Sang Pencerah


Membaca buku ini pun membuatku semakin bangga sebagai salah seorang anggota keluarga Muhammadiyah.
Novel karya Akmal Nasery Basral yang juga sudah difilmkan ini menceritakan tentang biografi dari Ahmad Dahlan, seorang tokoh pendiri Muhammadiyah. Buku ini sangatlah enak untuk dibaca, ceritanya sangatlah mengalir dan nyaman membuat kita larut terbawa suasana yang dibawakan oleh sang penulis.

Tidak hanya menceritakan sejarah KH.Ahmad Dahlan, akan tetapi mengenai sisi lain kehidupannya. Segi manusiawi dari Ahmad Dahlan yang sabar, pintar dan berani. Meskipun dia tahu bahwa dia mempunyai pandangan yang berbeda dengan orang-orang di sekitarnya; tapi dia berani menyampaikan idenya atau mengkritik sesuatu. Dan dia tetap sabar meskipun dikritik dan dicaci karena ia yakin bahwa dia benar.

Sosok Ahmad Dahlan yang diceritakan dalam buku ini benar-benarlah seorang tokoh yang patut dibanggakan.
Ternyata dalam mendirikan Muhammadiyah, perjuangan Ahmad Dahlan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Hal ini tidak pernah diceritakan oleh guru-guruku waktu aku sekolah di SD Muhammadiyah dulu.

Sekilas mengenai biografi Ahmad Dahlan dalam buku ini;
Seorang pria yang lahir dengan nama kecil Muhammad Darwis di Kauman, DI Yogyakarta, merupakan keturunan dari keluarga kyai. Salah satunya adalah Maulana Malik Ibrahim, seorang tokoh Islam yang menyebarkan Islam di pulau Jawa.
Darwis (Dahlan kecil) merasa kurang ‘sreg’ dengan situasi di kampung halamannya. Akan pembawaan Islam yang bercampur adat, yang dirasanya sangat aneh. Saat itu Islam seakan berbaur dengan kebudayaan Hindu-Budha dan sepertinya sudah mengakar di masyarakat.
Penyebaran agama Islam sebelumnya di pulau Jawa oleh wali songo memang melalui mencampurbaurkan dengan budaya yang sudah ada – Hindu dan Budha – agar masyarakat mudah beradaptasi dengan Islam sebagai agama yang baru. Namun sayangnya faham tersebut seperti ‘mandeg’, masyarakatnya tak jua maju untuk mempelajari Islam lebih mendalam dan melakukan pendobrakan ke arah yang murni Islam alias suatu “pencerahan”. Hal serupa pun dirasakan oleh Ahmad Dahlan (Darwis) yang merasakan banyak kejanggalan pada banyak ajaran Islam di kotanya.

Darwis merasa sangat aneh dengan acara selametan, nyadran, sajen dsb. Dia bahkan sering bertanya akan hal yang tak logis – akan tahlilan saat kematian di rumah orang tuanya – buat apa disajikan kue-kue bila tak dimakan dan buat apa pula memaksakan diri melakukan hajatan besar-besaran bila tak mampu sampai bela-belain minjam uang ke rentenir?
Darwis bahkan pernah bertanya secara terang-terangan di sebuah majlis pertemuan para kyai yang diajak ayahnya. Dia menanyakan apa perlu dilakukan tradisi adat seperti selametan yang sepertinya tak ada gunanya dan hanya membuang waktu saja. Ayahnya dan saudara-saudaranya yang juga para kyai memarahinya habis-habisan akan hal tsb.

Ketika beranjak dewasa dan telah meminang Siti Walidah. Darwis berniat pergi haji dan mempelajari Islam lebih dalam. Beliau pergi belajar selama beberapa tahun. Beliau berguru kepada banyak orang. Salah seorang gurunya adalah guru dari KH.Hasyim Asyari (pendiri NU) dan R.A Kartini juga.
Ketika pulang kembali ke tanah air dan menjadi kyai haji. Darwis berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Ahmad Dahlan langsung mendapat kepercayaan dari Kyai Penghulu (ketua dari para kyai di Yogyakarta) untuk menjadi salah satu khatib di Masjid Gede Kauman pada shalat Jum’at di depan Sri Sultan.

