Harta dan Aurat (1)

Untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, manusia pasti menyimpan uang atau harta lainnya yang bisa diuangkan. Entah berupa tabungan, saham, deposito, kartu kredit, emas dan sebagainya. Kita perlu makan dan tempat tinggal dan masih banyak kebutuhan lainnya. Untuk itu kita perlu harta.
Harta sangatlah berharga bagi kehidupan manusia di dunia. Karena begitu berharga, kita sangat menjaga harta supaya tidak habis begitu saja karena konsumtif, kemalingan atau tertipu.

Agar tidak tertipu saat membuat asuransi atau tabungan jangka panjang, manusia haruslah sangatlah teliti mempelajari keuntungan dan kerugiannya. Jangan hanya tertipu rayuan manis sang dealer. Kalau ceroboh sedikit saja yah…jangan kaget bila nanti selalu ada tagihan menumpuk di rumah dengan jumlah yang tak terkira dan hampir setiap hari kita ditelpon untuk melunasi hutang yang sudah lewat batas temponya. Para dealer juga tidak mau disalahkan karena memang kita yang sudah menandatangani kontrak; kita dianggap sudah sepakat dengan semua perjanjian yang ada.
Atau biasanya banyak juga yang latah karena terpancing gaya hidup tetangga kita yang selalu memakai kartu kredit, kita jadi ikut-ikutan, kesannya jadi manusia modern lah yang selalu bawa credit card. Tapi kalau setahun kemudian mobil kita terpaksa dijual karena hutang, tetangga juga tidak bisa disalahkan.

Pada hakikatnya sama dengan aurat. Terutama aurat wanita, yang sangat luas cakupannya dan harus selalu dijaga oleh pemiliknya. Aurat adalah bagian yang tidak patut kelihatan di hadapan orang lain dan berbeda-beda menurut status dan kelamin mereka. Bila tidak ingin mengalami kerugian dan miskin di dunia kita harus selalu menjaga harta, begitu pula dengan aurat. Wanita yang tidak memperlihatkan auratnya kepada orang yang tidak halal baginya, ia akan mendapat keridhaan dan disediakan surga baginya bersama orang-orang yang bertakwa. Aurat wanita sangatlah berharga bagi pemiliknya ibarat harta. Hanya saja harta tidak akan bisa dibawa ke liang kubur sedangkan aurat selalu dibawa pemiliknya sampai mati. Harta sebagai modal kita di dunia, sedangkan aurat yang dijaga sebagai modal kita di akhirat.

Sama halnya dengan menjaga harta untuk menjaga aurat pun tidak bisa dilakukan sembarangan. Sebelum memutuskan menutup seluruh auratnya di luar waktu shalat (mengenakan jilbab) seorang wanita juga harus mempelajari rambu-rambunya terlebih dahulu entah dari Al-Qur’an, hadist atau buku. Kalau tidak tahu dasar-dasarnya dengan teliti, sama saja bila kita sembarangan menggunakan credit card, kita sendiri pun akan terjerumus pada kesalahan atau dosa. Tidak heran, apabila sekarang banyak selebritis yang tiba-tiba memutuskan membuka penutup auratnya karena mungkin niatnya kurang kuat atau awalnnya mereka mengenakannya hanya sekedar mengikuti gaya yang sedang trend.

Saat telah dewasa, semua niat untuk melakukan hal-hal yang baik diusahakan dari diri sendiri, tidak seperti anak kecil yang harus disuruh-suruh untuk mandi, belajar, shalat atau puasa. Begitu juga keputusan seorang wanita muslim untuk menutup auratnya, diupayakan dari niat sendiri bukan dari ajakan orang lain. Seorang wanita muslim dewasa pasti telah mengetahui hal-hal terbaik yang harus dilaksanakannya, sedangkan pelaksanaannya hanya soal waktu. Tidak perlu ada paksaan bila seseorang merasa belum ingin melaksanakan sesuatu yang baik, ibadah terbaik dihasilkan bila dilakukan atas niat diri sendiri bukan karena paksaan. Bila telah terbentuk niat dari diri sendiri, kita pasti akan berusaha mencari tahu dan mempelajarinya sendiri apakah aurat wanita itu, kepada siapa saja aurat boleh diperlihatkan, siapa sajakah yang termasuk muhrim kita, bagaimana cara menutup aurat terbaik, batas-batas manakah yang termasuk aurat wanita, dsb. Bila telah didasari niat kuat, mempelajari dan melaksanakannya, kemungkinan besar kita tidak mudah terjebak oleh godaan atau kecerobohan yang mengakibatkan kita membuat kesalahan besar.

Tanggung jawab ada pada pribadi masing-masing. Sama halnya dengan tagihan hutang yang menumpuk karena kita seenaknya saja menggunakan credit card. Pihak Bank pasti akan menyalahkan kita karena kita yang telah menandatangani perjanjian dan melakukan transaksi. Sepenuhnya tanggung jawab kita, bukan kesalahan Bank atau barang-barang yang kita konsumsi dengan credit card. Begitu pula bila kita telah menandatangani kontrak untuk menutupi aurat kita, bila terjadi kecerobohan atau kesalahan, sepenuhnya tanggung jawab kita – bukan lingkungan sekitar kita.
Tetapi berbeda bila kita punya hutang dimana pihak Bank tiada ampun menagih kita; ‘kecerobohan’ atau kelalaian kita dalam menjaga aurat masih diberi toleransi, yaitu taubat. Manusia tak pernah luput dari lupa dan kesalahan. Dan Allah selalu menerima taubat hamba-Nya bila kita bertaubat.

~arlin, 15/03/08~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s