Kenaikan Harga BBM : Sebuah Lagu Lama

Demo, stok bbm kosong di beberapa pom bensin di daerah, harga sembako naik,antrian panjang isi bensin..selalu saja pasti terjadi menjelang kenaikan harga bbm. Ibarat lagu lama…pasti itu sudah dapat diterka bila bbm akan naik harganya.

Bukan pertama kalinya negeri kita mengalami kenaikan harga bbm. Pastinya sudah sering..bayangkan dari dulu saya naik bus Patas saat SMA di Jakarta dari jl.Pemuda sampai Kalimalang hanya Rp.500,- !! Terbayang kan murahnya harga bbm saat itu…kendaraan umum di Jakarta saja murah. Berarti sudah berapa kali kita mengalami kenaikan harga bbm?
Yang jelas ini bukan pertama kalinya.

Lalu mengapa mahasiswa dan massa harus mengamuk?

Ini hanyalah sebuah lagu lama. Yang indah bila dikenang kembali. Memang awalnya masyarakat resah saat harga sembako naik..tapi seiring dengan itu angka kebutuhan hidup berarti naik yang menandakan kita bukan bangsa miskin. Dengan kebutuhan hidup yang makin tinggi harganya, masyarakat akan berusaha bekerja makin giat..gaji makin tinggi dsb. Akhirnya pendapatan negara pun bertambah.

Untuk memutuskan kenaikan harga bbm tidak sembarang ketuk palu saja..pastilah sudah dipertimbangkan segala impact dari segala bidang. Dan pastinya sudah dipertimbangkan dalam waktu yang sangat lama.

Lalu kenapa tiba2 banyak fraksi yang berubah pikiran sehingga menolak kenaikan harga BBM?

Banyak faktor. Salah satunya adalah ‘cemen’ mereka takut massa semakin mengamuk dan dukungan massa terhadap partai mereka untuk pemilu mendatang semakin kecil.
Padahal harga BBM di Indonesia paling murah di Asia.
Harga bensin di kita jauh lebih murah dari iuran PAM, sampah, atau keamanan. Atau bahkan jauh lebih murah daripada biaya kebutuhan pulsa mahasiswa yang lagi sibuk demo anti kenaikan bbm.

Setiap hari kebutuhan mahasiswa saat ini mampu buat chatting, facebook-an, sms, internet, laptop, ke kafe gaul, nongkrong ga jelas, nonton sama pacarnya tapi ribut dengan kenaikan bbm yang hanya ‘cenggo’ alias 1.500? Padahal buat beli galaxy tab, ipad udah abis berapa?

Katanya kita tidak ingin kemacetan…tapi bila harga bensin murah, wajar saja tiap orang lebih memilih bawa kendaraan pribadi (yg semakin mendukung macet) daripada naik kendaraan umum.
Lihatlah negara tetangga kita seperti Singapura, harga bensin Rp.15.000,- dan banyak yang naik subway alias kendaraan umum lain saking mahalnya bensin. Hasilnya? Negaranya juga tertib dan bebas macet…

Kita ga mau jadi negara miskin, ga mau macet, tapi masa sih masih menolak kenaikan harga BBM??? Coba yang demo….pikir baik2 sebelum menolak…

Kita sudah berapa kali naik harga BBM…kok masih ngamuk.
Bila kalian pro rakyat (katanya) namun mengapa merusak fasilitas rakyat yang nanti juga akan menggunakan uang rakyat buat memperbaikinya?

Sebelum anarkis…berpikirlah…..

Sidang Pariporno

Seorang anggota DPR ‘tertangkap basah’ lagi asyik nonton tayangan porno dari gadget pribadinya. Dia pun terus menyangkalnya. Bodohnya lagi saat menyangkal, terlihat sekali gaya bicaranya yang emosi, jauh dari gaya seorang intelek. Dia bilang dia tidak nonton dia ‘hanya’ melihat beberapa menit. Apa sih bedanya nonton dan lihat? Anak TK bilang nonton tivi itu liat tivi dan berhubung dia anggota DPR yg identik dengan anak TK (kata alm.Gus Dur) berarti dia “nonton”.

Beliau menyangkal dgn mengatakan tak sengaja membuka link dari email yg dikirim padanya dan tyt isinya ‘begituan’ lalu langsung menutupnya. Biasanya set.kita membuka link yg kita tidak tertarik..waktunya hanya bbrp detik, tidak sampe 2 menit Pak! Lagipula terlihat jelas Arifinto ketika terekam oleh wartawan tampak asyik melihat tayangan di layar gadgetnya. Saking asyiknya dia sampe ga ngeh kalo di belakangnya ada fotografer yang nge-shoot nya atau tampak masa bodo dengan rekan2nya yg baru saja walk out soal pembuatan gedung baru DPR. Jangan ngeyel aja Pak, massa tuh tidak sebego teman2 anda :) Ijazah kita justru asli tidak asal dibeli.

Parahnya lagi sikap anggota DPR ini justru saat sidang. Lagi2 ada aja kelakuan buruk anggota DPR saat sidang selain tidur, ngomdo, fesbukan, twitteran..jauh lebih buruk dari anak SD..memang cocok jadi anak TK. Yaah..dan yg tertangkap basah nonton porno (lihat) baru 1 orang entah yg tidak ketahuan.
Lagipula..untuk kelakuan spt itu sama saja spt kita baca buku, menjahit di kala senggang alias kebiasaan. Yaaah bisa jadi bukan satu kali pula yg ketangkep basah melakukan ‘hal’ itu satu kali. Soal dia mengundurkan diri, bisa jadi biar lebih sering kali yah pak..dan ga ketahuan bukan soal kebersihan partai.

