Hak Pembaca

Beberapa waktu yang lalu ada seorang yang membaca salah satu postinganku di blog ini dan dia langsung memberi komentar (bukan via blog) “ga mudeng” alias ga nyambung atau ga ngerti postinganku tsb. Yaah…, aku sih ga ngasih comment balik ke pembaca tsb, aku ga ngasih comment “ndablek lo…” atau berusaha mati2an ngejelasin kesimpulan postingan tsb kepada beliau. Menurutku wajar aja kalau ada pembaca yang ga ngerti, tiap orang kan punya sudut pandang dan persepsi yang berbeda. Ibaratnya dulu pas zaman sekolah aku baca buku pelajaran tapi ga ngerti…hehe…emang ga mungkin sih gw nanya ke penulisnya, pasti nanya ke guru sekolah..hehe,,,dan kemungkinan besar itu karena gw nya yang ndablek🙂

Terus terang sudah ratusan kali sih aku menulis, dan ada saja yang memberi komentar…entah berupa kritik, saran atau pujian. Tapi baru kali ini ada yang ngasih komentar “ga ngerti”. Sampai akhirnya aku berulang kali membacanya…yaah berhubung aku yang menulis sudah pasti mengerti. :p

Memang sudah menjadi hak pembaca untuk memberikan kritik dan saran kepada tulisan yang dibacanya. Ini juga sangat berguna kepada si penulis untuk memperbaiki kualitasnya. Selain suka menulis, aku juga suka membaca…dan tidak semua buku yang aku baca aku sukai…ada yang bikin ngantuk, membosankan, aneh, dll meskipun kata orang lain buku tsb bagus. Itu kembali ke urusan selera, sudut pandang, persepsi, dsb. Sama halnya menngapa pembaca mengapa pembaca mengkritik penulis. Penulis seharusnya lebih berbesar hati bila dikritik, itu tandanya sang pembaca benar2 ‘membaca’ tulisan kita dan dia menghargai kita untuk memperbaiki tulisannya.

Sejujurnya aku sendiri lebih senang bila ada yang memberi komentar buat tulisanku entah berupa kritik, saran, masukan, usul dsb. Yaaah…sekedar buat introspeksi bila ada kekurangan, dan terserah bila ada yang mau ngasih jempol, kelingking, jari manis, telunjuk atau jari tengah juga boleh🙂

Ku akui kecewa bila menerima surat redaksi bila naskahku di reject, bukan karena penolakannya, tapi mereka tak mengatakan apa yang menjadi kekuranganku. Padahal itu pun dari penerbit yang besar di Indonesia seperti Kompas dan Gramedia. Memang sih aku masih penulis kacangan buat penerbit besar seperti itu, tapi seharusnya sebagai penerbit ternama mereka juga memberi keterangan kenapa naskahku ditolak, agar aku tahu mana yang harus diperbaiki. Menurut teman bagus, tapi toh akhirnya di tolak juga. Tak masalah bila ditolak hanya saja aku tak tahu alasannnya kenapa ditolak. Yaaah….minimal bilang saja “ga ngerti” seperti pembaca postingan itu.Aku jadi berusaha menulis yang bisa di mengerti oleh dua sudut pandang; penulis dan pembaca. Ibarat film Hollywood yang pasti tak mengecewakan penonton😀

Bila kita terus berusaha memperbaiki karena adanya kritik dan saran. Dan someday karya kita bisa sebaik Goenawan Muhammad atau Muchtar Lubis. Berarti itu kan berkat jasa pembaca juga yang mau mengatakan pendapatnya mengenai karya kita’kan?

One response to “Hak Pembaca

  1. Ping balik: Komentar dengan Anonim dan Alamat Email Palsu | story of the daily

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s