Gosip

gosip

Makin digosok makin sip. Di Indonesia, sempat ada yang mempopulerkan gosip adalah singkatan dari kalimat tersebut. Tapi memang benar, yang namanya gosip yah makin digosok makin sip. Ibarat kita mencuci piring lalu makin giat kita menggosoknya maka makin kinclong pula piringya. Naah, buat gosip sendiri, makin digosok beritanya makin kinclong kan ceritanya🙂

Istilah gosip ini sebenarnya sudah sangat mendunia. Di seluruh dunia pasti tahu kata “gossip” dan mempunyai makna yang sama di semua tempat. Kosa kata “gossip” justru pertama kali diperkenalkan di dunia oleh sastrawan Shaskeapeare dalam karyanya The Comedy of Errors pada abad ke 16. Dalam karyanya ini, Shaskeapeare memperkenalkan istilah gossip dalam percakapan kedua saudara yang akan meneruskan sebuah berita heboh, dan bentuk penyiaran berita dari mulut ke mulut ini dinamakan “gossip”. Pada zaman itu, masyarakat belum mengenal kata “gossip”, tapi berkat karya Shaskepeare tersebut istilah “gossip” langsung mendunia yang didefinisikan sebagai sebuah kabar yang tersiar dari mulut ke mulut dan biasanya dari percakapan ringan lalu semakin heboh beritanya.

Isi dari berita gosip biasanya belum dapat dipastikan keabsahannya. Maklum, karena terus tersiar dari mulut ke mulut yang pasti tiap orang akan membawakan berita dengan gaya yang berbeda. Dan satu lagi penyebab tak jelas fakta dari gosip itu, makin di gosok makin sip! Makin seru kan bila ditambah beritanya sana-sini. Tapi makin patut dipertanyakan lagi kebenarannya. Bayangkan buat keramik berwarna hitam yang tiap hari di gosok jadi putih, pasti tidak ada yang tahu warna aslinya apa, apakah coklat, kelabu atau hitam🙂 yaah walaupun ada gosip yang benar, tapi biasanya tidak seratus persen.

Semua agama di dunia melarang kita bergosip. Meskipun kita semua tahu, tapi kerap dilakukan dan menjadi gaya hidup sehari-hari yang sulit ditinggalkan. Karena sangat mudah dilakukan, dan lidah memang tak bertulang, saat kita bersosialisasi dengan lingkup terdekat pastilah yang paling mudah salah satunya dengan bergosip. Terutama buat kaum hawa. Kita tahu hal tersebut berdosa, namun ini yang paling sulit ditinggalkan. Mungkin tepat seperti yang dikatakan raja dangdut Indonesia, bahwa semua yang asyik-asyik itu yang dilarang. Gosip itu memang asyik, makin digosok makin sip !🙂

Biasanya yang jadi korban gosip itu selebriti, kayak artis atau tokoh politik. Atau bisa juga orang-orang terdekat di sekitar kita yang punya ‘pengaruh’. Biasanya pasti bete jadi bila yang jadi korban gosip alias digosipin. Tapi ambil hikmahnya saja bila jadi korban gosip, yang jelas kesalahan pasti berkurang. Maklum saja, kesalahan orang yang digosipin sudah banyak di hapus oleh orang-orang yang suka ngegosipin mereka. Ibarat panci yang sering digosok abunya, pasti lama kelamaan akan bersih…naah demikian pula dengan “abu” kesalahan orang-orang yang jadi korban gosip, pastinya akan menipis kesalahan mereka karena sering kita ‘gosok’ dengan gosip:). Barangkali itu pulalah salah satu penyebab keringanan hukuman yang diberikan kepada artis, mungkin karena sering jadi korban gosip maka kesalahan mereka otomatis jadi lebih ringan.
Sekarang tinggal pilih, bergosip atau digosipin?:) mana yang lebih enak….digosok atau menggosok😀

One response to “Gosip

  1. Ping balik: Menilai Sebelum Melihat | story of the daily

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s