Gosip

Makin digosok makin sip. Di Indonesia, sempat ada yang mempopulerkan gosip adalah singkatan dari kalimat tersebut. Tapi memang benar, yang namanya gosip yah makin digosok makin sip. Ibarat kita mencuci piring lalu makin giat kita menggosoknya maka makin kinclong pula piringya. Naah, buat gosip sendiri, makin digosok beritanya makin kinclong kan ceritanya :)

Istilah gosip ini sebenarnya sudah sangat mendunia. Di seluruh dunia pasti tahu kata “gossip” dan mempunyai makna yang sama di semua tempat. Kosa kata “gossip” justru pertama kali diperkenalkan di dunia oleh sastrawan Shaskeapeare dalam karyanya The Comedy of Errors pada abad ke 16. Dalam karyanya ini, Shaskeapeare memperkenalkan istilah gossip dalam percakapan kedua saudara yang akan meneruskan sebuah berita heboh, dan bentuk penyiaran berita dari mulut ke mulut ini dinamakan “gossip”. Pada zaman itu, masyarakat belum mengenal kata “gossip”, tapi berkat karya Shaskepeare tersebut istilah “gossip” langsung mendunia yang didefinisikan sebagai sebuah kabar yang tersiar dari mulut ke mulut dan biasanya dari percakapan ringan lalu semakin heboh beritanya.

Isi dari berita gosip biasanya Lanjut membaca

Perpisahan

Suatu saat kita pasti akan mengalami perpisahan. Setelah pertemuan pasti ada perpisahan. Perpisahan identik pula dengan kehilangan. Kehilangan berjumpa dengan seseorang yang pernah kita jumpai.

Namun kita cenderung menghargai perpisahan terbatas hanya dengan orang-orang terdekat dan kita cintai saja. Perpisahan bisa terjadi kapan saja, dimana saja dan kapan saja. Tak terbatas seperti perpisahan besar yang harus dirayakan misalnya perpisahan sekolah. Kita bertemu dengan pengamen di jalanan yang suaranya enak di dengar lalu setelah lampu hijau, kita tak bertemu lagi dan esoknya kita sengaja lewat jalan yang sama agar bertemu pengamen tsb, akan tetapi sang pengamen sudah tak pernah kelihatan lagi….dan kita pun merasa kehilangan….itu pun disebut perpisahan. Meskipun kita tak tahu siapa namanya, namun sang pengamen telah memberikan sebuah kenangan yang terekam dalam memori kita.

“Perpisahan” bisa diartikan sebagai berikut : dari kata dasarnya “pisah” yang merupakan lawan kata dari “temu”; berarti kita tak bertemu lagi dengan seseorang yang meninggalkan kenangan pribadi di memori kita, kita merasa kehilangan hal-hal yang sangat spesifik mengenai kebiasaan, jokes, masakannya ketika kita berpisah. Semua itu baru terasa ketika kita berpisah.

Perpisahan dengan orang-orang terdekat atau tercinta pasti jauh lebih terasa. Seperti sahabat, pacar, atau pasangan hidup. Adanya sikon ketidakcocokan yang tidak bisa ditolerir terpaksa membuat proses perpisahan yang berat seperti perceraian misalnya….yang dirasakan berat dan terpaksa memisahkan kedua keluarga.

Perpisahan Lanjut membaca

Hari Minggu

Hari Minggu adalah hari yang ditunggu. Setelah satu minggu orang bekerja, hari Minggu pasti paling dinanti setiap hari. Hari yang bebas kerja!!! Akhirnya datang juga hari MInggu….semua orang pasti suka akan kehadiran hari yang hanya muncul sekali dalam seminggu ini.

Namun karena hanya muncul dalam sekali, dan sudah dinanti-nanti kehadirannya sejak hari Seni, dst…..pasti banyak sekali rencana yang ingin dilakukan saat hari Minggu.

Apa yang di benak kita bila muncul hari MInggu besok? istirahat….sudah pasti, lalu kumpul dengan keluarga, silaturahmi dengan keluarga yang tinggal di luar kota, menghadiri undangan pernikahan, wisata kuliner, nonton bioskop atau konser musik atau nonton pertandingan bola, bisa juga ingin melaksanakan hobi yang selama ini tak terwujud karena sibuk dengan pekerjaan rutin seperti menjahit, memasak, bikin kue, olahraga, ngutak-ngatik mesin mobil, baca novel favorit, beres-beres rumah, atau ingin memanjakan diri seperti ke salon atau spa, potong rambut supaya hari Senin nanti tampak fresh dengan penampilan baru, atau bisa juga dengan niat santai di rumah seharian karena lelah bekerja…sengaja niat ingin nonton TV seharian di rumah atau baca komik.

