Pasien

“…dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al Anfal:46)

pasien

Pasien adalah julukan bagi seseorang yang berobat ke dokter alias orang yang sakit. Kosa kata ini serapan dari bahasa asing, entah dari bahasa apa asal mulanya – mungkin dari bahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris disebut patient, dibakukan dalam bahasa Indonesia menjadi pasien. Patient dalam bahasa Inggris juga berarti sabar. Sepertinya  memang ada korelasinya istilah ‘patient’ bagi orang sakit, karena memang pada dasarnya orang sakit haruslah sabar (patient). Mungkin inilah yang menjadi pertimbangan diksi yang tepat bagi orang yang berobat.

Kita semua tahu bahwa sakit adalah kebalikan dari sehat. Sehat dimana seseorang sempurna jasmani dan rohani sehingga sanggup melakukan aktivitas dan segala keinginan tanpa keterbatasan apapun. Sangat berbeda dengan seseorang yang sakit, dimana segala aktivitas terhambat karena penyakit yang dimilikinya. Sakit adalah suatu musibah yang tidak ingin dialami siapa pun. Sakit adalah suatu bentuk ujian dari Yang Maha Kuasa dalam menjalani kehidupan duniawi, sebagaimana yang dialami nabi Ayub as. Suatu ujian apakah kita sanggup menjalankan masa sakit tersebut, karena kita berada di luar mayoritas orang-orang pada umumnya, karena kita tak mampu menjalankan keinginan sesuai hasrat kita, karena segala aktivitas kita jadi terhambat dsb.

“Allah tidak akan pernah menurunkan sebuah penyakit, kecuali Dia juga menurunkan bersamanya obat. Obat itu bisa diketahui oleh orang yang mengerti penyakit tersebut atau tidak bisa diketahui oleh  orang yang tidak mengerti penyakit tsb”

Setiap penyakit pasti ada obatnya. Dan obat utama bagi setiap penyakit hanyalah satu yaitu :
SABAR…,maka dari itu seseorang yang berobat dinamakan pasien (patient) karena mereka mereka memang dituntut untuk sabar (patient).

Seseorang yang sakit harus sabar ketika pertama kali mendapatkan gejala penyakitnya. Sabar ketika harus berjalan untuk berobat. Sabar ketika masih harus menunggu antrian di ruang tunggu untuk berobat ke dokter. Sabar ketika diperiksa dokter. Sabar ketika mendengar diagnosa penyakitnya dari dokter. Sabar ketika membayar biaya berobat. Sabar ketika harus mengantri obat lagi di apotik untuk membeli obat. Sabar ketika menelan obat yang pahit. Sabar ketika harus berbaring di kasur. Sabar ketika tak kunjung sembuh. Sabar ketika masih harus dirawat inap di Rumah Sakit. Sabar ketika harus check lab. Sabar ketika terpaksa meminta izin bosnya yang galak karena tak masuk kerja. Sabar ketika obatnya harus ditambah lagi. Sabar ketika tahu biaya berobatnya mahal dan tak diganti kantor. Sabar ketika tahu penyakitnya kronis. Sabar ketika harus menerima segala pantangan atau diet yang dijalankan berkenaan dengan penyakitnya. Sabar ketika masyarakat belum paham mengenai penyakitnya. Sabar ketika dikucilkan masyarakat begitu tahu diagnosa penyakitnya. Sabar ketika gejala penyakitnya muncul lagi….dan ribuan sabar lagi yang harus diterimanya.

And that’s why they called patient, because they should be patient. 

Berbagai banyak penyakit diturunkan di muka bumi ini, dan semua pasti ada obatnya. Sehingga hal ini lah yang mendorong manusia untuk memajukan ilmu kedokteran. Penyakit merupakan salah satu bentuk peringatan bagi manusia di muka bumi ini. Bayangkan bila tidak ada penyakit, mungkin manusia cenderung arogan karena bisa makan, tidur atau tidak menjaga kebersihan sesuka hati. Sakit diberikan kepada manusia juga sebagai bentuk ujian kesabaran seperti kisah nabi Ayub.

Ada berbagai macam jenis penyakit. Ragam penyembuhannya pun bermacam-macam. Ada yang sangat cepat penyembuhannya dan obatnya pun mudah di dapat. Ada yang butuh waktu yang sangat lama penyembuhannya. Obatnya juga beragam jenisnya. Ada yang cukup diobati simptomatis saja dan mudah/murah di dapat tanpa harus menggunakan resep. Ada yang mahal obatnya. Ada yang mudah di telan. Ada yang harus di suntik. Harga obat pun beragam, ada yang murah, ada yang mahal. Ada yang harus minum seumur hidup ditambah lagi biayanya obatnya yang mahal.  Dan sekali lagi semuanya membutuhkan kesabaran….

