Drama Gojek

gojek“Drama” Gojek pertengahan Desember minggu kemarin bisa dibilang garing. Sangat garing. Ibarat seseorang yang menjual ponselnya ke dealer barang bekas, tapi dia sendiri yang membeli ponselnya karena disuruh istrinya.😀

Terus terang mengenai peraturan larangan Gojek alias ojek on line dan sejenisnya yang kemarin sempat di keluarkan oleh mentri tranportasi itu, 90% saya setuju. Kenapa? Silakan baca dulu…just my opinion..😉

Katakanlah kita memang butuh transportasi umum, tapi apakah hanya ojek solusinya? Apakah ojek aman? Dari seluruh dunia, hanya Indonesia satu-satunya yang masih menggunakan ojek sebagai transportasi umum….dan sepertinya hanya di negeri ini saja yang mengenal ojek! yah..mungkin di India atau negara Asia yang padat lainnya masih ada, itupun sudah terbatas penggunaannya.Di negara lain, penggunaan ojek sebagai transportasi umum sudah dilarang sejak zaman kuda gigit besi karena masalah keamanan. Motor atau kendaraan roda dua lainnya hanya aman bila digunakan SATU orang penumpang …yaitu sang drivernya sendiri. Dan ini sudah aturan baku yang semua orang sudah tahu sejak zaman Majapahit, dan hanya negeri kita lah yang melanggarnya. Hebaat….

Di negara lain, demi keamanan sang penumpang sendiri, pemerintahnya sudah melarang “ojek” karena memikirkan masalah safety jauh-jauh hari. Sedangkan bila di sini, untuk urusan transportasi ….yang dipikirkan hanya mudah, murah, sampai tujuan, sekian. Dan bila terjadi kecelakaan yang disalahkan….yah pemerintah! Dan ketika pemerintah memutuskan demi masalah jangka panjang alias safety …yah salah juga!🙂

Peraturan dari kementrian perhubungan kemarin mengenai syarat kendaraan umum yang minimal harus beroda tiga, berbadan hukum, dan memiliki izin sebagai angkutan umum sudah tepat. Dan Gojek alias ojek on line tidak memenuhi kriteria itu, sehingga dilarang. Lalu timbul pertanyaan lagi, kenapa ojek zaman baheula alias ojek pangkalan tidak dilarang? Jawabannya karena Gojek sifatnya reservasi atau sudah dipesan via aplikasi jadi sudah di order ibarat orang booking hotel untuk malam tahun baru sehingga pasti pemakaiannya dan bisa lebih mudah untuk mencegahnya. Sedangkan ojek pangkalan sifatnya tentative, tambahan lagi untuk melarangnya masih sulit membedakan apakah itu jasa tukang ojek atau seseorang yang menunggu pacarnya dengan motor di bawah pohon jambu?🙂 Sepertinya kementrian perhubungan mau menertibkan ojek dari yang on line dulu, dan bila berhasil baru yang ojek pangkalan….mungkin….

Lagipula pak menhub juga bilang akan diizinkan untuk beroperasi kembali asalkan Gojek dan sejenisnya ini mau memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Artinya…semacam di beri dead line, apakah para mamang Gojek ini akan lulus audit dari kualifikasi sebagai kendaraan umum yang layak, legal dan aman.

Bila di telaah lagi, aturan pak menhub kemarin mengatakan bahwa Gojek tidak layak sebagai kendaraan umum. Secara definisi, kendaraan umum adalah kendaraan yang membawa penumpang. Sedangkan kita tahu bisnis ojek on line seperti Gojek dkk tak semata-mata terbatas bawa penumpang saja….artinya belum tentu statement sang menhub berarti memblokir bisnis Gojek. Sebagai layanan delivery dokumen, barang atau makanan sepertinya masih sah-sah saja karena untuk hal itu aman dimana “penumpang”nya tak bernyawa.

