Shalat

Di awal tahun ada teguran teman yang membuatku tertegun dan speechless “Usia terus bertambah dan waktu terus berubah, apakah shalatmu masih begitu2 saja?”

Ku akui memang tak pernah lupa shalat, dari kecil sudah dibiasakan shalat bahkan sudah menjadi kebutuhan tapi yah terus terang setiap hari sama saja shalatnya. Bacaan setelah Al Fatihah hanya itu2 saja suratnya, masih sering menunda waktu shalat, masih mengabaikan suara adzan demi urusan duniawi, lebih senang shalat sendiri daripada berjamaah, jarang shalat sunnah, shalat tergesa-gesa, dan masih banyak lagi. Sementara usia terus dewasa namun shalatnya masih seperti anak kecil 7 tahun yang baru belajar shalat. 😶

Perbedaannya hanya satu ; dulu saat 7 tahun harus disuruh , sekarang kesadaran sendiri. Itu saja bedanya. 

Seiring bertambahnya usia kita di dunia, berarti semakin berkurang pula jatah hidup kita di dunia. Dimana maut semakin dekat. Dan shalatnya masih begitu2 saja? Dimana shalat adalah penolong kita di alam kubur nanti…..

Astaghfirullah…

Sebenarnya tidak sulit meningkatkan kualitas shalat. Entah kenapa godaannya begitu besar. Seperti bacaan setelah Al Fatihah, sudah hapal hampir semua surat juzamma, namun entah mengapa lidah spontanitas selalu keluar surat ‘qulhu’saja? 

Mencoba shalat tepat waktu pun tidak sulit. Tapi mungkin juga tidak mudah. Kala kita dewasa, biasanya kita cenderung terkejar oleh nafsu duniawi. Lebih mengutamakan pekerjaan daripada shalat, lebih mengutamakan menjawab telpon masuk daripada shalat, mengutamakan tayangan film daripada shalat, mengutamakan makan daripada shalat. 

Sebenarnya memang benar adanya bahwa barakah bagi yang menjalankan shalat tepat waktu. Setelah shalat, kita terasa tak ada lagi beban dan jauh lebih tenang menjalankan aktivitas. Waktu pun terasa lebih banyak. 

Namun ada saja godaannya, entah mengapa panggilan adzan tidak membuat kita berdebar dan langsung bersiap shalat dan berwudhu? Mengapa suara adzan kalah getarannya dengan suara telepon dari seseorang yang membuat kita berdebar dan bergegas mengangkatnya? Mengapa suara adzan kalah suaranya dengan suara atasan yang menyuruh kita menyusun laporan akhir tahun? Mengapa suara adzan tak sekeras suara perut yang lapar sehingga kita berprinsip ‘lebih baik makan ingat shalat daripada shalat ingat makan’?  Mengapa suara adzan kalah indahnya dengan mimpi dan bantal yang terus melelapkan kita di waktu subuh? 

Godaan itu mungkin masih belum seberapa….Masih ada lagi godaan lain saat shalat yang lebih berat dimana kita juga berdosa bila menentang atau meninggalkannya. Seperti ketika hendak shalat namun dipanggil ibu atau di suruh suami. Ketika adzan namun bayi menangis. Ketika memasuki waktu shalat harus menolong orang sakit. Lalu sebaiknya mana yang didahulukan? Allah Maha Tahu dan Maha Adil. Wallahualam. 

Setiap hari selalu saja ada usaha memperbaiki diri lebih baik, lebih sehat, lebih sukses dsb. Tapi lewat teguran teman tsb sepertinya ada yang terlewat. Lupa memperbaiki kualitas shalat hari demi hari, karena di rasa setiap hari sudah shalat. Sementara waktu maut semakin sempit untuk menjemput, jangan sampai shalatku dan orang2 di sekitarku terus begitu2 saja. Semoga tahun ini jauh lebih baik. Amin. (arlin)

-terima kasih kepada yg sdh mengingatkan….

Jakarta, 14 Maret 2015

Cerita dari Jakarta (4)

Sebenarnya banjir tahunan di Jakarta adalah berkah bagi warga ibukota. Tak percaya?  Coba bayangkan, hal2 ini hanya terjadi di Jakarta saat ada banjir: 

  • Ada bonus tambahan cuti tanpa dipotong jatah cuti tahunan.
  • Atasan meminta anak buahnya agar pulang cepat.
  • Trus di kantor kita juga cuman leyeh-leyeh aja, lupa soal meeting dsb yang ada bahas soal lewat mana nanti jalan yang ga kebanjiran atau daerah mana yang ga kebanjiran, maklum lah banyak yang mendadak cuti saat itu. 
  • Anak sekolah pun mendadak libur. 
  • Saat jalan keluar untuk aktifitas bisa menikmati jalanan ibukota yang longgar – karena hampir semua orang enggan keluar- ,,kapan lagi Jakarta ga macet…? 