Ternyata banyak sekali yah rencana yang ingin dilakukan di Hari Minggu? Hari Minggu jadi sangat padat dan terasa sedikit sekali waktunya dengan segudang rencana yang kita susun seminggu sebelumnya. dan waktunya sama seperti hari lainnya, hanya 24 jam. makanya sangat menyesal bila mengingat keesokannya suda hari Senin lagi. Hari Minggu identik dengan waktu santai dan bersama keluarga, sungguh sangat berharga waktu bersama keluarga…….sehingga rasanya sangat sedikit. Hari Minggu sungguh luar biasa. Makanya sangat sedih bila jatuh sakit di Hari Minggu karena banyak rencana yang kita lakukan. Hari Minggu terlalu berharga…namun juga terlalu pendek waktunya…karena terlalu banyak agenda acara…., makanya saya bisa menulis blog tentang Hari Minggu ini pun baru di hari Senin… :)

Kita tahu hari Minggu sangat berharga dengan rencana segudang acara,,,,namun tampaknya kita sendiri suka menyepelekan hari Minggu itu sendiri dengan bangun siang :) sengaja berlama-lama di kasur dan menarik selimut lagi meskipun hari cerah, otomatis banyak waktu yang terbuang padahal banyak yang ingin kita lakukan. Memang wajar sih orang cenderung bermalas-malasan di hari Minggu karena yah…memang hari libur, tapi bila tak ingin rugi waktu karena sudah mengatur acara tak ada salahnya menghirup udara segar di pagi hari di hari Minggu lalu masih ada untuk kesempatan beristirahat kembali di tengah hari :)

Selamat menikmati hari Minggu :)

Dosenku Tercinta

alm.Prof.Dr.dr.Zulkarnain Dahlan,SpPD-KP, dosen IPD, wafat tgl 11/4/2013, selamat jalan pahlawan...(foto diambil dari Denesse Rully)

alm.Prof.Dr.dr.Zulkarnain Dahlan,SpPD-KP, dosen IPD, wafat tgl 11/4/2013, selamat jalan pahlawan…(foto diambil dari Denesse Rully)


Apakah yang terbayang dari seorang dosen? Killer? Galak? Suka ngasih tugas..?
Pasti banyak hal-hal negatif yang terpikirkan bila disebutkan kata dosen. Memang ada juga dosen favorit. Yang baik hati, ramah, selalu ‘pemurah’ ngasih nilai, dicintai para mahasiswanya,,,tapi mayoritas dosen yang terbayang justru yang ‘serem-serem’ dan pastinya kita ga mau kalau ujian sama beliau.

Guru adalah pahlawan tanda jasa. Dosen adalah maha guru. Berarti dosen adalah maha pahlawan.
Berkat guru lah kita mendapat segala ilmu. Dan berkat dosen lah kita mendapat segala ilmu saat kita menginjak bangku kuliah. Bayangkan bila dosen tak memberi kita sejumlah tugas yang segunung sehingga kita tak bisa tidur, akankah kita tahu segala hal? Bila dosen tak memaksa kita untuk maju presentasi, akankah kita bisa berani tampil pede di depan massa saat ini? bila dosen tak memberi sejumlah kuis dan soal ujian yang sulit, akankah kita terlatih memecahkan masalah yang rumit saat kita kerja?

Ketika kita lulus kuliah, beragam karir kita tempuh…dengan segala modal yang kita dapat dari dosen kita. Kita meraih segala macam jabatan setelah bertahun-tahun lulus kuliah, transfer karir berkali-kali, naik gaji berlipat ganda, bayangkan ada yang jadi anggota DPR, direksi, manajer, public figure dan sebagainya. Sementara dosen kita tetap di bangku kuliah alias TETAP mengajar mahasiswa yang di bangku kuliah dengan gaji tetap seadanya seperti bertahun-tahun yang lalu saat beliau masih mengajar kita :(
Sungguh miris bukan…

Namun dosen tetap ikhlas jiwanya untuk memberikan ilmu kepada para mahasiswa. Mereka tetap ikhlas dengan gaji yang mereka terima. Mereka tidak pernah takut ilmu mereka akan hilang saat setiap hari dibagikan secara GRATIS kepada ratusan mahasiswanya. Mereka tetap ikhlas membagi waktunya untuk bimbingan mahasiswanya di tengah kesibukan keluarga. Mereka tetap tidak marah saat sibuk, telponnya kerap berdering karena mahasiswanya minta ujian susulan. Mereka tetap senyum menghadapi mahasiswa yang skripsinya asal-asalan. Mereka tak pernah bosan bertemu dengan mahasiswa abadinya.
Sungguh mulia dosen kita…..

Mengingat pula jasa para dosenku, mereka tak hanya memberikan ilmu kepadaku. Tapi mereka juga Lanjut membaca

Raksasa Dari Jogja

raksasa
“Adakah yang lebih indah dari menatap rintik hujan di Jogjakarta bersama seseorang yang selalu ada dalam tangis dan tawamu?” (Raksasa Dari Jogja_Dwitasari)

Meskipun buku ini novel remaja(teenlit) tapi tak ada salahnya juga dibaca untuk kaum dewasa. Buku ini sangat banyak mengajarkan tentang cinta. Bagi kaum remaja yang sedang di mabuk asmara, maupun bagi usia dewasa bisa mengenang kembali masa remaja mereka dan lebih menghargai tentang makna cinta sesungguhnya.

