Roller Coaster

Roller-Coaster

Life is just like roller coaster

Sometimes up, sometimes down

Don’t  give up if you’re down

And don’t be arrogant if you’re in the top.

Because life just like roller coaster.

Always circling up and down

^_^

Semua pasti tahu roller coaster kan? Sebuah wahana permainan yang paling eye catching di taman hiburan atau Dufan dan pastinya menjadi incaran anak-anak untuk menaikinya.

Setiap hari kita pun ‘menaiki’ roller coaster. Selalu saja ada masa kita ada merasa sukses alias berada di atas, atau ada di bawah saat mengalami kegagalan. Namun semuanya terjadi begitu saja tanpa kita sadari, begitu cepat, kadang sangat mendadak yang bisa membuat kita ‘kaget’. Sama seperti kita naik roller coaster. Begitu cepat.

Saat kita naik roller coaster, Baca lebih lanjut

Nyinyir

Sepertinya banyak yang menggunakan kata ini namun tak paham artinya. Sebenarnya sudah pernah terdengar juga dalam percakapan sehari-hari, hanya jarang,  dan kata ini  tak pernah diajarkan oleh guru bahasa Indonesia. Kata tersebut adalah “nyinyir”. Sekilas banyak yang mengartikan “nyinyir”  sama dengan sinis, dengki, atau lebih tepatnya menyindir.

Pemahamannya ke arah konotasi negatif alias sesuatu yang berarti antagonis seperti menjelekkan atau mencerca. Dicoba lihat ke kamus Jus Badudu, ternyata tidak ada kosa kata tersebut. Berarti ini asli bahasa Indonesia, bukan bahasa serapan asing atau bisa jadi kata ini memang dari bahasa daerah atau nenek moyang kita yang bahasa sudah dari lahir dimana kamus Jus Badudu memang isinya kata bahasa Indonesia yang dibakukan dari serapan bahasa asing atau sebelumnya tidak dikenal zaman nenek moyang kita. Mencoba di cari di kamus WJS Poerwadarminta, ternyata…tidak ada juga…kamusnya! Haha …alias hilang atau lupa disimpan dimana kamus yang tebal dan sudah lama itu. Akhirnya, penasaran buka juga KBBI on line, akhirnya ketemu juga artinya . Masih penasaran juga, sekedar cross check, maka sengaja ke toko buku sekedar numpang baca buku KBBI dan beberapa kamus bahasa Indonesia lainnya. Lalu, sengaja bertanya juga kepada orang-orang lama (baca:lanjut usia) yang ternyata lebih ‘kaya’ akan makna kata dari bahasa sendiri. Dan ternyata, nyinyir berarti : Baca lebih lanjut

Sebuah Kisah Tentang Sabar

Dan Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al Baqarah : 249)

Ada sebuah cerita, boleh percaya atau tidak. Tapi cerita ini bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Sebuah kisah tentang seseorang yang diberi ujian sakit hingga menjadi pasien selama bertahun-tahun, usaha berobat tetap ada tapi tak kunjung sembuh sehingga akhirnya emosi yang menguasai dirinya. Timbul amarah, sedih dan segala penyesalan atas penyakit yang dideritanya, belum lagi cacian atau hinaan orang lain karena Baca lebih lanjut

Harga BBM Naik (Lagi!)

Harga BBM katanya naik lagi tahun ini. Lho memang sebelumnya sudah pernah naik? Yah sudah lah….sudah sekian kali tak terhitung berapa kali. Jadi tak aneh harga BBM naik, kita tak perlu terlalu syok karena sudah pernah mengalami.

Sementara harga BBM sudah move on, namun rakyatnya juga belum move on. Sementara gaji juga belum move on, gimana rakyat mau move on? :)  Yah wajar lah rakyat marah harga BBM naik, pastinya nanti harga sembako, tarif transport dll pastinya juga naik.

Harga BBM tahun ini, naik Rp.2000 hari Selasa kemarin (18/11). Diumumkan oleh Presiden Jokowi hari senin malam. Responnya beragam. Ada yang bilang tak masalah harga BBM naik, ada yang langsung kritik, ada yang demo, ada yang mogok, ada juga yang masih belum tahu juga apa itu artinya BBM.  :D

Terus terang yang paling parah adalah Baca lebih lanjut

Yang Penting… :”Happy”!

