Minoritas – now and forever

Rasulullah SAW bersabda,” jadilah kalian orang yang sedikit”

Orang yang sedikit akan bertemu dengan yang sedikit pula. Seperti pada zaman Rasulullah, saat itu sedikit sekali yang mengikuti ajaran Rasulullah, yang mayoritas saat itu adalah golongan jahililiyah. Karena sedikitnya pengikut Rasulullah, maka ketika hijrah dari satu tempat ke tempat lain, para pengikut itu akhirnya bersatu walaupun sebelumnya mereka tidak mengenal satu sama lain.

Sampai sekarang masih banyak golongan yang dianggap sedikit oleh masyarakat luas. Mungkin pada negara-negara barat golongan ini bisa dianggap sebagai kaum minoritas; contohnya pada yang komunis dsb. Orang-orang yang sedikit ini memang mendapat anggapan ‘aneh’ dsb dari masyarakat karena pandangan atau pola hidup mereka yang berbeda dengan orang kebanyakan. Pada masyarakat kitapun akhir-akhir ini banyak diisukan adanya beberapa kaum minoritas antara lain : sekelompok orang yang pro atau pun kontra terhadap RUU, masyarakat yang mendukung diberi keringanan terhadap hukuman mantan presiden Soeharto, organisasi Islam Ahmadiyah, jamaah Islam yang shalat dengan bahasa Indonesia, para pengikut mbah Maridjan yang masih percaya hal mistik berkenaan dengan ancaman gunung Merapi,… dan masih banyak lagi segolongan orang yang tingkah lakunya membuat publik menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sebenarnya dari semua kaum minoritas tersebut, kita sungguh buta mana yang benar dan mana yang salah. Kita—mayoritas—dan mereka –minoritas – sama-sama manusia, bukan malaikat yang tanpa cela sama sekali. Kita semua hanya manusia yang tidak pernah lepas dari salah. Kita bukan Tuhan, tidak bisa menjudge orang sembarangan apakah ia benar atau salah.

Sayangnya, kita suka tidak bisa menerima begitu saja bila ada seseorang yang salah ataupun beda pendapat dengan kita. Sulit rasanya untuk memaafkannya, kita langsung complain atau menjauh atau langsung memusuhinya bila ada seseorang yang kurang ‘sreg’ kelakuan atau komentarnya. Rasanya sangat sulit untuk menerima keadaan orang itu. Dan tidak bisa sedikitpun untuk memaafkannya ataupun mengingat jasa yang telah dilakukannya.

Hal ini lah yang terjadi pada masyarakat kita terhadap mantan presiden Soeharto, sepertinya masyarakat kita benar-benar total sudah mengklaim dan menjudge nya bahwa ia benar-benar salah, bahwa ia benar-benar koruptor nomer satu di negeri ini. Dan ia sudah sepatutnya dihukum. Tak peduli saat melihat ia sedang saat kritis di rumah sakit, tetap saja menganggap KKN orang yang memberi keringanan. Tak peduli akan jasa yang telah ia berikan sebelum timbulnya korupsi? Cobalah tengok beberapa tahun kebelakang…..siapakah yang menumpas PKI yang ditakuti rakyat kita? Masih ingatkah akan senyum ramah Soeharto yang khas dan lambaian hangat tangannya yang tak dimiliki presiden lainnya? Masih ingatkah tayangan di TVRI yang membuat kita bosan karena begitu lama (saat itu belum ada TV swasta), ketika Soeharto berbicara di Bincang Tani dengan para petani ibarat bicara dengan sobat lama, tak ada gap baginya bicara dengan rakyat kecil? Masih ingatkah harga-harga begitu murah ketika masa kepemimpinannya, bahkan ongkos bus kota di Jakarta saat itu saja masih 100 rupiah! Memang telah terbukti KKN saat periode terakhir kepemimpinannya, memang keluarga Cendana terlalu mudah mencapai kemudahan dengan tameng namanya. Namun kita tidak bisa sembarangan menghakimi, bahwa ia yang salah seorang diri. Kita bukan TUHAN. Sebenarnya Tuhan juga bisa memaafkan seseorang ketika ia sudah diujung maut.

