Hasil Pemilihan Presiden 2014

“Jika engkau mencintai, janganlah berlebihan seperti seorang anak kecil mencintai sesuatu. Dan, jika engkau membenci, janganlah berlebihan hingga engkau suka mencelakai sahabatmu dan membinasakannya.” (Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad)

Bagaimanakah nanti hasil pemilihan Presiden tahun ini yang tinggal menghitung hari? Dimana – mungkin – dalam sejarah pemilihan umum, kali ini adalah pemilihan Presiden yang paling seru di negeri kita. Presiden di pilih langsung oleh rakyat bukan untuk yang pertama kali, tapi bisa dikatakan momen saat ini mengalahkan demam piala dunia pada saat bersamaan. Dimana Presiden yang di pilih hanya dua, bisa dikatakan peluangnya pun fifty-fifty. Dimana – entah kenapa – rakyat seakan benar-benar mencintai calon Presiden pilihannya sampai membelanya mati-matian. Dimana kabar buruk tentang masing-masing calon Presidennya bersliweran di mana-mana.

Lalu bagaimanakah hasil pemilihan Presiden nanti?

Penulis di sini tidak akan membahas mengenai hasil survey atau elektabilitas kedua capres. Yang pastinya, saya yakin, pembaca pun pasti sudah muak mengenai hal tersebut di berbagai media.
Yang akan penulis bahas di sini adalah efek setelah diumumkan siapa nanti yang jadi the winner dalam pemilihan Presiden nanti.

Sebenarnya yang patut digaris bawahi kali ini adalah bukan siapa nanti Presidennya. Tapi bagaimana efek rakyat pendukungnya. Mungkin para capres itu akan legowo menerima kemenangan sang lawan. Tapi akankah pendukungnya yang selama ini sudah lebay menerima ‘kekalahan’ jargonnya? Lagipula bila kita lihat secara obyektif, kedua capres ini sama kuatnya, dan bisa jadi hasil Pilpres nanti beda tipis presentasenya ,,,,dan pastinya ada beberapa pihak yang tidak mau menerima. Masih mending bila hanya sekedar hitung ulang atau dilakukan pemilihan ulang – yang pastinya akan mengeluarkan dana besar – lalu bagaimana bila terjadi kerusuhan?

Apakah yakin nanti akan terjadi kerusuhan massa setelah Pilpres? Semoga saja tidak. Tapi yang jelas, ‘kerusuhan’ mengenai Pilpres pun telah terjadi saat ini. Banyak hal yang tidak ‘sehat’ seputar Pilpres 2014 ini, entah siapa provokatornya. Seperti kita tahu, ada kejadian dua tukang becak berkelahi karena meributkan capres idolanya masing-masing, lalu “perang” di sosial media menjatuhkan capres lawannya bagaikan orang yang tak ada kerjaan dan – maaf – tak menggunakan logika, padahal mereka adalah orang-orang berpendidikan, dan yang lebih memalukan justru tingkah media massa yang tergantung siapa ‘boss’nya…terlalu menjatuhkan lawan dan tidak netral dalam memberitakan kepada publik.

Entah kenapa Pilpres tahun ini jauh lebih ‘panas’ dan kurang sehat dibandingkan sebelumnya. Dan yang lebih aneh rasa cinta berlebihan kepada capres jargonnya atau benci berlebihan terhadap capres lawannya. Bahkan banyak yang bersumpah atau nazar terhadap hasil Pilpres nanti. Saya melihat di beberapa perkampungan Jakarta, dalam satu kampung mereka pro capres 1 atau 2….dan sepertinya rela mati bila “beliau” tak terpilih. Terus terang hal inilah yang membuatku khawatir akan terjadinya kerusuhan.

Bila yang bertingkah seperti ini hanyalah warga perkampungan kumuh atau tukang becak kita masih bisa maklum. Tapi ternyata banyak pula kaum intelek berpendidikan tinggi yang terkena ‘virus’ mabuk Capres ini. Bayangkan ada dosen di perguruan tinggi negeri di Jakarta yang rela di gorok lehernya apabila Prabowo jadi presiden nanti. Lalu ada pula seseorang dari kaum intelektual yang rela lari dari negeri ini bila Jokowi yang jadi presiden. Sungguh memalukan. Entah sekedar sumpah main-main atau serius,,,,who knows? Tapi bagi kaum intelek itu tidaklah pantas. Sebenarnya bila kita tidak peduli, silakan saja bunuh diri atau pindah ke negeri sebrang toh lumayan juga bisa mengurangi kemacetan di Jakarta bila berkurang warganya 😁

Dari kejadian tersebut, berarti tak hanya caleg gagal saja yang sakit jiwa, tapi seluruh rakyat Indonesia yang sakit jiwa. Bayangkan bila caleg gagal ke Senayan lalu stres mungkin itu adalah lagu lama dan wajar karena mereka merasa rugi dengan dana milyaran yang tidak ‘balik modal’. Tapi sepertinya sekarang akan ada lagu baru, tidak hanya sekedar calon wakil rakyat saja yang stres, tapi rakyatnya juga stress. Stress bila capres idolanya nanti tak terpilih dengan bunuh diri. Stress akan pindah ke negara mana bila capres favoritnya kalah. Stress mau pindah negara sedangkan tiket pesawat dan visanya saja selama ini di cover oleh perusahaannya yang merupakan instansi pemerintah. Dan makin banyak orang stress nantinya di sosial media atau bisa jadi para pemilik saham televisi swasta yang selama ini memihak ke jagoannya akan gantung diri karena kalah suara padahal sudah lumayan banyak keluar uang.