Bila kemarin masih ada waktu untuk diskusi lagi, pastinya sang menhub yang baik hati dan tidak sombong ini bisa menjelaskan kepada rakyat akan hal ini…atau setidaknya memberi nego kepada Gojek dkk bahwa mereka masih legal dan aman sebatas mengantar barang dan makanan…artinya bisnisnya masih bisa jalan terus sambil menunggu waktu “lulus” audit sebagai kendaraan umum yang boleh bawa penumpang. Dan selanjutnya bisa beroperasi setelah dipastikan aman sebagai kendaraan umum yang membawa penumpang.

Sayangnya publik terlanjur terbawa emosi…..ditambah ‘ulah’ media massa pula yang suka memprovokasi. Jadi, yah kadung salah paham dan tidak bisa berpikir logis. Hanya….yang lebih disayangkan lagi..entah kenapa sang Presiden justru terlibat dalam drama sinetron ini. Entah kenapa beliau seolah terpancing akan emosi rakyat di sosmed. Sepertinya ada yang ‘menyenggol’ beliau untuk turun tangan dalam hal ini….entah siapa. Dan akhirnya karena sang Presiden jauh lebih berkuasa, maka aturan yang ditetapkan pak menhub ini dicabut dan tamatlah sudah sinetron menjelang akhir tahun ini dalam waktu singkat dan sangat garing😀

Lalu …bila nanti banyak kecelakaan karena kendaraan umum illegal seperti Gojek atau banyak tindakan criminal seperti perkosaan terjadi pada taksi illegal seperti Grab car dsb yang disalahkan bukannya Dishub lagi…tapi Presiden yang harus bertanggung jawab akan hal ini. Pastinya semua orang akan berpendapat begitu, “lha wong salah siapa…sudah benar layanan Gojek mau dilarang, tapi Presiden sendiri kan yang mengizinkan”. Artinya kembali lagi: semua salah Jokowi..🙂

Terus terang kuakui agak sedikit kecewa dengan sikap Presiden kemarin. Mungkin sikap sang Presiden di sini adalah sebagai seseorang yang peduli alias pro rakyat. Ada yang bilang juga pencitraan. Entahlah mana yang benar. Hanya Tuhan yang tahu.

Hanya saja melihat statementnya di twitter, sepertinya Presiden kita ini ‘terlalu’ pro rakyat. Artinya mempunyai pandangan yang ‘sama’ seperti masyarakat Indonesia umumnya. Naah…sebagai Presiden, meskipun pro rakyat, yaah seharusnya beliau mempunyai sudut pandang yang jauh lebih luas dari rakyatnya. Memikirkan solusi untuk jangka waktu lebih panjang lagi, sama seperti yang dipikirkan pak mentri sebelumnya sehingga mengeluarkan peraturan seperti itu.
^_^
Sejak zaman penjajahan sampai saat ini, kendaraan umum di negeri ini memang masih menjadi masalah. Lalu tiba-tiba booming lah Gojek, Grab bike, dkk yang memanfaatkan aplikasi digital informasi tekhnologi saat ini. Hanya saja kendaraannya masih berupa motor dimana motor sendiri masih tidak layak untuk membawa penumpang dan belum legal sebagai kendaraan umum ditinjau dari segi keamanannya. Karena bisnis ini menggiurkan, muncul pula Grab car, Grab taxi, dimana menggunakan mobil rental dengan harga lebih murah dari taksi umumnya karena tidak menggunakan argo…hanya mereka tidak mempunyai izin kendaraan umum (tidak berplat kuning).

Motor atau kendaraan roda dua lainnya bukanlah jenis angkutan umum yang aman. Di negara lain tak ada yang mensahkan motor sebagai kendaraan umum. Di sini pun belum ada badan hukum yang menyatakan “ojek” sebagai kendaraan umum yang legal. “Ojek” masih termasuk kendaraan umum illegal, tapi karena masih banyak rakyat yang butuh maka tak pernah di hapus, dan terus ada…bahkan menjamur. Tak perlu disebutkan mengapa motor tak aman sebagai kendaraan umum, sudah banyak kejadian…bahkan karena kelakuan penumpangnya sendiri. Lihat saja, banyak penumpang motor yang asyik chatting saat naik motor. Orang kita kalau belum kejadian yah belum kapok….

