“Mbak…”

“Mbak” adalah panggilan untuk kakak perempuan di Jawa. Selain bagi kakak, sebutan “mbak” juga ditujukan bagi perempuan yang dianggap paling tua alias paling dihormati dalam keluarga.

“Mbak” bisa juga panggilan bagi seorang perempuan yang dianggap senior, bisa kakak kelas atau di kampus atau di lingkup kerja.

Meskipun panggilan “mbak” merupakan bahasa Jawa, namun sepertinya panggilan ini sudah menjadi panggilan umum bagi panggilan perempuan di Indonesia. Bila kita memanggil seorang perempuan yang belum diketahui namanya di tempat umum, biasanya kita memanggilnya “mbak”. Meskipun yang kita panggil bukanlah perempuan Jawa.

Panggilan “mbak” juga identik dengan panggilan pembantu rumah tangga. Karena biasanya mereka berasal dari Jawa, sehingga selalu dipanggil “mbak.”

Di Indonesia memang masih tabu memanggil seseorang hanya dengan nama. Budaya negri ini masih menjunjung kesantunan sangat tinggi yang diwariskan nenek moyang kita. Untuk memanggil orang tua kita patut memanggilnya “bapak” atau “ibu” dan sejenisnya. Berbeda dengan di negara barat, yang bisa memanggil orang tua hanya dengan memanggil namanya saja. Panggilan pada setiap orang ada “gelar” tertentu tergantung dari tingkatan dalam keluarga, usia, atau untuk menghormati seseorang. Terutama dalam suku Jawa, meskipun seseorang yang lebih muda, kita tetap memanggilnya dengan sebutan “dik” atau “nduk”, sebagai ungkapan bila kita menyayanginya. Sedangkan panggilan “mas” atau “mbak” meskipun yang kita panggil bukanlah kakak kandung, merupakan sebuah tanda bahwa kita menghormati orang yang kita panggil.

Memanggil seseorang hanya dengan sebutan nama biasanya berlaku buat teman-teman seusia, teman main, teman sekelas dsb. Sekarang masyarakat kita sudah lebih toleran bila ada yang tidak memanggil “kak” atau “mbak” selama yang bersangkutan tidak keberatan.

^_^

Saya sendiri

Baca lebih lanjut

Pasien

“…dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al Anfal:46)

pasien

Pasien adalah julukan bagi seseorang yang berobat ke dokter alias orang yang sakit. Kosa kata ini serapan dari bahasa asing, entah dari bahasa apa asal mulanya – mungkin dari bahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris disebut patient, dibakukan dalam bahasa Indonesia menjadi pasien. Patient dalam bahasa Inggris juga berarti sabar. Sepertinya  memang ada korelasinya istilah ‘patient’ bagi orang sakit, karena memang pada dasarnya orang sakit haruslah sabar (patient). Mungkin inilah yang menjadi pertimbangan diksi yang tepat bagi orang yang berobat.

Kita semua tahu bahwa sakit adalah kebalikan dari sehat. Sehat dimana seseorang sempurna jasmani dan rohani sehingga sanggup melakukan aktivitas dan segala keinginan tanpa keterbatasan apapun. Sangat berbeda dengan seseorang yang sakit, dimana segala aktivitas terhambat karena penyakit yang dimilikinya. Sakit adalah suatu musibah yang tidak ingin dialami siapa pun. Sakit adalah suatu bentuk ujian dari Yang Maha Kuasa dalam menjalani kehidupan duniawi, sebagaimana yang dialami nabi Ayub as. Suatu ujian apakah kita sanggup menjalankan masa sakit tersebut, karena kita berada di luar mayoritas orang-orang pada umumnya, karena kita tak mampu menjalankan keinginan sesuai hasrat kita, karena segala aktivitas kita jadi terhambat dsb.

“Allah tidak akan pernah menurunkan sebuah penyakit, kecuali Dia juga menurunkan bersamanya obat. Obat itu bisa diketahui oleh orang yang mengerti penyakit tersebut atau tidak bisa diketahui oleh  orang yang tidak mengerti penyakit tsb”

Setiap penyakit pasti ada obatnya. Dan obat utama bagi setiap penyakit hanyalah satu yaitu :
SABAR…,maka dari itu seseorang yang berobat dinamakan pasien (patient) karena mereka mereka memang dituntut untuk sabar (patient).