Para pendukung capres tsb pastinya sudah berusia dewasa, di atas 18 tahun, yang telah mempunyai hak pilih, namun jiwanya masih childish alias kekanakan. Bayangkan siapa yang hendak jadi Presiden, lalu siapa pula yang stress sampai ingin bunuh diri segala? Di bayar jadi tim sukses pun tidak, lalu buat apa capek-capek tiap hari posting keunggulan sang capres jagoan kita? Di sakiti oleh capres yang bukan pilihan kita pun tidak, lalu kenapa kita seperrtinya punya sentimen pribadi menertawakan dan menjatuhkan lawan? Di sewa jadi tim cenayang capres pun tidak lalu buat apa kita seperti yang sakit jiwa menghubungkan segala hal saat ini dengan pertanda siapa yang menang di Pilpres nanti?

Sungguh mengkhawatirkan memang hasil pemilihan Presiden tahun ini – siapapun yang menang – mengingat respon rakyat sebelum hari H nya pun sudah berlebihan. Bila rakyat terus ambisius seperti sekarang ini yang dikhawatirkan justru keamanan negri ini. Entahlah, apakah hal ini sudah dipikirkan oleh negara akan side effect dari over responsif sikap pendukung Capres tahun ini?
Yang jelas di butuhkan sistem keamanan yang jauh lebih diperketat dan pastinya rumah sakit jiwa pun perlu menambah lagi jumlah bed nya, bukan untuk calon yang gagal, tapi untuk pendukung yang calonnya gagal menang. 😓

Sangat miris yah….tapi memang begitulah kenyataannya. Entah siapa yang memulai dengan bermunculannya para pendukung yang mendewakan idolanya dan menghujat lawannya. Mungkin mental bangsa kita yang biasa di adu domba penjajah belum hilang. Masih berjiwa kekanakan. Buktinya hilang begitu saja logika dari kaum intelektual dan berpendidikan di sosial media…..hanya nafsu semata yang menguasai.

Padahal kalau kampanyenya damai, hasilnya pun pasti akan berjalan aman. Tak peduli siapa yang menang. Tak perlu saling sumpah bunuh diri segala. Tak perlu risau akan ada kerusuhan.

Ibarat umat muslim menuju hari kemenangan di hari lebaran, sebelumnya wajib menahan diri alias berpuasa selama sebulan lamanya. Setelah itu kita merayakannya dengan hari lebaran melalui silaturahmi, makan ketupat dan pakaian baru. Sama halnya dengan Pemilu Presiden; pemilu yang katanya adalah pesta demokrasi alias kemenangan rakyat. Bila ingin memilih yang bersih seharusnya kita belajar sebagaimana tradisi pesta kemenangan umat muslim yang setiap tahun dirayakan, sebelumnya dilakukan dengan menahan diri…bukan malah jadi perang di sosial media, seharusnya kampanye damai …bukannya saling sibuk mencari kejelekkan lawan. Bila sebelumnya kita damai, pastinya setelah Pilpres nanti pun sama halnya setelah lebaran kita bisa saling memaafkan bila ada kesalahan lawan, memberi selamat kepada yang menang, senang akan adanya Presiden baru….semuanya menikmati kan …sebagaimana hari lebaran😃

Sebentar lagi akan tiba bulan Ramadhan alias bulan puasa. Tak ada salahnya perkara saling ributnya pendukung capres ini pun ikut ber’puasa’. Cukuplah sudah segala postingan tentang capres jagoan kita. Cukuplah sudah kita berhenti menertawakan dan mencari kesalahan capres lawan kita. Cukuplah sudah segala sumpah serapah bila capres jagoan kita tak menang nanti. Bila kita ingin pemimpin yang “bersih”, maka kita pun harus memilihnya dari jiwa dan hati nurani yang “bersih” pula. Bersih dari segala prasangka, fitnah dan segala rumor negatif.
Dan semoga pemilihan Presiden nanti pun bisa diterima lapang dada oleh semua pihak, tanpa ada kerusuhan atau yang masuk rumah sakit jiwa….

Semoga……..

“Cintailah orang yang kamu cintai sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau benci. Dan, bencilah orang yang kamu benci sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau cintai.” (HR. At-Tirmidzi)

(Arlin Prananingrum)
Jakarta, 20 Juni 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s