jangan sampai shalatku dan orang2 di sekitarku terus begitu2 saja. Semoga tahun ini jauh lebih baik. Amin. (arlin)

-terima kasih kepada yg sdh mengingatkan….

Jakarta, 14 Maret 2015