Nyinyir

Sepertinya banyak yang menggunakan kata ini namun tak paham artinya. Sebenarnya sudah pernah terdengar juga dalam percakapan sehari-hari, hanya jarang,  dan kata ini  tak pernah diajarkan oleh guru bahasa Indonesia. Kata tersebut adalah “nyinyir”. Sekilas banyak yang mengartikan “nyinyir”  sama dengan sinis, dengki, atau lebih tepatnya menyindir.

Pemahamannya ke arah konotasi negatif alias sesuatu yang berarti antagonis seperti menjelekkan atau mencerca. Dicoba lihat ke kamus Jus Badudu, ternyata tidak ada kosa kata tersebut. Berarti ini asli bahasa Indonesia, bukan bahasa serapan asing atau bisa jadi kata ini memang dari bahasa daerah atau nenek moyang kita yang bahasa sudah dari lahir dimana kamus Jus Badudu memang isinya kata bahasa Indonesia yang dibakukan dari serapan bahasa asing atau sebelumnya tidak dikenal zaman nenek moyang kita. Mencoba di cari di kamus WJS Poerwadarminta, ternyata…tidak ada juga…kamusnya! Haha …alias hilang atau lupa disimpan dimana kamus yang tebal dan sudah lama itu. Akhirnya, penasaran buka juga KBBI on line, akhirnya ketemu juga artinya . Masih penasaran juga, sekedar cross check, maka sengaja ke toko buku sekedar numpang baca buku KBBI dan beberapa kamus bahasa Indonesia lainnya. Lalu, sengaja bertanya juga kepada orang-orang lama (baca:lanjut usia) yang ternyata lebih ‘kaya’ akan makna kata dari bahasa sendiri. Dan ternyata, nyinyir berarti : sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk kata. Baik dalam bentuk kalimat perintah atau kalimat biasa yang berupa komentar. Komentar bisa berupa hal yang positif atau negatif.

Kata ‘nyinyir’ identik penggunaannya kepada seorang nenek. Dimana nenek adalah seseorang yang cerewet. Terus menerus mengulangi kalimat atau perintah. Atau apapun yang dilakukan cucu/mantu pasti diberi komentar. Misalnya : ‘kamu bajunya bagus nak’, ‘kamu bajunya robek nak’, ‘kamu bajunya kurang bersih nak’, ‘kamu bajunya cantik nak’. Terus saja dalam 5 menit komentar mengenai pakaian tak ada habisnya, sampai kita muak mendengarnya.🙂

Selain nenek2, tukang nyinyir juga bisa identik dengan tukang gossip atau pembawa acara infotainment atau para komentator sepak bola. Dimana setiap langkah orang saja diberi komentar🙂

Kata ‘nyinyir’ adalah asli bahasa tanah air kita, bukan serapan asing.  Kata ini sudah familiar bagi orang-orang dahulu alias yang sekarang sudah jadi orang tua. Dahulu kata ini biasa digunakan dan akrab di telinga. Perlahan mulai jarang terdengar – entah kenapa – apakah karena masuknya bahasa asing atau orang justru lebih sering menggunakan kata ‘nyindir’ daripada ‘nyinyir’.

Kata ‘nyinyir’ sebenarnya masih suka terdengar hanya banyak yang tak paham artinya. Banyak yang mengartikan ‘nyinyir’ mempunyai makna yang sama dengan ‘nyindir’. Diartikan sebagai komentar untuk menjelekkan atau mencemooh orang lain. Seolah mempunyai konotasi negatif bagi kalimat yang menggunakan kata ‘nyinyir’. Padahal ‘nyinyir’ artinya bisa komentar yang baik atau yang buruk bagi apapun, hanya saja terus menerus atau diulang-ulang.

Penggunaan kalimat untuk kata ‘nyinyir’ sebenarnya sudah tepat. Misalnya : ‘Banyak yang nyinyir sejak harga BBM naik’. Hanya saja pemahaman makna katanya salah. Dan biasanya isi beritanya juga salah (yang membuat massa salah paham makna kata). ‘Banyak yang nyinyir sejak harga BBM naik’, maksudnya banyaknya komentar (bisa pro atau kontra) bertubi-tubi ketika harga BBM naik; tapi yang diberitakan hanya seputar komentar negatif atau seperti mencemooh keputusan pemerintah. Sehingga banyak yang makin gagal paham akan makna kata ini.

Lalu kenapa sekarang banyak yang gagal paham akan arti ‘nyinyir’?

Sepertinya banyak yang tak paham makna kata ‘nyinyir’ karena terbaur maknanya dengan kata lain.  Lafaz kata ‘nyinyir’ pengucapannya mirip dengan ‘nyindir’. Sedangkan makna ‘nyindir’ berarti mencela atau menjelekkan orang lain. Dan kata ‘nyinyir’ sudah ada sejak lama, hanya sayangnya jarang terdengar, banyak yang belum tahu artinya. Akhirnya disimpulkan sendiri dengan makna yang salah. Ingat nyinyir tidak sama dengan nyindir, tapi mempunyai sinonim yang sama dengan cerewet.🙂

Ingat, bahasa Indonesia sangat kaya…sangat banyak karena tiap daerah dan tiap suku mempunyai bahasa masing-masing. Dari pengucapan yang berbeda pun artinya bisa berbeda. Banyak kata yang terdengar mirip pengucapannya tapi beda artinya seperti ‘bayu’ (angin) dan ‘banyu’(air) atau ‘nyindir’ dan ‘nyinyir’! Meskipun kata yang sama di tiap suku pun berbeda-beda, seperti arti  kata ‘atos’ bagi masyarakat suku Jawa pasti beda artinya dengan suku Sunda, kata ‘abang’ di Sumatra beda maknanya dengan di Jawa, dll. Jadi, sangat kaya bahasa kita. Sebaiknya cari tahu dulu maknanya sebelum ikut-ikutan trend ada kata baru yang mendadak sering digunakan di media massa. Kita sudah masuk era globalisasi dan bangga bisa berbahasa asing namun jangan sampai kita rusak makna bahasa sendiri. (arlin) Jakarta, 30 November 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s