Semua orang seakan satu nasib, tak ada atasan atau bawahan, karena sama2 kebanjiran, jadi tak ada yang namanya arogansi karena jabatan. Bahkan istana saja kebanjiran 😄. Jadi, sebenarnya banjir tahunan di ibukota adalah nikmat yang sudah menjadi tradisi klasik dan sebaiknya jangan kita ingkari. Nikmati saja. Karena banjir hanyalah air, dan air adalah berkah bagi tiap orang. 

Bayangkan di negeri lain yang sengsara karena kekurangan air, sementara di kita air melimpah berlebih sampai meluap jauh ke seluruh jalan. Bayangkan bila suatu saat nanti – entah kapan – pemerintah berhasil menghilangkan banjir di Jakarta, mungkin….warga DKI akan kangen suasana momen kebanjiran yang tinggal kenangan. Kangen disuruh pulang cepat oleh atasan, kangen naik mobil merangkap water boom gratis sepanjang jalan…., bayangkan betapa tambah garingnya Jakarta bila tak ada banjir. Justru itu yang patut di banggakan😄

Daripada tak ada hentinya saling menyalahkan soal banjir yang tak akan ada habisnya dan kita juga lelah di buatnya. Rakyat menyalahkan pemerintah yang kerjanya ga becus, pemerintah menyalahkan rakyat yang buang sampah sembarangan. Daripada lelah saling menyalahkan, lebih baik nikmati saja keadaan.

Kapan lagi Jakarta yang identik dengan panas justru full of water? Kapan lagi semua warga Jakarta bisa punya kolam renang sendiri? Kapan lagi kita malamnya dapat email disuruh libur! – bukan lembur – dari kantor? Kapan lagi bisa komplit kumpul sekeluarga di hari kerja karena anak sekolah pun libur? Kapan lagi kita bisa silaturahmi dan bergotong royong dengan tetangga karena membersihkan jalanan yang banjir? Sungguh, banjir itu memang anugrah kan……..😉😅
Keep on positive thinking
…..
Segala sesuatu pasti ada hikmahnya…
Di balik musibah pun kita harus bisa bersyukur……(arlin)

 Jakarta, 27 Februari 2014

Saya Ingin Seperti Mereka

….dan ternyata mereka ingin seperti saya! 

Rakyat ingin seperti Presiden yang mempunyai kekuasaan. 
Namun Presiden ingin seperti rakyat yang mempunyai kebebasan.

Pembantu ingin seperti majikan yang setiap hari ikut arisan dan pergi ke mall.
Namun majikan ingin seperti pembantu yang hanya numpang tidur dan makan namun masih menerima gaji bulanan. 

Atasan ingin seperti bawahan yang tidak perlu bertanggung jawab apabila ada kesalahan. 
Namun bawahan ingin seperti atasan yang gajinya lebih besar. 

Karyawan ingin seperti direksi yang mempunyai posisi jabatan dan penghasilan tertinggi.
Namun direksi ingin seperti karyawan yang kerja apapun pasti dibayar tanpa takut terancam bangkrut perusahaannya.

Dan itulah manusia.  Manusia yang tak pernah puas diberi nikmat apapun.
Selalu membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

 “Rumput tetangga selalu lebih hijau”

…..kelihatannya (saja) lebih hijau…..kita tidak tahu di halaman tetangga apakah banyak semut merah, cacing atau tanah yang selalu kering. Kita hanya melihat “rumput”nya saja.
Kita selalu iri dengki akan kelebihan orang lain. Sehingga selalu berpikir bahwa dunia ini tidak adil. So what? Semua orang diberi beban dan cobaan menjalani hidup, hanya saja berbeda-beda jenis cobaannya. Setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kita selama ini hanya melirik “rumput” tetangga saja, tidak melihat “tanah” atau “pohon”nya. Itulah yang membuat kita dengki dan selalu ingin seperti orang lain.

Sebelum melihat rumput tetangga, sebaiknya kita lihat rumput kita sendiri. Setiap hari kita menyiram dan menyiangi rumput kita. Tetangga kita sebenarnya pun iri melihat hijaunya rumput di halaman kita. Lalu buat apa kita  merasa rumput tetangga lebih hijau, padahal tetangga kita pun tak mempunyai halaman yang ditumbuhi rumput sehelai pun ? 😄

(Arlin, 10/3/14)

Bahaya Lisan

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR Bukhari & Muslim)

Masih ingat akan perkataan Menkopulhukam dari kabinet yang baru beberapa waktu lalu yang langsung mendapat kecaman dari publik?
Beliau – sebagai pejabat – menyakiti perasaan rakyatnya sendiri akibat ucapan lisannya. Wajar bila rakyat marah.