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu”

Cara mengatasi sakit juga beragam. Ada yang cukup sekedar istirahat sehari saja, atau ada yang harus berhari-hari di rawat. Ada yang harus meninggalkan kebiasaan lama – seperti merokok, ngopi atau begadang – demi mengurangi komplikasi penyakitnya. Ada yang harus memperbaiki gaya hidup dengan diet dan olahraga. Ada yang terpaksa harus meninggalkan pekerjaannya karena menimbulkan risiko bagi penyakitnya. Ada yang harus melepaskan hobinya seperti naik gunung atau hang out semalaman. Ada pula yang terpaksa harus meninggalkan gaya hidup normal pada umumnya seperti mengemudikan kendaraan, dsb. Dan semuanya akan menimbulkan pertanyaan tersendiri bagi masyarakat, dan sekali lagi untuk mengatasinya; sang pasien pun butuh kesabaran.

Obat dari suatu penyakit ternyata bukanlah semata-mata pil pahit atau suntikan yang kita dapatkan dari dokter. Namun dalam menghadapi penyakit, sang pasien masih harus menelan ‘pil obat’ lainnya yang jauh lebih pahit. Dan obat itu tak di jual apotek manapun. Obat itu bernama : SABAR.

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu”

Ketika sang pasien mendengar diagnosa penyakit dari seorang dokter pun, sering menimbulkan stigma tersendiri bagi sang pasien. Beberapa penyakit di negeri ini masih di anggap tabu atau – entahlah – mungkin karena minimnya pendidikan kedokteran di negeri kita. Masih banyak penyakit yang dianggap mematikan, mudah menular atau menimbulkan stigma negatif tersendiri lainnya. Sehingga secara tak langsung ada “punishment” dari masyarakat apabila mengetahui sang pasien mengidap penyakit yang tak lazim. Namun hal ini tidak hanya terjadi di sini, kita tahu kisah nabi Ayub as yang dijauhi orang-orang sekampungnya ketika diberi musibah penyakit. Dan ini semua adalah suatu ujian sabar bagi seorang pasien.

Tak perlu disesali ketika suatu saat kita menjadi seorang “pasien” , itu tandanya Allah sayang dengan kita sebagai hamba-Nya. Karena kita layak terpilih menjadi seseorang yang dapat menjadi patient (sabar). Karena kita dianggap mampu bersabar. Karena kita dianggap kuat akan segala beban yang sedang diuji kepada kita. Karena kita dianggap mampu menghadapi penyakit yang sedang kita derita. Karena kita dianggap mampu mengatasi segala bentuk cercaan dan caci maki orang-orang sekitar akibat penyakit yang kita hadapi. Karena kita dianggap mampu berusaha. Sebagaimana nabi Ayub yang terpillih oleh Allah dengan ujian sakit yang dideritanya selama 18 tahun.

“Allah tidak akan memberikan beban kepada seseorang di luar batas kemampuannya” (Al Baqarah : 286)

Dan bersabarlah ketika menunggu waktu sembuh. Jangka waktu suatu penyakit memang bervariasi. Ada yang sangat cepat. Ada yang sangat lama. Ada yang seumur hidup. Yang diuji adalah kesabaran kita dalam menanti waktu pulihnya tubuh kita ke dalam keadaan sehat dan sempurna. Semuanya butuh usaha dan kesabaran. Kita berusaha dengan harus minum obat setiap hari, berobat ke dokter,  menunggu antrian berjam-jam di RS, menjauhi rokok dan  sebagainya. Setelah semua usaha telah dilakukan dan tak kunjung sembuh, hanya sabar lah obat kita dengan berbekal percaya kepada Allah. Bahwa Allah Maha Menyembuhkan. Karena di kala kita telah usaha maksimal telah sampai tahap pasrah; yakin kepada Allah bahwa akan datang sebuah kejaiban dari-Nya.

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.”

Bila tak kunjung sembuh, janganlah berkecil hati hanya karena kita memiliki keterbatasan fisik atau penyakit yang kita miliki. Sangat banyak di dunia ini, tokoh dengan keterbatasan fisik namun mampu menaklukan dunia dengan prestasinya. Mereka mampu bangkit dan mengukir prestasi tanpa ada rasa rendah diri bahwa mereka bisa. Sebagaimana nabi Ayub yang sakit selama 18 tahun dan mampu menjadi seorang Nabi. Seperti Stevie Wonder yang buta namun mampu menjadi musisi terkenal. Seperti Hellen Keller yang tuna rungu dan bisa menjadi penulis. Seperti Stephen Hawking yang lumpuh dan bisa menjadi seorang scientist. Atau Beethoven yang tuna rungu namun bisa menjadi composer terkenal seluruh dunia. Dan percayalah, bahwa kita semua pasti bisa selama kita yakin bahwa kita pasti bisa🙂

Sebenarnya di balik suatu musibah ada suatu kejutan kabar gembira yang kita tak ketahui. (arlin)

“Sebab sesungguhnya setelah kesulitan pasti ada kemudahan.” (Alam Nasyrah : 5-6)

Jakarta, 21 September 2014

One response to “Pasien

  1. Ping balik: Sebuah Kisah Tentang Sabar | story of the daily

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s