Mudik

Yang paling berkesan bagi kita dan heboh beritanya menjelang lebaran adalah mudik.
Sebenernya mudik ada ga sih di kamus besar bahasa Indonesia atau cuma perkataan kita sehari2 aja?
Ternyata memang ada, di kamus WJS Poerwadaminta ditulis definisi mudik adalah pulang ke udik, atau pulang ke desa. Mungkin juga mudik awalnya singkatan dari mulih ke udik.
Tapi apa selalu kampung halaman kita identik dengan udik atau desa?

“Arlin, ga punya kampung ya…?”
Itu pertanyaan yang diajukan dari seorang bossy ke saya waktu mau pamit ‘mudik’.
Banyak yang sangsi waktu saya tuh mau mudik, mereka bilang saya ‘ngota’.
Karena saya mau pulang ke kampung halaman tempat ortu yang di Jakarta dari tempat saya kerja di Bandung. Selama ini mudik identik dengan orang2 yang kerja di Jakarta pulang ke kampung halamannya di luar Jakarta. Karena yang ramai memang jalur pantura, dimana banyak orang ke arah Jawa Tengah dan Jawa Timur, atau pelabuhan Merak tempat orang mudik ke Sumatra.
Sedangkan di Jakarta pasti jadi sepi pas lebaran.

Sebenarnya yang dinamakan kampung halaman adalah tempat ortu kita berada dan tempat kita dibesarkan sedari kecil – entah di desa atau di kota - saudara2 kita pun pasti ngumpul di sana pas lebaran, yang jelas tempat kita silaturahmi dengan sanak saudara yang paling dekat dgn kita setelah lama ga ketemu krn kerja, kuliah, atau rumah tangga baru. Kurang lebih seperti itu definisi kampung halaman kita, pastinya sih ada ortu kita dan saudara kandung. Sebenarnya bisa aja, tiap orang pasti punya lebih dari satu kampung halaman, karena saudara kita kan banyak. Tapi tempat mudik utama kita pasti yang ada ortunya. Setelah berkeluarga kita pasti punya mertua, ipar, dsb, pasti kampung halamannya kan nambah banyak. Untuk mudik kita pasti memutuskan mana yang masih lengkap saudara kandung atau ortu. Bila ortu, sudah tak ada, biasanya kita hanya nyekar ke tempat peristirahatannya seb. lebaran. Dan biasanya diputuskan juga sesuai dana dan kondisi fisik kita mau mudik ke arah mana.

Kayak ortu gw pribadi, memang tinggal di Jakarta, namun aslinya mereka bukan asli Jakarta. Dulu gw biasa mudik ke Jawa, tapi mbah gw sudah almarhum dan saudara kandung ortu gw memang tersebar hampir di seluruh wilayah Jawa namun yang paling banyak terkumpul dan alhamdulillah masih sehat yah di Jakarta. Sedangkan ibu dari nyokap gw (nenek gw) tinggal di Jakarta. Jadi tujuan mudik gw dari Bandung pasti Jakarta. Begitu pula saudara2 sepupu gw yang sudah berkeluarga dan tinggal di luar kota, pas lebaran mereka mudiknya juga ke Jakarta. Yang tinggal di Jakarta, juga kebanyakan sudah beranak cucu, otomatis kampung halaman mereka pasti Jakarta. Sepertinya banyak juga warga Jakarta lainnya, yang memang itulah kampung halaman mereka walaupun nenek moyang mereka bukan Betawi asli.

Sepertinya Jus Badudu dkk, harus memperbaiki definisi mudik di kamus besar Bahasa Indonesia. Sekarang mudik tidak identik dengan pulang ke desa, bisa diidentifikasikan pulang ke kampung halaman tempat famili dan sanak saudara berkumpul dst. Definisi mudik harus diperluas lagi dengan etiologi dan klasifikasinya.