Bahkan ingatkah kita pada pertengahan May 2006 lalu, ketika di masa kritis, Soeharto meminta maaf kepada seluruh bangsa Indonesia atas seluruh kesalahannya? Namun rakyat kita masih menuntut ia untuk tetap dihukum…sepertinya “tiada maaf bagimu!” Sekali lagi…KITA BUKAN TUHAN, bukan kita yang menentukan apakah seseorang akan disiksa atau mendapat nikmat.Allah Yang Maha Kuasa, masih memberi peluang seorang pelacur untuk masuk surga karena ia telah memberi minum seekor anjing. Sedangkan kita, yang tidak punya kuasa apa-apa, masih tidak mau memaafkan sesama manusia yang telah minta maaf pada kita? Cobalah bersikap lebih manusiawi untuk memafkan seseorang.

Masalah ini bukan dalam kasus politik saja terjadi, namun sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Kejadian ini pasti pernah dialami siapa saja, mengambil tindakan bermusuhan karena beda paham – hanya soal sepele – namun sulit memaafkan – dan tidak mengingat jasa oranng yang terlanjur berbuat salah, bisa dengan orang tua, guru, tetangga, teman sebangku, teman kosan, pacar, sahabat dll.

Penilaian suatu golongan apakah ia termasuk minoritas atau tidak, tidak dapat di cap begitu saja secara mutlak. Semuanya tergantung dari situasi dan kondisi lingkungan sekitarnya. Seperti Islam yang merupakan mayoritas di Indonesia, namun bila di Negara-nagara barat menjadi minoritas.

Keberadaan kaum minoritas tak pernah lepas dari kehidupan sehari-hari. Seperti aktivis Rohis saat SMU di daerah bilangan Jakarta, mahasiswa yang nilainya selalu cum laude, atau sebaliknya beberapa mahasiswa yang tergolong’abadi’ di kampus, aktivis mahasiswa yang tidak pernah lepas dari kegiatan demo (beda lagi untuk yang kuliah di Fisip, yang minoritas justru yang tidak suka demo dan adem ayem di kampus dan kosan), karyawan teladan yang kerja di kantor mulai dari jam setengah enam pagi sampai sebelas malam dan tak pernah bolos/cuti, karyawan yang selalu gencar mengejar promosi, orang-orang yang punya istri lebih dari satu, orang yang menetapkan untuk tidak akan menikah seumur hidup (living single forever),… dan masih banyak lagi kaum minoritas pada kehidupan kita. Yang jelas, kehidupan mereka memang berbeda dengan orang lain pada umumnya. Mereka tidak pernah lepas dari pertanyaan,”kenapa?” dari publik, karena mereka memang berbeda.

Namun, sekali lagi…kita bukan Tuhan. Kita tidak dapat men judge sesuka hati apakah kaum minoritas itu benar atau salah. Kita sama-sama manusia. Mereka juga manusia, sama dengan kita. Manusia selain didampingi oleh malaikat juga terdapat jiwa iblis pada setiap manusia. Jadi, tidak heran bila kita yang biasanya berbuat benar tiba-tiba berlaku salah. Itu hal yang wajar. Tidak akan selamanya orang benar atau salah.

Kehidupan di dunia ibarat roda berputar. Tidak akan pernah berhenti untuk silih berganti. Adanya kaum minoritas akan selalu ada di dunia ini. Dan itu juga akan terus berputar. Bisa bertukar peran dengan yang mayoritas.

Seperti bangsa kita yang dulu sangat polos, sama sekali tidak tahu apa itu korupsi dan kolusi. Tapi pada masa orde baru sudah menjadi trend yang namanya korupsi, KKN dimana-mana, tapi sekarang bergeser lagi justru yang KKN ditentang.

Ingin contoh yang lebih simple? Masih banyak….. seperti pada era ‘90an, saat itu di negeri ini hanya sedikit yang ber hand phone. Mereka yang memilikinya di cap seolah-olah benar-benar tajir. Tapi sekarang…”hari gini nggak punya hand phone???”

