Sehat

Setiap saat kita bertemu satu sama lain pasti ada sebuah greetings alias ucapan salam atau tegur sapa. Biasanya berbeda untuk tiap kultur, tergantung suku, ras, agama atau negara masing-masing. Namun ada sebuah teguran yang bermakna sama di setiap tempat apabila kita berjumpa dengan seseorang yang lama tak bertemu. :) dan biasanya diucapkan spontanitas.

^_^

Ketika saya bertemu dengan kawan di Bandung yang sudah lama tak bersua dengannya; kalimat pertama yang di ucapkan begitu melihatku adalah “Kumaha, damang?” (=bagaimana kabarnya, Sehat?)

Ternyata setelah lama saya tak berjumpa dengan kawan-kawan di Bandung, ketika ada kesempatan bertemu setelah sekian lama berpisah yang mereka tanyakan adalah kondisi kesehatan saya. Semua orang menanyakan hal serupa “Bagaimana kabarnya Lin? Sehat?” itu adalah kalimat pertama yang diucapkan. Tidak ada yang menanyakan “

Baca lebih lanjut

Minoritas – now and forever

Rasulullah SAW bersabda,” jadilah kalian orang yang sedikit”

Orang yang sedikit akan bertemu dengan yang sedikit pula. Seperti pada zaman Rasulullah, saat itu sedikit sekali yang mengikuti ajaran Rasulullah, yang mayoritas saat itu adalah golongan jahililiyah. Karena sedikitnya pengikut Rasulullah, maka ketika hijrah dari satu tempat ke tempat lain, para pengikut itu akhirnya bersatu walaupun sebelumnya mereka tidak mengenal satu sama lain.

Sampai sekarang masih banyak golongan yang dianggap sedikit oleh masyarakat luas. Mungkin pada negara-negara barat golongan ini bisa dianggap sebagai kaum minoritas; contohnya pada yang komunis dsb. Orang-orang yang sedikit ini memang mendapat anggapan ‘aneh’ dsb dari masyarakat karena pandangan atau pola hidup mereka yang berbeda dengan orang kebanyakan. Pada masyarakat kitapun akhir-akhir ini banyak diisukan adanya beberapa kaum minoritas antara lain : sekelompok orang yang pro atau pun kontra terhadap RUU, masyarakat yang mendukung diberi keringanan terhadap hukuman mantan presiden Soeharto, organisasi Islam Ahmadiyah, jamaah Islam yang shalat dengan bahasa Indonesia, para pengikut mbah Maridjan yang masih percaya hal mistik berkenaan dengan ancaman gunung Merapi,… dan masih banyak lagi segolongan orang yang tingkah lakunya membuat publik menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sebenarnya dari semua kaum minoritas tersebut, kita sungguh buta mana yang benar dan mana yang salah. Kita—mayoritas—dan mereka –minoritas – sama-sama manusia, bukan malaikat yang tanpa cela sama sekali. Kita semua hanya manusia yang tidak pernah lepas dari salah. Kita bukan Tuhan, tidak bisa menjudge orang sembarangan apakah ia benar atau salah.

Sayangnya, kita suka tidak bisa menerima begitu saja bila ada seseorang yang salah ataupun beda pendapat dengan kita. Sulit rasanya untuk memaafkannya, kita langsung complain atau menjauh atau langsung memusuhinya bila ada seseorang yang kurang ‘sreg’ kelakuan atau komentarnya. Rasanya sangat sulit untuk menerima keadaan orang itu. Dan tidak bisa sedikitpun untuk memaafkannya ataupun mengingat jasa yang telah dilakukannya.

Baca lebih lanjut

Menentukan Pilihan Presiden

jodohTanpa terasa seakan detik demi detik berlalu menanti pemilihan presiden tahun 2014 yang – mungkin – sepanjang sejarah negeri ini adalah Pemilu ter’panas’. Entah kenapa bisa sedemikian ‘panas’ pemilihan presiden tahun ini. Bayangkan begitu gencarnya para pendukungnya saling menjatuhkan lawan apakah itu di media massa seperti TV, atau media cetak apalagi di dunia maya. Dan begitu heboh pendukungnya membela dan mendewakan calon presidennya di berbagai media ketika aneka gossip dan fitnah menerpa jagoannya. Entah darimana segala isu itu berasal, apakah dari kubu lawan atau apakah ada pihak ketiga yang berusaha mengadu domba bangsa kita lagi?

Bila ada politik adu domba sebagaimana yang terjadi ketika kita dijajah Belanda, bisa diakui cara ini berhasil sukses oleh sang pihak ketiga.Pihak ketiga merasa menang ketika kedua kubu saling curiga ketiga ada berita miring dan jadi saling menuduh.