Seseorang yang sakit harus sabar ketika pertama kali mendapatkan gejala penyakitnya. Sabar ketika harus berjalan untuk berobat. Sabar ketika masih harus menunggu antrian di ruang tunggu untuk berobat ke dokter. Sabar ketika diperiksa dokter. Sabar ketika mendengar diagnosa penyakitnya dari dokter. Sabar ketika membayar biaya berobat. Sabar ketika harus Baca lebih lanjut

Sosial Media

IMG_0741-0.JPG
Sosial media (social media,social network,jejaring sosial) adalah salah satu sarana (media) untuk menjalin komunikasi antar teman meskipun tidak saling tatap muka melalui fasilitas internet agar dapat memperluas silaturahmi satu sama lain di seluruh dunia. Kita tetap dapat bersosialisasi dengan teman-teman di seluruh pelosok negeri bahkan di negeri sebrang hanya dengan fasilitas gadget dan mengandalkan jaringan komunikasi internet. Dan pastinya komunikasi dengan teman lama juga dapat tetap terjalin meskipun terpisah oleh jarak, dan biasanya tanpa kita sadari bahwa ternyata kita mempunyai sangat banyak teman lama selama ini karena begitu kita buka akun salah satu sosial media ternyata banyak teman kita yang menerima kita sebagai ‘teman’ di dalamnya. 😄

Jenis sosial media sangat banyak. Dulu, kira2 tahun 2000 awal yang dikenal adalah Friendster. Sebelumnya, kira2 tahun 1990-an mungkin sebatas YM alias Yahoo Messenger yang kita kenal…..rasanya dulu sudah ‘happening’ banget bisa YM-an sama teman2 atau pacar yang kuliah di luar negeri, tanpa mahal2 telpon atau surat-suratan yang pasti lama menunggu balasannya. Hanya saja pertemanan YM terbatas untuk beberapa orang saja – dan hanya untuk chatting alias percakapan 2 orang. Lalu muncul Friendster yang bisa lebih banyak mengenal teman di mana saja. Namun Friendster juga terbatas aplikasinya, dan perlahan mulai ‘punah’. Sekitar 2005 dikenal facebook, dan kira2 3-4 tahun kemudian mulai ‘booming’ dunia ini dengan Facebook. Jaringan pertemanan di Facebook sangat banyak, dan sangat multifungsi, kita bisa posting foto pribadi, tulisan, link; ibarat ‘buku harian’ namun bisa di publish dan dilihat oleh semua orang. Sampai sekarang, Facebook masih bertahan dan hampir semua orang di dunia punya akun Facebook, fungsinya pun mulai bergeser, awalnya sekedar menjalin silaturahmi namun kini mempunyai fungsi bisnis dan politik.😄

Selain Facebook, sosial media

Baca lebih lanjut

Sehat

Setiap saat kita bertemu satu sama lain pasti ada sebuah greetings alias ucapan salam atau tegur sapa. Biasanya berbeda untuk tiap kultur, tergantung suku, ras, agama atau negara masing-masing. Namun ada sebuah teguran yang bermakna sama di setiap tempat apabila kita berjumpa dengan seseorang yang lama tak bertemu. :) dan biasanya diucapkan spontanitas.

^_^

Ketika saya bertemu dengan kawan di Bandung yang sudah lama tak bersua dengannya; kalimat pertama yang di ucapkan begitu melihatku adalah “Kumaha, damang?” (=bagaimana kabarnya, Sehat?)

Ternyata setelah lama saya tak berjumpa dengan kawan-kawan di Bandung, ketika ada kesempatan bertemu setelah sekian lama berpisah yang mereka tanyakan adalah kondisi kesehatan saya. Semua orang menanyakan hal serupa “Bagaimana kabarnya Lin? Sehat?” itu adalah kalimat pertama yang diucapkan. Tidak ada yang menanyakan “

Baca lebih lanjut

Minoritas – now and forever

Rasulullah SAW bersabda,” jadilah kalian orang yang sedikit”

Orang yang sedikit akan bertemu dengan yang sedikit pula. Seperti pada zaman Rasulullah, saat itu sedikit sekali yang mengikuti ajaran Rasulullah, yang mayoritas saat itu adalah golongan jahililiyah. Karena sedikitnya pengikut Rasulullah, maka ketika hijrah dari satu tempat ke tempat lain, para pengikut itu akhirnya bersatu walaupun sebelumnya mereka tidak mengenal satu sama lain.

Sampai sekarang masih banyak golongan yang dianggap sedikit oleh masyarakat luas. Mungkin pada negara-negara barat golongan ini bisa dianggap sebagai kaum minoritas; contohnya pada yang komunis dsb. Orang-orang yang sedikit ini memang mendapat anggapan ‘aneh’ dsb dari masyarakat karena pandangan atau pola hidup mereka yang berbeda dengan orang kebanyakan. Pada masyarakat kitapun akhir-akhir ini banyak diisukan adanya beberapa kaum minoritas antara lain : sekelompok orang yang pro atau pun kontra terhadap RUU, masyarakat yang mendukung diberi keringanan terhadap hukuman mantan presiden Soeharto, organisasi Islam Ahmadiyah, jamaah Islam yang shalat dengan bahasa Indonesia, para pengikut mbah Maridjan yang masih percaya hal mistik berkenaan dengan ancaman gunung Merapi,… dan masih banyak lagi segolongan orang yang tingkah lakunya membuat publik menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sebenarnya dari semua kaum minoritas tersebut, kita sungguh buta mana yang benar dan mana yang salah. Kita—mayoritas—dan mereka –minoritas – sama-sama manusia, bukan malaikat yang tanpa cela sama sekali. Kita semua hanya manusia yang tidak pernah lepas dari salah. Kita bukan Tuhan, tidak bisa menjudge orang sembarangan apakah ia benar atau salah.

