Bahaya Lisan

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR Bukhari & Muslim)

Masih ingat akan perkataan Menkopulhukam dari kabinet yang baru beberapa waktu lalu yang langsung mendapat kecaman dari publik?
Beliau – sebagai pejabat – menyakiti perasaan rakyatnya sendiri akibat ucapan lisannya. Wajar bila rakyat marah.

Memang lidah tak bertulang. Tak butuh tenaga untuk menggerakkannya. Begitu ringannya lidah ini karena tak ada tulangnya. Sangat mudah lidah ini berucap. Huruf demi huruf. Kata per kata, tiap kalimat tanpa sadar keluar begitu saja dari lidah kita. Ribuan…jutaan kata keluar dari lidah setiap hari tanpa ada rasa pegal sedikit pun. Tiada sakit dari tiap kata yang diucapkan.

Namun sungguh mengerikan akan efek yang timbul dari ucapan yang keluar dari lidah kita. Dimana setiap kata akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat. Segala hal yang mudah di dapat akan menimbulkan risiko yang berat. Seperti kuman atau virus yang mudah didapat dan tersebar dimana2 namun dapat menimbulkan penyakit. Sangat mudah terjangkit namun efeknya sangat berat.

Lidah kita ada di dalam mulut. Mulut hanya satu, tapi ada dua telinga yang mendengar. Dan sekali terucap langsung di rekam dalam sel memori di otak yang mendengarnya dimana akan langsung tercatat sebagai rekorder yang tak bisa dihapus. Setelah terekam dalam sel memori akan diingat selamanya oleh si pendengar. Hanya dari ucapan 5 menit yang keluar dari lidah dan mulut kita namun diingat seumur hidup oleh yang mendengar.

Lidah memang setajam silet. Kecil namun

tajam dan bisa menorehkan luka yang dalam dan sulit sembuh. Sekali kita berucap, dan menyakiti perasaan yang mendengar, luka di hati si pendengar tak akan pernah sembuh. Hanya dengan kata “maaf” saja tak akan dapat mengobati sakitnya si pendengar dari kata yang kita ucapkan.

Sebagaimana kata pepatah “Mulutmu harimaumu”
Kita lihat sendiri efek ucapan sang menteri beberapa waktu silam tsb yang langsung dimusuhi publik dan di bully di sosmed. Itu adalah akibat dari ucapannya beliau sendiri yang di dengar jutaan rakyat. Dan ucapannya beliau menyakiti jutaan rakyat sehingga berbalas kepada dirinya sendiri.

Ada sebuah riwayat, salah seorang sahabat nabi yang apabila di cela, atau dicemooh. Maka yang mencela atau mencemoohnya akan langsung di timpa azab saat itu juga.
Apa yang kita ucapkan akan berbalik kepada kita sendiri. Maka sebaiknya pikirkan apa yang hendak kita ucapkan. Mulut ibarat ‘bumerang’, kita yang melemparkan senjata namun pasti akan selalu kembali lagi.
Karena kita tidak tahu kepada siapa kita bicara.
Apabila kita tak sengaja mencela, mencemooh, menghina, mengejek, atau nyinyir kepada seseorang yang kadar keimanannya jauh lebih tinggi, atau yang doanya jauh lebih diijabah maka jangan heran bila suatu saat kita terkena musibah yang merupakan dampak dari lisan kita. Dan itulah efek berbahaya dari lidah yang tak bertulang. Mulutmu harimaumu. Mulut kita menjadi senjata bagi kita sendiri.

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR Bukhari & Muslim)
Sebelum berbicara sebaiknya pikirkan apakah yang kita bicarakan benar atau salah. Apakah yang kita ucapkan baik atau buruk. Atau sebaiknya diam. Bila kita ragu, sebaiknya diam. Bila kita tidak tahu sebaiknya diam. Diam adalah sebaik-baiknya bicara.

Ketika kita diam, mungkin kesannya kita bodoh atau sombong. Namun setidaknya kita tidak menyebarkan fitnah akibat yang kita ucapkan. Kita tidak menorehkan luka di hati seseorang yang kita tak dapat menyembuhkan. Apabila ada yang berprasangka terhadap kita akibat kita diam, maka bersabarlah, karena sesungguhnya itu adalah salah satu bentuk ujian orang yang beriman. Wallahualam.

Masih banyak lagi bahaya lisan yang. Diantara adalah ghibah atau bergunjing alias gossip yang biasanya sulit dihindari para kaum hawa. Kebiasaan ini biasanya menimbulkan fitnah.
Memang lidah tak bertulang dan setajam silet. Namun ganjarannya di akhirat nanti akan bertemu dengan yang jauh lebih tajam lagi. Naudzubillah.

“Ada dua lubang yang membuat manusia ramai masuk neraka. Yaitu lubang mulut dan lubang kemaluan.” (HR Ibnu Majah & Ahmad)

Lalu, bagaimana bila di masa silam kita tanpa sadar berucap salah dan – mungkin – menyakiti saudara kita yang mendengarnya? Sebagai manusia kita tak pernah lepas dari kesalahan. Maka perbanyak diri ini dengan istighfar dan memohon ampun kepada-Nya. Karena Allah adalah sebaik-baik pengampun dan Maha Pemberi Taubat. Wallahualam.
———–
Jakarta, 10/2/15
Arlin P

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s