Kampung halaman juga tidak identik dengan “kampung” atau “desa” saja. Walaupun sudah berwujud kota besar, tapi tetap saja buat orang ybs pasti itulah kampung halamannya tercinta.Bayangkan saja, masa temen2 gw yang PTT di Jambi, saat dia mau mudik ke Bandung, ga bisa dibilang mudik? Hanya karena Bandung berwujud kota besar…padahal memang Bandung-lah kampung halaman tercintanya. Lanjut membaca

Puasa Panas

Apa yang terkesan pada bulan puasa tahun ini?
Yang jelas bagi saya pribadi, dan saudara2 di sekitar lokasi saya, daerah Jawa Barat dan Jakarta, entah di daerah Jawa lainnya atau propinsi lain di Indonesia. Cuaca panas. Itu yang sangat dirasakan pada bulan puasa kali ini. Setiap hari sejak pukul 6 pagi sampai 5 sore, matahari bersinar sangat terang dengan panas yang menyengat. Seharusnya, bulan puasa kali ini yang jatuh pada bulan September, menurut ilmu yang dulu pernah dipelajari mengenai cuaca, jatuh pada musim hujan. Namun kali ini jauh berbeda.

Saat menjalani puasa tengah hari terasa panas yang menyilaukan mata. Terasa penat kepala sambil menahan dahaga. Keringat terus membasahi tubuh saat shalat tarawih. Saat membaca Al Qur’an di malam hari pun terasa panas, padahal kita hanya sendiri saja di kamar saat itu. Bangun sahur pun terasa gerah, membuat kita malas makan dan hanya ingin minum lalu tidur kembali. Sepanjang siang menjalankan puasa kita malas beribadah, karena pusing dengan sinar mentari, membuat kita selalu ingin tidur dan berbaring di lantai.
Puasa kali ini benar2 butuh kesabaran extra. Kita diuji juga dengan faktor cuaca.
Pohon2 besar di Bandung memang sudah berkurang sekarang.
Ternyata efek dari pemanasan global sangat berpengaruh terhadap ibadah puasa kita di ramadhan kali ini.

Saat jalan ke Pasar Baru untuk shopping persiapan lebaran kemarin pun panasnya luar biasa. Kondisi pasar memang padat seperti saat menjelang lebaran sebelumnya. Namun kali ini ditambah oleh silaunya sinar matahari dan gerah. Tawar menawar pun terasa lebih “panas”.

Yang saya bayangkan dalam cuaca panas kali ini adalah saudara2 saya sesama muslim yang saat ini sedang mudik ke kampung halamannya tercinta. Bayangkan saja, masih menahan lapar dan haus, panas tak karuan di terminal, keringat mengucur di bis yang berdesakan, tangan terasa berat membawa pakaian salin dan beberapa kardus oleh2 untuk saudara, anak menangis di gendongannya, terus menahan kantuk karena takut dicopet. Subhanallah. Sungguh luar biasa kesabaran saudara kita yang tengah mudik kali ini. Mereka banyak mengorbankan dirinya demi bersilaturahmi dengan saudaranya tercinta. Semoga saja mereka senantiasa diberi kekuatan dan perlindungan Allah.

Sebenarnya kesabaran puasa kita di tanah air ini mungkin tak seberapa dibandingkan saudar2 kita di belahan bumi lain. Kita hanya diberi cuaca panas. Sedangkan saudara kita di Palestina, Afghanisyan, Pakistan dsb, diberi sesuatu yang “lebih panas” Mereka senantiasa ketakutan akan tank2 militer dan tentara2 lainnya. Mereka belum tentu bisa berbuka puasa seenak yang kita nikmati. Mereka belum tentu bisa menikmati shalat tarawih dan qiyamul lail senyaman kita. Walaupun telah dijanjikan gencatan senjata…tapi sepertinya itu hanya “janji manis” saja. Tetap saja ada serangan yang tak terduga dan mengancam jiwa.
Semoga semua saudara kita di manapun dapat mendapatkan nikmat dan perlindungan saat ramadhan kali ini. Semoga saja semuanya mendapatkan pahala ramadhan yang mulia.

