Nikmat

20140703-123455-45295044.jpg

Di suatu gedung perkantoran, seseorang mengeluhkan pekerjaannya yang masih menumpuk tak kunjung selesai sementara waktu terus bergerak cepat menuju esok hari dimana dead line menanti.

Sementara di jalanan area Sudirman, Jakarta seorang wanita mengomel karena macet ditambah lagi jalanan yang semakin menyempit karena ada proyek MRT. Sudah 4 jam terjebak masih disitu saja, dan telah menghabiskan waktu untuk sarapan, dandan sampai selfie di mobil.

Lain lagi ketika di mall, seorang ibu mengomel karena gagal mendapatkan barang yang diincarnya dengan harga diskon.

Seorang pria lajang juga kesal karena lagi-lagi dia harus menonton film di bioskop seorang diri. Gadis cantik yang dikenalnya kemarin di kampus, lagi-lagi membatalkan acara kencan dengan alasan yang tak logis.

Sementara ada pula seorang karyawan yang mengomel karena gaji bulanannya lagi-lagi dipotong karena telat masuk kantor dan kinerjanya yang dinilai semakin menurun oleh atasan. Belum lagi nanti gajinya diminta oleh sang istri untuk uang belanja dan biaya sekolah anak-anak.
^_^
Beda cerita di kantor, di jalan, di mall atau di bioskop. Ada lagi cerita seorang
gadis yang bekerja di sebuah perusahaan dengan di gaji 2-3 kali dalam sebulan. Tidak pernah dipotong gajinya karena jarak dari rumah ke kantornya sangat dekat, otomatis terhindar dari macet dan tidak pernah telat. Semua hasil jerih payah masuk ke kantong pribadinya karena dia masih hidup sendiri alias belum berkeluarga.
Banyak yang iri alias nyinyir dengan kehidupan pribadinya. Masih single, tapi sudah mapan sebagai wanita karir dengan gaji lebih dari cukup di perusahaan bergengsi, kerja enak dgn suasana nyaman, tak pernah repot kena macet dsb.

Namun tak ada yang tahu bahwa gadis tsb justru tak pernah menikmati kehidupan pribadinya. Gaji besar yang diidamkan setiap orang pun tak dapat dinikmatinya. Setiap weekend kala orang berpelesir menghabiskan gaji, gadis tsb justru terbaring letih di kasur karena mudah sakit akibat lelah.
Gadis itu justru iri pula akan kehidupan orang lain karena tak pernah merasakan jalan-jalan ke mall, kafe atau bioskop. Betapa inginnya dia sehat sehingga dapat bawa mobil sendiri, kuat saat kerja lembur atau bisa jalan2 bebas kemana saja tanpa menghabiskan waktu seharian di kasur karena sakit. Yang inginkan semata-mata hanyalah sehat tak ada yang lain.

^_^
“Maka nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan” (QS Ar Rahman)

Begitu banyak nikmat yang kita dapatkan setiap hari. Baik berupa pekerjaan, gaji, teman, sehat, keluarga dsb. Namun tanpa sadar kita mendustai nikmat kita dengan menuntut ‘lebih’.
Tanpa sadar nafsu kita sebagai manusia membuat kita lupa akan nikmat yang telah Tuhan berikan kepada kita.
Kita lupa telah diberi nikmat berupa pekerjaan, mobil pribadi, kesehatan, dsb. Sehingga tanpa sadar kita mengeluh. Tiada bersyukur akan nikmat kita. Hanya nafsu semata yang menguasai kita. Kita selalu menuntut lebih. Di beri pekerjaan yang layak kita mengeluh ketika pekerjaan sedemikian banyaknya, diberi rizki punya mobil pribadi dan kebebasan agar membawanya sendiri masih mengeluh karena macet (padahal masih sempat2nya selfie di jalan), di beri nikmat bisa jalan2 di mall masih mengeluh karena tak sempat dapat diskon, di beri nikmat nonton film di bioskop masih mengeluh karena cewek ‘gebetan’nya tak bersamanya, diberi gaji masih mengeluh karena dirasa kurang untuk memberi nafkah istri dan keluarga.

“Maka nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan” (Ar Rahman)

Manusia selalu merasa ‘kurang’ terus dalam hidupnya. Dan terus mengeluh dalam cobaan hidupnya, entah itu dalam cobaan pekerjaan yang dikejar dead line, macet, sakit atau jodoh yang tak kunjung datang.