Sayangnya, kita suka tidak bisa menerima begitu saja bila ada seseorang yang salah ataupun beda pendapat dengan kita. Sulit rasanya untuk memaafkannya, kita langsung complain atau menjauh atau langsung memusuhinya bila ada seseorang yang kurang ‘sreg’ kelakuan atau komentarnya. Rasanya sangat sulit untuk menerima keadaan orang itu. Dan tidak bisa sedikitpun untuk memaafkannya ataupun mengingat jasa yang telah dilakukannya.

Baca lebih lanjut

Menentukan Pilihan Presiden

jodohTanpa terasa seakan detik demi detik berlalu menanti pemilihan presiden tahun 2014 yang – mungkin – sepanjang sejarah negeri ini adalah Pemilu ter’panas’. Entah kenapa bisa sedemikian ‘panas’ pemilihan presiden tahun ini. Bayangkan begitu gencarnya para pendukungnya saling menjatuhkan lawan apakah itu di media massa seperti TV, atau media cetak apalagi di dunia maya. Dan begitu heboh pendukungnya membela dan mendewakan calon presidennya di berbagai media ketika aneka gossip dan fitnah menerpa jagoannya. Entah darimana segala isu itu berasal, apakah dari kubu lawan atau apakah ada pihak ketiga yang berusaha mengadu domba bangsa kita lagi?

Bila ada politik adu domba sebagaimana yang terjadi ketika kita dijajah Belanda, bisa diakui cara ini berhasil sukses oleh sang pihak ketiga.Pihak ketiga merasa menang ketika kedua kubu saling curiga ketiga ada berita miring dan jadi saling menuduh.

Parahnya lagi politik adu domba ternyata sangat ampuh bagi bangsa kita yang mudah sekali terhasut isu. Kita tanpa sadar terbawa lagi ke zaman nenek moyang kita dengan membawa nama capres sebagai perantara. Entah apa jadinya setelah pemilihan nanti? Makin pecahkah silaturahmi bangsa kita di bulan Ramadhan ini? Secara sebelum pemilihan pun sudah saling ribut karena beda pilihan dan makin keras kepala dengan pilihannya masing-masing, teman-temannya di sosmed pun saling berdebat, media massa pun tanpa sadar menjadi provokator dengan menjadi sumber ‘dewa’ berita dan langsung saja dipercaya. Media massa pun sudah memihak ke satu sisi tanpa netral.….. Sekedar mengingatkan, situasi kita sedang dimanfaatkan suatu pihak yang tertawa melihat kita emosi akan kesalahan kubu lawan dsb. Jadi….sebaiknya sudahi saja agar pihak ketiga pun berhenti tertawa.
Lalu kenapa semua ini bisa terjadi? Sekedar mencairkan suasana…saya bahas sedikit yah….kenapa Pilpres kali ini bisa ramai…

Pilihan Kita

Awalnya massa memang bingung dengan pilihan capres mana yang terbaik saat ini.
Masih bingung capres mana yang akan kita pilih dalam beberapa jam lagi? Baca lebih lanjut

Nikmat

20140703-123455-45295044.jpg

Di suatu gedung perkantoran, seseorang mengeluhkan pekerjaannya yang masih menumpuk tak kunjung selesai sementara waktu terus bergerak cepat menuju esok hari dimana dead line menanti.

Sementara di jalanan area Sudirman, Jakarta seorang wanita mengomel karena macet ditambah lagi jalanan yang semakin menyempit karena ada proyek MRT. Sudah 4 jam terjebak masih disitu saja, dan telah menghabiskan waktu untuk sarapan, dandan sampai selfie di mobil.

Lain lagi ketika di mall, seorang ibu mengomel karena gagal mendapatkan barang yang diincarnya dengan harga diskon.

Seorang pria lajang juga kesal karena lagi-lagi dia harus menonton film di bioskop seorang diri. Gadis cantik yang dikenalnya kemarin di kampus, lagi-lagi membatalkan acara kencan dengan alasan yang tak logis.

Sementara ada pula seorang karyawan yang mengomel karena gaji bulanannya lagi-lagi dipotong karena telat masuk kantor dan kinerjanya yang dinilai semakin menurun oleh atasan. Belum lagi nanti gajinya diminta oleh sang istri untuk uang belanja dan biaya sekolah anak-anak.
^_^
Beda cerita di kantor, di jalan, di mall atau di bioskop. Ada lagi cerita seorang Baca lebih lanjut