Malam Seribu Bulan

Sesungguhnya, Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan.
Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.
Pada malam itu, turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar
.
(Al Qadr: 1 – 5)

Tak terasa bulan puasa kali ini telah berjalan hampir dua minggu atau telah lewatnnya sepuluh hari pertama bulan ramadhan.
Menurut hadist Muslim diriwayatkan turunnya lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Untuk penentuan jatuhnya malam lailatul Qadr memang berbeda-beda riwayatnya; ada yang mengatakan tanggal 17, malam ke-21, malam ke-27, malam yang ganjil. Tidak ada yang tahu persis jatuhnya malam lailatul Qadr, tapi secara umum disimpulkan jatuhnya pada bulan Ramadhan, terutama pada sepuluh malam terakhir dan pada malam yang ganjil.

Malam lailatul Qadr adalah malam yang mulia, dimana malam ini adalah malam diturunkannya Al Qur’an kepada Rasulullah SAW. Lailatul Qadr bermakna pengaturan dan penentuan. Malam ini sungguh mulia sepanjang malam hingga terbit fajar, sangat mulia dimana cahaya langit malam bersinar terang, halus dan berbinar-binar karena pada malam ini berturunan malaikat ke muka bumi untuuk mengatur segala urusan.

Semua umat muslim mengharapkan mendapatkan malam ini. Mereka semua berharap agar shalat atau ibadahnya dapat diterima pada malam ini.
Barangsiapa melakukan shalat sunnah pada malam lalilatul Qadar karena iman dan ikhlas, maka diampunilah dosanya yang telah lalu” (H.R Bukhari dan Muslim)
Kita pasti telah merasa bahwa kita telah melakukan banyak kesalahan semasa hidup kita. Maka Ramdhan adalah kesempatan terbaik untuk mensucikan diri. Dan bila kita mendapatkan lailatul Qadar? Subhanallah.

Pada malam ini dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, ditetapkan segala norma, nilai-nilai kehidupan yang prinsip, ditentukan pula kadar umat, ditetapkan nilai-nilai yang agung. Dan semua urusan itu langsung diurus oleh para malaikat dengan utusan langsung dari Allah SWT. Malaikat turun langsung ke bumi untuk menyelesaikan urusan seluruh umat karena diperintah oleh Allah SWT…..subhanallah…. oleh karena itulah malam ini disebut malam yang mulia.

Malam ini lebih baik dari seribu bulan. Kata “seribu” disini tidak berarti suatu batasan bilangan. Malam ini jauh lebih baik daripada beribu-ribu bulan bagi kehidupan manusia. Arti “seribu bulan” disini maksudnya kebaikan yang tak terhingga masanya.

Datangnya malam lailatul Qadr ini hanyalah rahasia Allah semata. Tidak ada tanda-tanda alam tertentu yang menunjukkan datangnya malam ini, walaupun pada malam yang agung ini terjadi festival alam semesta yang luar biasa karena turunnya para malaikat. Gejala-gejala festival alam itu tak bisa dilihat oleh mata manusia biasa. Semuanya rahasia Allah SWT.
Oleh karena itu, bila kita mempunyai keinginan agar mendapatkan malam ini berusahalah untuk selalu beribadah dengan iman dan ikhlas sepanjang malam. Terutama pada bulan Ramadhan. Bila kita mendapatkan malam ini, insya Allah Lanjut membaca

Marhaban Ya Ramadhan

Marhaban ya ramadhan
Selamat datang ramadhan
Bulan penuh ampunan
Dan dinantinya malam seribu bulan
Bulan penuh kesabaran

Atas segala keridhaan
Kuhaturkan segala permohonan
Atas segala kesalan
Atas seluruh ketidaksabaran
Atas segala kesalahan
Yang selama ini telah kulakukan
Kemohohan atas segala kemaafan
Dari seluruh rekan-rekan sekalian

Kusampaikan keikhlasan dan senyuman
Atas maaf yang kusampaikan
Dan terima kasih tak terkirakan
Atas penerimaan maaf kalian