Akibat manusia yang selalu menuntut lebih – dimana nafsu berkuasa – maka kita pun selalu merasa kurang akan nikmat yang diberikan kepada kita. Ada rasa ‘seandainya …’ Dan pastinya akan muncul iri hati terhadap kebahagiaan orang lain dimana rumput tetangga selalu lebih hijau.

Sebagaimana kisah sang gadis yang diceritakan di atas dimana dia mendapatkan nikmat yang bisa membuat orang lain jealous terhadapnya; berupa gaji, pekerjaan dan masih single tanpa beban kehidupan keluarga. Sebaliknya sang gadis justru jealous terhadap kehidupan orang lain yang sehat.

Rasa iri atau jealous terhadap kehidupan orang lain tak akan ada selesainya. Sesungguhnya setiap orang di beri kapasitas “beban” yang sama hanya saja dalam bentuk yang berbeda bentuknya. Solusinya adalah bagaimana kita menghadapinya agar senantiasa mensyukuri nikmat. Sebagaimana yang di alami orang2 di jalan atau di kantor yang dapat bersyukur dengan karunia sehat sehingga bisa kuat lembur dan nyetir saat macet. Atau sang gadis tsb yang seharusnya dapat bersyukur mempunyai gaji dan pekerjaan yang layak.

“Maka nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan” (Ar Rahman)

Kita sebenarnya tidak mengingkari nikmat. Hanya saja lupa; sering lupa bersyukur dan selalu saja mengeluh. Lupa akan kelebihan yang diberikan kepada kita. Selalu diingat akan kekurangannya sehingga selalu lupa. Lupa diberi nikmat pekerjaaan, bahwa sesungguhnya masih ribuan orang mengantri sebagai jobseeker. Lupa bisa ngantri di kemcetan padahal masih banyak yang terbaring sakit tak bisa keluar sama sekali. Lupa di beri gaji bulanan padahal banyak yang ngutang hanya demi sesuap nasi.

Nikmat yang diberikan sungguh banyak. Hanya saja keluhan kita tak kalah banyaknya untuk menuntut lebih. Sehingga kita dimanipulasi oleh nafsu dibandingkan syukur akan nikmat.
Setiap nafas, langkah, ayunan jari kita di komputer, kaki kita yang bolak-balik nge-rem karena macet, sesungguhnya adalah nikmat. Dan tak akan terhitung jumlahnya. Tuhan tidak akan memberi cobaan kepada manusia sesuai dengan kemampuan manusia itu sendiri. Kita dianggap mampu menyelesaikan pekerjaaan, kita dianggap sabar dalam menghadapi macet dsb.
^_^
Beberapa tahun kemudian, sang gadis berobat ke dokternya. Lalu dokternya berkata,”Kau jauh lebih baik. Apa yang kau rasakan sekarang?”
Sang gadis menjawab,”hmm….aneh Dok, akhir2 ini saya merasa kurang.”
“Kurang apa?” tanya dokternya.
“Saya merasa gaji saya kurang Dok, padahal dulu perasaan sudah lebih dari cukup…..dan saya tak juga di promosi. Saya ingin beli rumah, mobil dan sewa apartemen dekat kantor. Apakah tak masalah dengan kondisi saya bila tiap hari saya mengajar malam hari untuk penghasilan tambahan? Lalu saya juga ingin….”
Dokter langsung tertawa. “Selamat, berarti kau sudah sehat sekarang. Apa yang kau inginkan sekarang sama seperti yang inginkan orang normal pada umumnya. Dulu kau hanya ingin sehat, tapi sekarang ingin segalanya. Bulan depan tak perlu kesini lagi. Tapi jangan lupa kau selalu bersyukur bahwa kau telah sehat. Ingatlah sehat adalah nikmat yang luar biasa, dan ingatlah bagaimana penderitaanmu ketika kau sakit dulu.”
^_^
Ketika sakit manusia hanya ingin sehat, tapi ketika sehat manusia ingin segalanya dan lupa akan nikmat sehat yang dimilikinya.
^_^

maka nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan

Jakarta, 3 Juli 2014
arlin_based on true story

One response to “Nikmat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s