Kesannya seperti slogan iklan, tapi memang begitu kan tujuan kita setiap hari? Apapun yang terjadi…. yang penting happy alias bahagia.
Kita ingin bahagia. Apapun yang terjadi kita harus tetap bahagia. Yang penting happy. Percuma kita mempunyai mobil mewah, uang banyak, pekerjaan yang bergengsi, jabatan tinggi, gaji besar, pendidikan tinggi, badan sehat tak kurang suatu apapun, istri cantik, dsb namun kita tidak bahagia. Bayangkan, itu berarti kita sama saja kita hidup di zaman perang dunia. Meskipun kita orang kaya dan memiliki segalanya, namun kita tak dapat menikmati hidup; dimana kita senantiasa bersedih dan dikepung dalam kemurungan.

Apakah sebenarnya bahagia?
Dimana kita bisa tersenyum, tertawa, berpikir positif; sama sekali jauh dari rasa sedih, duka, marah ataupun dendam.
Bahagia adalah kita dapat merasa senang dimana pun dan kapan pun kita berada. Banyak cara agar seseorang bahagia, dengan berlibur, menonton acara hiburan atau makan makanan yang enak.
Sebenarnya tak perlu sulit dan banyak biaya agar kita bahagia.
Bahagia yang terbaik adalah saat kita merasa tanpa beban seberat apapun tuntutan rutinitas sehari-hari. Yang penting happy kan?😄

Bahagia itu sangat sederhana. Kita cukup syukuri saja keadaaan kita apa adanya dan tidak membandingkan keadaan kita dengan orang lain. Ingat, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Apa yang dimiliki orang lain selalu terkesan lebih indah, dan bila kita membandingkan diri sendiri dengan orang lain kita tak akan pernah merasa bahagia karena selalu menuntut diri sendiri.
Kita baru gajian, tapi sedih ketika mengintip transkrip gaji rekan kita jauh lebih tinggi ; kita baru beli mobil Avanza tapi sakit hati lihat tetangga sudah punya Alphard, kita baru menikah tapi bete melihat teman kita pasangannya lebih ganteng, kita sudah punya rumah tapi ngenes lihat saudara kita rumahnya jauh lebih besar, kita baru beli smartphone tapi kecewa melihat teman kita beli iphone 6. Yaaah, kapan mau bahagianya bila terus seperti itu? Kita tak pernah bersyukur akan nikmat diri sendiri dan terus terang biasanya orang yang seperti itu adalah yang sifatnya suka sinis alias sirik. 😀

So, stop bandingkan diri kita dengan orang lain. Syukuri saja apa adanya. Terima saja gaji bulan ini, toh masih banyak orang yang belum gajian, masih syukur kita bisa makan. Tak masalah kita naik angkot meskipun teman naik mobil pribadi, toh yang penting selamat sampai tujuan. Tak mengapa rumah masih sempit, setidaknya ada tempat berlindung. Tak apa hanya ponsel biasa, setidaknya sinyalnya bagus dst…..syukuri saja dan nikmati saja hidup ini…dan yang penting : happy!(arlin, 19/11/14)

Emosi

Masih ingat beberapa waktu lalu sempat ada trending topic dengan hashtag ‘shame on you’ lalu seminggu lagi berubah menjadi ‘thank you’ dan lucunya ditujukan kepada orang yang sama.
Tak perlu diperdebatkan siapa yang membuat hashtag tsb, tapi bukankah memang begitu kan kita dalam keadaan sehari-hari? Hari ini ‘I hate you’ lalu besok jadi ‘I love you’…hari ini mengatakan ‘aku benci kamu’ besok berkata ‘aku rindu kamu’, hari ini mengatakan ‘kamu jelek’ besok jadi ‘kamu cantik’, hari ini ‘aku muak melihat wajahmu’ besoknya ‘aku rindu kamu’, hari ini kita buang semua foto seseorang lalu besoknya kita merasa kehilangan dan terpaksa kita pandang profile picturenya di sosial media tanpa bosan, hari ini mengatakan ‘don’t call me again’ besok ‘please call me’.

