Just My Opinion

Kata orang, sakit adalah penggugur dosa.
Tapi benarkah demikian?
Menurutku, sakit justru memperbanyak dosa. Tak percaya? Bayangkan bila kita sakit, pastinya tidak bisa beribadah wajib rutin setiap hari ; puasa tidak bisa, kadang shalat pun sulit, apalagi sampai haji…pastinya sangat sulit. Ibadah yang paling ringan seperti tersenyum pun sepertinya juga tidak mungkin.
Kegiatan ibadah yang diwajibkan agama saja tidak bisa dilakukan, begitu pula kegiatan sehari-hari manusia sebagai mahluk sosial. Bermain tidak bisa, belajar tidak bisa, tidak masuk sekolah atau kerja kadang terpaksa menitipkan pekerjaannya ke rekannya, membantu orang di sekitarnya juga tidak bisa. Atau bahkan bisa dikatakan orang sakit justru – maaf – merepotkan orang di sekitarnya. Bayangkan, untuk makan dan minum saja minta tolong, kadang perlu dipapah untuk jalan ke kamar mandi dsb, dan bukan tidak mungkin bila biasanya orang sakit cenderung rewel atau manja kadang mudah emosi karena faktor psikis sakit yang di deritanya sehingga mudah marah dsb kepada orang sekitarnya karena kesal tak kunjung sembuh atau minta dilayani.
Lalu bila seperti itu keadaannya, dimanakah letak penggugur dosanya?
Percaya kan bila orang sakit justru semakin banyak dosanya? Ibadah saja tak sempurna bisa dilakukan, kerja juga tidak bisa, lalu ditambah lagi merepotkan orang di sekitarnya.
Yang ada dosa makin bertambah, hidup pun bagai tak berguna.
Statement sakit sebagai penggugur dosa memang bukan sembarang mitos atau kata orang belaka, tapi tertera dalam hadist sahih.
Hanya saja, benarkah? Dimanakah penggugur dosanya bila kita tidak bisa bekerja, lalu untuk melakukan apapun masih harus dengan bantuan orang lain? Mungkin ibadah yang bisa kita lakukan saat sakit hanyalah tidur.
Dan sepertinya yang bisa jadi penggugur dosa adalah bila kondisi sakit kita jadi terhindar dari perbuatan maksiat dan sifat takabur karena kita dalam kondisi lemah yang menyadari bahwa kita adalah mahluk lemah ciptaanNya yang tidak memiliki kelebihan.
Tapi, selebihnya tampaknya dosa kita tetap bertambah banyak. Saat sakit kita tetap tidak bisa produktif bekerja dan tidak bisa beribadah dengan sempurna. Lalu dimanakah letak penggugur dosanya? Ini adalah sebuah pertanyaan besar sepanjang masa yang ada dalam benak saya yang sampai saat ini yang belum jua terjawab.
Memang manusia tak terlahir sempurna. Memang di kala sakit kita diberi kemudahan. Memang ada keringanan dalam beribadah bila kita sakit.
Tapi, percayalah kala kita menjalani sesuatu tidak dalam kesempurnaan – meskipun diberikan keringanan – masih ada rasa takut bersalah karena kita tidak dapat menjalankannya. Karena kita mencintai Sang Pencipta, sehingga kita ingin selalu terlihat sempurna dihadapanNya.
Sama seperti ketika mencintai seseorang. Pastilah kita ingin selalu tampil sempurna di hadapannya, kita pasti senantiasa ingin mempercantik diri, menggunakan pakaian yang terbaik saat ingin bertemu dengannya. Ketika tak sengaja kita bertemu dengannya dan tak tampil sempurna, pastinya pasangan kita memaklumi dan mengatakan “gak apa2” tapi kita pasti merasa malu dan tak enak hati…itu karena kita menghargainya. Karena kita mencintainya. Meskipun diberi toleransi dengan kata “gak apa2” tetap saja kita malu.
Begitu pula halnya bila kita berhadapan dengan-Nya. Karena kita mencintai Allah, kita pasti malu saat tak bisa melaksanakan ibadah dengan sempurna. Meskipun diberi keringanan karena sakit, kita pasti semakin tak enak hati ketika ibadah kita terlewat saat kita tak sadar. Meskipun diberi segala kemudahan, tapi kita merasa hina karena tak bisa memberikan yang terbaik saat bertemu dengan-Nya.
Mungkin….mungkin…inilah salah satu kelebihan yang dimiliki orang sakit. Karena ketika sakit, semakin banyak waktu untuk bermuhasabah dan semakin besar ego-nafsunya hilang sehingga semakin membuat seseorang semakin dekat dengan-Nya sehingga semakin malu bila tak tampil sempurna di hadapan-Nya. Berbeda dengan pendapat sebagian orang yang mengatakan bahwa “tak masalah bila sakit”, “shalat semampunya saja”….tapi mereka justru malu. Mereka justru malu bila shalatnya tak sesempurna orang sehat. Karena mereka lebih mencintai Allah sehingga ingin selalu tampil sempurna di hadapan-Nya, dan malu bila hanya “seadanya” saja. Dan mereka pun sedang diuji dengan sakitnya karena Allah mencintai mereka. Apakah ini yang disebut sebagai penggugur dosa bagi orang sakit? Karena belum tentu semua orang yang sakit bertaubat untuk ingat kepada-Nya.
Just my opinion…..(14/10/15)
Wallahualam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s