Novel ini menceritakan seorang gadis remaja bernama Bianca dimana keluarganya tak pernah mendidiknya akan cinta. Bianca belajar cinta hanya dari cerita-cerita fiksi yang dibacanya. Bianca mengira cinta hanyalah kisah fiktif. Sampai akhirnya dia kuliah di Jogjakarta dan bertemu dengan seorang pemuda gigantisme dan dari situlah dia belajar cinta secara riil.

Novel karya Dwitasari ini tak hanya menceritakan tenta cinta tapi juga bercerita banyak tentang latar belakang kota sesuai dengan judul bukunya. Kita seolah menjadi ikut terpesona akan keindahan kota Jogjakarta dari cerita yang disajikan Dwitasari ini dari novelnya. Makanya, gara-gara baca novel ini pun saya jadi makin banyak tahu tempat di kota Jogja dan ingin jalan-jalan ke sana.

Sebuah bacaan ringan yang dapat menemani waktu luang kita dan tak akan menyesal bila membaca buku ini. simple namun tersirat banyak makna di dalamnya. Tentang cinta. Dan tentang Jogja. :)

Judul Buku : Raksasa Dari Jogja
Penulis : Dwitasari
Penerbit : Plotpoint
Jumlah Halaman: 270
Harga buku : Rp. 47.000,-
Jenis Cerita : fiktif, roman,teenlit
(arlin, April 2013)

Cerita Lain KJS (Kartu Jakarta Sehat)

Akhir-akhir ini sedang ribut masalah program Kartu Jakarta Sehat(KJS) yang diluncurkan oleh gubernur DKI baru Jokowi. Banyak perbedaan pendapat dan salah paham mengenai masalah KJS ini. Entah soal pasien yang meninggal, dokter yang disalahkan, gubernur yang salah, Rumah Sakit yang salah, pelayanan yang salah ,ada juga yang bilang program yang salah.

Di luar keributan masalah KJS, saya akan menceritakan sisi lain dari penggunaan KJS ini. Masyarakat luas yang tidak menggunakan KJS mungkin hanya tahu masalah keributannya saja – yang heboh diberitakan di media massa. Tapi tidak tahu bagaimana KJS ini ternyata dinikmati oleh penggunanya. Penggunaan KJS ini ternyata sangat menguntungkan bagi warga Jakarta yang tidak mampu untuk berobat. Hal itu jelas menjadi tujuan utama Jokowi saat meluncurkan program ini.Cukup dengan menggunakan KJS atau fotokopi KTP, warga bisa berobat gratis ke Puskesmas atau Rumah Sakit yang menggunakan fasilitas KJS.

Tapi ternyata saking mudahnya berobat, tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun, ternyata ada salah seorang warga DKI yang jadi ‘gila’ berobat. Memang beliau adalah termasuk yang kurang mampu, dan senang mendapat fasilitas KJS. Hampir setiap hari Lanjut membaca

Uang Memang (Bukan) Segalanya

Benarkah uang bukan segalanya? Sepertinya yang berpikir demikian pastilah terlalu naif. Banyak orang berkata uang bukan segalanya.. masih ada cinta, keluarga, ibadah, dsb. Tapi dibalik semua itu hanyalah uang!

Bayangkan untuk yang namanya cinta, orang untuk membuktikan cintanya pun butuh uang. Kita pacaran buat nonton, makan bareng, ngasih coklat, nelpon, sms, semuanya butuh uang. Buat keluarga juga butuh uang; anak istri tiap hari pastinya butuh makan, belum lagi kebutuhan rumah tangga untuk bayar segala macam tagihan listrik dan urusan tetek bengek yang pastinya butuh uang. Ibadah memang kesannya simple, tapi dibalik itu kita butuh uang; untuk shalat kita butuh perangkat ibadah, buat naik haji butuh biaya besar, untuk zakat- infak – sedekah pun kita perlu dana, buat puasa kita butuh biaya untuk beli tajil, apalagi buat lebaran. Sebagai umat beragama kita disarankan agar dapat saling memberi dan bisa mencukupi kebutuhan primer keluarga kita. Dan dibalik semua itu yang berperan adalah uang.

Sejak zaman dahulu uang ditetapkan sebagai alat pembayaran yang sah. Dan untuk mendapatkan kebutuhan primer kita harus membayar. Kebutuhan primer seperti pakaian, makanan, tempat tinggal perlulah kita bayar dengan uang. Kalau tidak dibayar berarti kita maling. Selain kebutuhan primer, masih ada kebutuhan sekunder dan tertier seperti jalan-jalan alias hiburan. Dan pastinya juga butuh uang.

Dipikir…pikir memang benar uang ternyata segalanya. Kita semua butuh kerja, untuk cari uang. Bayangkan bila jadi pengangguran, pastinya ga happy deh, kita ga bisa jalan-jalan ke mall…(pastinya bete lihat-lihat aja tapi dalam hati yakin ga akan ada yang bisa terbeli), ga bisa makan enak di kafe, ga bisa jalan-jalan ke luar kota…dan kita ga mau kan jadi maling atau copet.

Tapi dibalik itu semua memang tergantung bagaimana sisi pikiran kita. Coba lihat, kita butuh apapun yang dibayar dengan uang tapi Lanjut membaca