Atau pada saat ini, kita melihat banyak ibu-ibu dan para gadis mengenakan jilbab. Namun pada 10 tahun yang lalu, hal ini masih terbilang langka. Di kampus hanya beberapa orang saja yang mengenakannya, kecuali mungkin untuk jurusan tertentu dulu hal ini sudah mayoritas, pada satu kelas di SMU hanya seorang saja yang mengenakannya. Pada tahun 1988 sempat terjadi kasus beberapa orang gadis yang mengalami kesulitan untuk mengurus KTP dan paspor hanya karena mereka mengenakan jilbab! Bahkan pada tahun 1990 sempat beredar isu bahwa wanita yang berjilbab menyebarkan racun pada makanan di pasar!! Allah Maha Besar! Dulu, masyarakat sempat risih melihat wanita berjilbab, sehingga banyak desas-desus dan persepsi negative tentang keberadaan mereka. Tapi sekarang, justru sebaliknya kita kadang merasa risih melihat wanita yang mengenakan rok mini di angkot karena di kanan-kirinya mengenakan jilbab. Untuk kaum minoritas sampai saat ini mungkin bagi mereka yang bercadar. Tapi kita tidak tahu bagaimana 1 dekade berikutnya?

Keberadaan kaum minoritas akan selalu ada untuk selamanya di dunia ini. Yang pasti adalah kesediaan kita untuk selalu menerima mereka. Karena kita hidup di dunia, bukan di surga atau neraka, kita hidup berdampingan di dunia tidak hanya dengan orang yang selalu sehati dengan kita. Kita tidak dapat menentukan mereka benar atau salah. Lagipula, bila yang berperan sudah dewasa, suatu saat sang minoritas akan menyadari apakah mereka benar atau salah. Give them second chance. Kita tidak tahu apakah, seandainya mantan pemimpin komunis yang atheis bisa diterima kembali oleh massa, apakah sekarang ia telah menjadi ustadz?who knows?

We’re not the God.

Justru dengan keberadaan kaum minoritas inilah kita jadi bisa melihat mana yang salah dan yang benar. Dunia jadi terbangkit dari tidurnya dengan keberadaan mereka. Bayangkan bila tidak ada kaum minoritas, tidak akan ada perang, demo, atau reformasi di muka bumi ini. Suatu saat kita akan menjadi bagian dari mereka—the minority. Terimalah mereka apa adanya, walaupun mungkin memang sulit bila tindakannya di luar logika kita. Kaum minoritas sudah cukup tersiksa dengan 1000 pertanyaan dari sang mayoritas; ‘kenapa kamu kesana?’, ‘kenapa tadi kamu ngomong itu?’, ‘kenapa kamu tidak melakukannya?’, dan 1000 why lagi. Minoritas dan mayoritas memang selalu bertentangan tapi mereka juga saling berpasangan bak selebriti dan paparazzi.

Dengan adanya kaum minoritas,maka terbentuk beraneka ragam massa di muka bumi. Ibarat senyawa kimia kompleks yang terbentuk dari unsur-unsur kimia sederhana. Orang sedikit akan bertemu dengan yang sedikit. Minoritas akan selalu ada di dunia—sekarang dan selamanya.

Bagi kaum mayoritas, terimalah kehadiran minoritas apa adanya, walaupun mungkin sulit melihat kelakuan ’aneh’ mereka, karena suatu saat kita akan saling membutuhkan. Treat them just like a normal. They’re only human being. Bila selama ini sang mayoritas cenderung membicarakan sang minor di belakangnya, dan bila di depannya bersikap dingin dan membisu…..cobalah kebalikannya. Diam di belakangnya, dan tegurlah mereka dengan hangat bila anda di depannya. Hargailah kemampuan mereka untuk ‘berani tampil beda’.

Sedangkan untuk sang minoritas, tarik nafas dan sabar(walau memang sulit) terhadap tanggapan orang sekitar serta berdo’a semoga kalian selalu di jalan yang benar. Dan bila menghadapi pertanyaan dan komentar banyak orang tentang kalian yang ‘aneh’,’beda’,’tidak normal’ dsb…just three words…PD aja bo!

Hidup di dunia memang penuh tantangan. Manusia tidak pernah selalu suci dan lurus.

Yang kelihatannya alim suatu saat akan berbuat salah, begitu pula sebaliknya. Namun kita hanya manusia, tidak bisa sembarangan menilai apakah orang lain itu benar atau salah. Kita tidak bisa tahu secara detail apakah alasan seseorang tiba-tiba berperilaku tidak wajar dibalik tutur kata, kepribadian dan gerak tubuhnya.

Once again…

We’re not the GOD.

~@rlin; June 4, 2006~

Note : ini adalah essay panjang pertama yg tak sengaja kutemukan di folder dokumen laptop:) pernah di publish via email sebelumnya, dan setelah dibaca ulang ternyata essay ini tetap berlaku sampai sekarang🙂 dan akhirnya aku publish di blog ini 😀☺️

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s