Kesannya seperti munafik bila mendengar seseorang mengatakan ‘I hate you’ lalu esoknya menjadi ‘I love you’..terkesan plin-plan dsb. Tapi memang begitu kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari. Why? Setiap hari ada kalanya kita merasa jenuh, stress yang dipicu oleh masalah pekerjaan, rutinitas lainnya ada kalanya yang menjadi sasaran emosi biasanya adalah orang-orang di sekitar kita, dan bukannya tidak mungkin yang awalnya kena dampak adalah orang-orang terdekat tempat kita biasa berbagi yang selalu kita temui seperti keluarga, teman, pacar, sahabat dsb.
Adanya stress karena rutinitas dsb dapat memicu emosi pribadi, dan tak heran kita suka marah atau kesal kepada pacar atau sahabat karena masalah sepele. Ketika emosi memuncak dan menguasai diri, biasanya hilang sudah kesabaran dan toleransi sehingga timbul kata2 kasar di luar kesadaran kita atau bahkan putusnya silaturahmi. Dan hal inilah yang membuat terucapnya kalimat ‘shame on you’, ‘I hate you’ atau ‘don’t call me’

Ibarat gunung, dimana setelah mencapai puncak bukit lalu menurun lagi. Begitu pula emosi manusia. Emosi kita yang sudah memuncak kala membenci seseorang lalu bisa turun kembali…dan muncul sebuah penyesalan. Kita baru menyadari bahwa orang yang kita sempat benci dsb adalah orang yang kita cintai ketika merasa kehilangan.
Sebuah makna berharga dari perpisahan adalah kita baru sadar bahwa selama ini kita mencintai sesuatu atau seseorang ketika kita merasa kehilangan. Kita merasa panik bila tas kita hilang padahal selama setiap hari kita lihat selalu bosan melihatnya. Kita menjerit ketika kacamata kita pecah padahal kita selalu ingin menggantinya dengan contact lens. Kita menangis ketika berpisah dengan seseorang padahal setiap hari kita bertengkar dengannya.
Kita merasa kehilangan dengan seseorang yang setiap hari biasa kita cela, kita kritik, dsb. Dan hari ini tak pernah bertemu lagi baru disadari bahwa dia lah yang terbaik saat tak berjumpa kembali. Maka, bukanlah hal yang munafik bila hari ini ‘I hate you’ lalu jadi ‘I love you’ atau hari ini benci besok rindu.

Bila pernah mengalami, ini adalah hal yang lumrah dan manusiawi. Nikmati saja. That’s life. (arlin,18/11/14)

Tenggelamnya Kapal Van der Wijk

Ketika melihat judul roman ini – terutama setelah filmnya launching – banyak yang salah paham akan isi cerita roman ini. Banyak yang mengira bahwa isi ceritanya mirip dengan kisah klasik alias film “Titanic”. Apalagi saat filmya ditayangkan, yang menjadi cover filmnya adalah gambar kapal :)

Don’t judge the book by its cover. And it’s true. Cerita tentang kapal Van der Wijk-nya hanyalah sepenggalan kisah saja dari seluruh kisah roman yang menakjubkan ini. Intisari dari roman ini adalah tentang adat minangkabau yang ternyata dapat menghalangi kisah cinta dua pasang pemuda yang sedang di mabuk asmara.

Buku ini merupakan karya sastra dari sastrawan dan tokoh agama di Indonesia, Hamka alias Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Cerita roman berlatar belakang Sumatra Barat menceritakan tentang adat minangkabau. Roman ini ditulis oleh Hamka sekitar tahun 1940-an namun ceritanya bisa bertahan sepanjang zaman karena makna yang dikandungnya.

Diceritakan bahwa adat minangkabau merupakan matrilineal alias dominan ibu. Kaum hawa merupakan yang “berpengaruh” di ranah minang. Dan itu sudah membudaya secara turun temurun. Sangat berbeda dengan budaya adat lain yang ada di negeri ini dimana yang mendominasi adalah kaum Adam. Saat itu budaya adat masing-masing suku masih kental, dan belum toleransi dengan suku lain seperti sekarang. Namun ternyata berakibat fatal ketika dua orang dari adat yang berbeda hendak menikah.

Dikisahkan seorang pemuda bernama Zainuddin, Baca lebih lanjut