Memang lidah tak bertulang. Tak butuh tenaga untuk menggerakkannya. Begitu ringannya lidah ini karena tak ada tulangnya. Sangat mudah lidah ini berucap. Huruf demi huruf. Kata per kata, tiap kalimat tanpa sadar keluar begitu saja dari lidah kita. Ribuan…jutaan kata keluar dari lidah setiap hari tanpa ada rasa pegal sedikit pun. Tiada sakit dari tiap kata yang diucapkan.

Namun sungguh mengerikan akan efek yang timbul dari ucapan yang keluar dari lidah kita. Dimana setiap kata akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat. Segala hal yang mudah di dapat akan menimbulkan risiko yang berat. Seperti kuman atau virus yang mudah didapat dan tersebar dimana2 namun dapat menimbulkan penyakit. Sangat mudah terjangkit namun efeknya sangat berat.

Lidah kita ada di dalam mulut. Mulut hanya satu, tapi ada dua telinga yang mendengar. Dan sekali terucap langsung di rekam dalam sel memori di otak yang mendengarnya dimana akan langsung tercatat sebagai rekorder yang tak bisa dihapus. Setelah terekam dalam sel memori akan diingat selamanya oleh si pendengar. Hanya dari ucapan 5 menit yang keluar dari lidah dan mulut kita namun diingat seumur hidup oleh yang mendengar.

Lidah memang setajam silet. Kecil namun

Baca lebih lanjut

Garing (2)

Sebenarnya garing adalah nikmat. Enak, renyah, crispy, mudah terdengar orang lain sehingga ikut merasakan kegaringannya. Dan segala sesuatu yang berkaitan dengan nikmat tak mudah untuk mendapatkannya. Namun jauh lebih sulit lagi untuk mempertahankannya. 😀

Untuk mendapatkan sesuatu yang garing, tak terlalu sulit …, kita hanya butuh minyak goreng dan api yang panas. Tunggu saja beberapa menit dan tercipta lah sesuatu yang garing, renyah, gurih dan bisa kita nikmati bersama. Namun ternyata hal itu tidak bisa bertahan lama dan sangat sulit untuk mempertahankannya. Untuk mempertahankan kegaringan diperlukan faktor lingkungan yang mendukung. Kebayang kan bila kerupuk di simpan di kolam ikan , yah pastinya akan langsung hilang seketika kegaringannya saat itu juga dan pastinya tak akan ada lagi kenikmatan saat makan kerupuk. 😄

Untuk mempertahankan garing diperlukan Baca lebih lanjut

Selamat Tahun Baru

Tahun lalu tlah berlalu

Setahun dengan impian & harapan

Dan akhirnya ku bebas dari serangan selama setahun…(akhirnya)

 Ibarat terbangun setelah tidur seribu tahun…

That’s never bothering me anymore…

^_^

Satu tahun telah terlewati. Mungkin ada yang harapannya tercapai atau kecewa. Dan segala harapan dimulai lagi saat tahun baru. Tahun baru identik dengan harapan baru. Sebuah harapan tahun ini jauh lebih baik daripada tahun lalu. Manusia memang penuh rencana dan harapan. Segala harapan dimulai dari diri sendiri dan kita sendiri yang akan berusaha agar bisa tercapai.

Untuk memenuhi harapan pasti perlu perubahan. Dan untuk setiap perubahan pasti butuh pengorbanan. Untuk berubah kita harus berani. Atau kalau perlu harus “nekat”. Siap akan segala risiko perubahan. Dan untuk berubah pun tak hanya sekedar niat, kita juga harus berani. Berani berkorban dan berani ‘nekat’.

Tak perlu terlalu muluk harapan selama satu tahun di tahun baru ini. Cukup harapan ringan saja dan yakin pasti akan bisa terwujud. Karena makin besar harapan makin besar pula perubahan yang harus dilakukan.  Dan tak mudah membuat sebuah perubahan besar yang terlalu mendadak dalam diri kita sendiri. Sebenarnya perubahan yang kecil saja sudah bisa membuat perubahan besar tanpa kita sadari.

Perubahan pada tahun baru tak perlu terlalu besar sehingga sulit dicapai. Cukup sebuah perubahan akan sesuatu yang lebih baik saja. Misalnya:

Baca lebih lanjut