Naaah saat pemerintah mempertimbangkan ini untuk keamanan rakyatnya, netizen malah ngamuk. Ok, katakanlah sulit solusinya….apakah ada kendaraan roda tiga sebagai gantinya? Dulu becak dikatakan aman, tapi akhirnya di hapus juga. Bajaj masih terbatas di Jakarta saja… Tapi sepertinya mantan dirut KAI ini sudah mempertimbangkannya, beliau kelihatan concern untuk membenahi transport darat..kelihatan dari kereta yang dibenahinya…mungkin beliau akan menambah unit KRL sebagai ganti ojek dan bisnis Gojek tetap jalan sebagai kurir sebagaimana di negara lain. Hanya saja kita sudah terbawa emosi dan tak memberi beliau waktu…Entah kenapa belakangan ini netizen sangat mudah emosi, sepertinya mereka butuh piknik😀

Satu hal lagi, para netizen yang kemarin sibuk protes di sosmed pastilah bukan kaum disabilitas atau menderita penyakit jangka panjang sehingga tak peduli akan unsur safety yang di garisbesarkan Menhub soal larangan Gojek.
Mereka hanya peduli soal kemudahan. Sangat disayangkan memang. Baru kali ini ada mentri yang peduli masalah transportasi umum dilihat dari safety….lihat saja dari kriterianya …tapi justru banyak ditentang. Padahal beliau sepertinya akan berusaha memperbarui sistem transportasi umum di sini.

Di Indonesia belum ada layanan transportasi yang mensupport para disabilitas. Mereka juga manusia biasa yang butuh bersosialisasi untuk keluar rumah, dan mereka butuh tranportasi. Tapi sayangnya mereka tidak diperbolehkan membawa kendaraan sendiri. Belum ada solusi akan hal ini. Dan sekarang tranportasi umum yang sedang marak justru Gojek …

Bayangkan bila seorang pasien CHD yang sebelumnya baik-baik saja lalu ke pasar naik Gojek, dan tiba-tiba serangan di jalan. Siapa yang disalahkan? Pasiennya? Atau supir Gojeknya? Lalu apakah CEO Gojeknya mau tanggung jawab? Ingat mereka masih belum berlisensi hukum lho….sulit untuk memprosesnya bila ada kejadian seperti ini.
Atau katakanlah seorang penderita epilepsi naik Grab taxi dan mendadak kena serangan dan tidak sadar di jalan. Katakanlah kendaraan itu terbilang aman karena beroda empat. Tapi apa yang akan terjadi pada si pasien bila tidak sadar di tempat tertutup, di jalan, bersama orang yang tidak dikenal? Siapa yang harus tanggung jawab? Satu lagi…kendaraan ini dari luar tak tampak seperti kendaraan umum.

Perlu dicatat, penderita yang mengidap penyakit seperti tersebut di atas…dan penyakit jangka panjang lainnya yang tergolong disabilitas; dalam kesehariannya – di luar terjadinya serangan – mereka tampak baik-baik saja seperti orang normal. Sehingga tidak bisa disalahkan pula pilihan jenis tranportasi umum yang akan dinaiki, karena serangan pun terjadi mendadak tanpa sepengatahuan mereka, dan tidak ada tanda-tanda sebelumnya. Dan tidak semua penyandang disabilitas mampu menyewa supir pribadi. Berarti semuanya kembali ke ‘PR’ pemerintah kita yang sampai saat ini belum mensupport fasilitas umum bagi mereka.

Naah…bila sudah kejadian seperti di atas, hanya lagu lama yang kembali terulang :”Semua salah Jokowi”….. (arlin)

#saveJonan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s