Namun, perjalanan Dahlan tidaklah semulus itu. Ceramahnya yang pertama di mesjid Gede yang terlalu ‘berani’ dengan mengatakan bahwa tradisi sesajen yang sedang marak saat itu adalah haram; beliau langsung hengkang dari jabatannya sebagai khatib di masjid Gede. Cara menyampaikan dakwah dan mengajar muridnya di langgar/surau yang dianggap massa sangatlah bertentangan dengan para kyai kebanyakan membuat ia banyak dimusuhi orang bahkan langgarnya pun dibakar massa. Namun Dahlan tetaplah sabar menghadapinya, dia tidak marah, dan terus bergerak untuk maju.

Gaya Dahlan memang unik dibandingkan para kyai pada saat itu, ia bermain biola, yang dianggap musik Londo – musiknya wong kafir. Berpakaian rapi dengan jas, sepatu, celana dan dasi seperti orang Belanda sehingga ia mendapat julukan kyai kafir. Mendirikan sekolah ala Eropa, dengan kursi-meja dsb, dianggap orang sekolah kafir. Walaupun dikritik Dahlan tak peduli. Menurutnya kereta, jalanan, dsb pun buatan orang kafir bila dikatakan kita haram menggunakan fasilitas buatan orang kafir maka kita tak bisa naik kereta dsb. Dahlan memang berpikir kritis dan modern. Dahlan pun banyak bergabung untuk diskusi dengan orang-orang Budi Utomo dan mengajar agama di Kweekschool – sekolah anak-anak para warga Belanda yang tinggal di Indonesia. Hubungannya dengan kyai penghulu dan kyai-kyai lainnya – termasuk saudara kandungnya tidaklah mulus.

Tapi berkat kedekatannya dengan para aktivis di Budi Utomo dan pejabat Belanda lainnya, tercetuslah ide untuk mendirikan sebuah organisasi. Organisasi Islam di Indonesia yang akan memperbarui segala bentuk fatwa agar sesuai dengan Al Qur’an dan hadist yang dibawakan oleh Rasulullah SAW. Dengan berlandaskan “amar ma’ruf nahi munkar” atau mendekatkan kepada kebenaran dan menjauhi keburukan. Tujuan utama menghilangkan ajaran Islam yang masih bercampur kebudayaan tradisionil (seperti sajen dsb) dan akhirnya jadi salah, semuanya kembali menurut Al Qur’an dan sunnah. Ahmad Dahlan mendapat ide mendirikan organisasi bernama “Muhammadiyah” bersama para muridnya yang berarti “para pengikut Nabi Muhammad”.
Izin untuk mendirikan Muhammadiyah di kotanya pun tidaklah mulus walaupun akhirnya disetujui dan akhirnya Ahmad Dahlan bisa rukun kembali dengan kyai lainnya. Dan siapa yang sangka bahwa kini – 100 tahun kemudian – Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Sungguh…, tak sia-sia perjuanganmu selama ini, Dahlan…

Walaupun banyak teman-teman yang mungkin sudah menonton film ini, tapi tak ada salahnya untuk membaca bukunya juga…sangat bagus dan banyak quotes menarik yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari di buku ini. Cocok sebagai panutan bahwa pepatah “berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian” adalah benar adanya. Kita jangan mudah menyerah untuk berjuang mencapai sesuatu.

One response to “Sang Pencerah

  1. Aku dah liat film Sang Pencerah….lumayan

    Ada beberapa hal yang perlu dicermati, jangan sampai salah paham.

    Beliau memang seorang pembaharu. Namun Pak Dahlan ini bukan orang liberal yang menafsirkan Al Quran berdasar nilai-nilai barat. Beliau mengembalikan Islam kepada Al Quran & Hadits dan berpegang teguh kepadanya. Beliau tidak pernah merubah tafsir agar sesuai dengan kebudayaan barat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s