Parahnya lagi politik adu domba ternyata sangat ampuh bagi bangsa kita yang mudah sekali terhasut isu. Kita tanpa sadar terbawa lagi ke zaman nenek moyang kita dengan membawa nama capres sebagai perantara. Entah apa jadinya setelah pemilihan nanti? Makin pecahkah silaturahmi bangsa kita di bulan Ramadhan ini? Secara sebelum pemilihan pun sudah saling ribut karena beda pilihan dan makin keras kepala dengan pilihannya masing-masing, teman-temannya di sosmed pun saling berdebat, media massa pun tanpa sadar menjadi provokator dengan menjadi sumber ‘dewa’ berita dan langsung saja dipercaya. Media massa pun sudah memihak ke satu sisi tanpa netral.….. Sekedar mengingatkan, situasi kita sedang dimanfaatkan suatu pihak yang tertawa melihat kita emosi akan kesalahan kubu lawan dsb. Jadi….sebaiknya sudahi saja agar pihak ketiga pun berhenti tertawa.
Lalu kenapa semua ini bisa terjadi? Sekedar mencairkan suasana…saya bahas sedikit yah….kenapa Pilpres kali ini bisa ramai…

Pilihan Kita

Awalnya massa memang bingung dengan pilihan capres mana yang terbaik saat ini.
Masih bingung capres mana yang akan kita pilih dalam beberapa jam lagi? Baca lebih lanjut

Nikmat

20140703-123455-45295044.jpg

Di suatu gedung perkantoran, seseorang mengeluhkan pekerjaannya yang masih menumpuk tak kunjung selesai sementara waktu terus bergerak cepat menuju esok hari dimana dead line menanti.

Sementara di jalanan area Sudirman, Jakarta seorang wanita mengomel karena macet ditambah lagi jalanan yang semakin menyempit karena ada proyek MRT. Sudah 4 jam terjebak masih disitu saja, dan telah menghabiskan waktu untuk sarapan, dandan sampai selfie di mobil.

Lain lagi ketika di mall, seorang ibu mengomel karena gagal mendapatkan barang yang diincarnya dengan harga diskon.

Seorang pria lajang juga kesal karena lagi-lagi dia harus menonton film di bioskop seorang diri. Gadis cantik yang dikenalnya kemarin di kampus, lagi-lagi membatalkan acara kencan dengan alasan yang tak logis.

Sementara ada pula seorang karyawan yang mengomel karena gaji bulanannya lagi-lagi dipotong karena telat masuk kantor dan kinerjanya yang dinilai semakin menurun oleh atasan. Belum lagi nanti gajinya diminta oleh sang istri untuk uang belanja dan biaya sekolah anak-anak.
^_^
Beda cerita di kantor, di jalan, di mall atau di bioskop. Ada lagi cerita seorang Baca lebih lanjut

Hasil Pemilihan Presiden 2014

“Jika engkau mencintai, janganlah berlebihan seperti seorang anak kecil mencintai sesuatu. Dan, jika engkau membenci, janganlah berlebihan hingga engkau suka mencelakai sahabatmu dan membinasakannya.” (Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad)

Bagaimanakah nanti hasil pemilihan Presiden tahun ini yang tinggal menghitung hari? Dimana – mungkin – dalam sejarah pemilihan umum, kali ini adalah pemilihan Presiden yang paling seru di negeri kita. Presiden di pilih langsung oleh rakyat bukan untuk yang pertama kali, tapi bisa dikatakan momen saat ini mengalahkan demam piala dunia pada saat bersamaan. Dimana Presiden yang di pilih hanya dua, bisa dikatakan peluangnya pun fifty-fifty. Dimana – entah kenapa – rakyat seakan benar-benar mencintai calon Presiden pilihannya sampai membelanya mati-matian. Dimana kabar buruk tentang masing-masing calon Presidennya bersliweran di mana-mana.

Lalu bagaimanakah hasil pemilihan Presiden nanti?

Baca lebih lanjut

Silaturahmi ke Kota Bandung

Minggu lalu, saat lagi “panen” tanggal merah di kalender, saya berkunjung ke kota Bandung. Niatnya memang silaturahmi. Tidak berpikir untuk ‘selfie-selfie an’ atau wisata kuliner atau shopping. Hanya sekedar berkunjung atau silaturahmi saja. Sehingga tidak mengunjungi objek pariwisata atau wisata kuliner yang ada di sana. Hanya mengunjungi beberapa tempat yang mempunyai nilai ‘sentimentil’ dan bersejarah buat saya pribadi.

Niatnya memang untuk silaturahmi sebelum memasuki bulan Ramadhan, ingin bertemu dengan rekan-rekan di kota Bandung dimana saya pribadi banyak mempunyai hutang budi dan…mungkin hutang nyawa kepada mereka. Duuh, lebay banget ga sih, tapi yah kenyataannya memang seperti itu, karena lebih dari 10 tahun di Bandung setelah lewat dari fase remaja alias dewasa, pastinya banyak yang memberiku atensi dan membuatku bisa bertahan sekian lama. 😊

Tempat yang dikunjungi

Baca lebih lanjut

Catatan Kaki

“Surga di bawah telapak kaki ibu”

Ada sebuah catatan lain di Jakarta, tapi tak akan bercerita mengenai Jakarta. Sebuah catatan hampir setahun aku menginjak tanah ibukota. Tapi terus terang tak banyak yang bisa kuceritakan tentang Jakarta. Sebagian besar waktuku dihabiskan di rumah, sesuai amanah saat aku pamit dari Bandung untuk mengurus orang tua di Jakarta. Dan terus terang saja, kuakui …..aku merasa ‘mati gaya’ di Jakarta! Hampir jarang aku rasakan apa yang sering diperbincangkan orang mengenai kota metropolitan ini…., sangat jarang aku terjebak dalam kemacetan apalagi nongkrong di kafe atau bioskop. Seakan aku berada di desa, menghabiskan waktu di dapur, menyuguhkan hidangan bagi keluarga, tidak layaknya seperti yang dilakukan seorang gadis metropolitan 😀

Baca lebih lanjut