Lebih parah lagi pendapat di twitternya Tiffatul Sembiring (mentwitnas-mentri pertwitteran nasional);mentri yg ngurusin departemen tuit2..tiap detik kerjanya twitteran mulu sampe jempolnya kapalan. Di twitternya, membandingkan kelakuan nonton porno saat sidang dengan dosa besar. Intinya hal itu bukanlah dosa besar,dan membela sikap Arifinto..entah krn satu partai, dia jg menyanjung saat dia keluar dari dewan. Dan mau menyelidiki situs yg dikunjungi Arifinto (atau mau ikutan nonton juga). Memang bukan dosa besar, tapi bila dilakukan berkali2 suatu kebiasaan yg menyimpang dari ajaran agama, bukankah itu juga dosa?

Lagipula aneh pernyataannya Tuitfatul ketika menjunjung sikapnya anggota dpr yg angkat kaki begitu saja. Seolah2 dia malah tidak mau bertanggung jawab akan sikapnya padahal masih banyak tanggung jawab lainnya di sidang ..salah satunya yah soal gedung mewah DPR. Kesannya malah memanfaatkan sikon untuk lari dari tanggung jawab dan ….malu..,mungkin sudah cukup fasilitas yang didapatnya sbg anggota DPR.

Sungguh malang negeri ini. Bagaimanakah para pemimpin dan penguasa di negeri ini? Yang satu gemar nonton porno..sementara menterinya sibuk twitteran melulu..DPRnya malah berencana membangun taman bermain untuk siswa taman kanak-kanaknya.
Sampai kapankah ada pemimpin adil yg bijak dan pandai di negeri ini??

Makzul

Akhir-akhir ini kata ‘makzul’ sedang ngetrend di Indonesia.

Tapi apakah banyak rakyat kita yang tahu arti dari ‘makzul’ itu sendiri?

Demikian pula dengan saya sendiri, demi melihat arti ‘makzul’ sampai bela-belain beli kamus bahasa Indonesia serapan karya Jus Badudu. Saat saya menng-update status di Facebook dengan kalimat di atas, ternyata banyak teman2 saya yang balik bertanya “jadi…, apa sih artinya makzul? Gue penasaran..”
Nah, terbukti kan memang belum banyak yang tahu arti kata makzul…

Di kamusnya Jus Badudu, saya lihat bahwa “makzul” adalah kata serapan bahasa Indonesia yang diambil dari bahasa Arab. Artinya adalah Lanjut membaca

Cas-cis-cus si Pansus

Sidang Pansus Bank Century hari Senin, 18 Januari 2010 (sedikit cuplikan):
Anggota Pansus dari FPDIP : Sejak kapan bapak kenal Pak Marsillam?
Darmin Nasution : kira2 sekitar tahun 70’an
Anggota Pansus dari FPDIP : Bapak tahu kantornya di mana?
Moderator sidang : Maaf bu, sepertinya pertanyaan ibu nggak nyambung ke pokok permasalahannya
Anggota Pansus dari FPDIP tsb : suka-suka saya dong. Ini kan hak saya untuk bertanya.
****
Maaf yah, bila ada yang tersinggung. Tapi semua orang kan juga punya hak untuk berpendapat, tidak hanya di sidang tapi di media apa saja. Termasuk di sini.
Bayangkan, sidang Pansus untuk kasus bank Century yang terbuka disaksikan oleh public lewat TV, rasanya pengin nimpukin pake sandal. Termasuk oleh pembantu saya sendiri, ia yang tidak tahu banyak dunia politik saja marah “Neng, kenapa sih itu yang nanya kok sewot begitu terus pertanyaannya diulang2 padahal kan sudah di jawab baik2.”
Saya hanya tersenyum mendengarnya. Suer, itu hanyalah pernyataan polos dari seorang pembantu yang tidak tamat SD. Apalagi keluhan di facebook dan twitter yang dari orang2 lebih berpendidikan mengenai sikap para Pansus. Hampir semua orang mengeluhkan etika moral orang2 Pansus saat bertanya kepada para saksi terkait kasus Bank Century. Mereka bertanya bagaikan preman, ngotot dan marah2….apalagi kalau si saksi bisa menjawab santai dengan jawaban intelek, si Pansus tak pernah puas bahkan terus saja mengulang pertanyaannya. Kesannya jawaban saksi selalu salah, para Pansus kelihatan jelas ingin menjatuhkan seseorang di sidang itu.
Hal serupa telah dikemukakan oleh Syafi’I Maarif mengenai tata krama para tim Pansus dalam bertanya dan sikapnya juga di sidang. Terbukti pada saat sidang Sri Mulyani yang seharian penuh. Sri Mulyani telah lelah tapi para anggota Pansus justru kelihatan ‘memanfaatkan’ hal ini. Apakah mereka tak tahu kemampuan fisik seorang wanita, yang mungkin saja dia sedang haidh dsb? Sebagai sesama kaum wanita, saya sendiri tak terima hal ini. kelihatan jelas sekali mereka ingin menjatuhkan Sri Mulyani, dan sikapnya tidak seperti seorang yang berpendidikan. Jauh lebih baik sikap mahasiswa yang sedang sidang ujian dan para dosen, dekan serta rektornya.
Selain dari etikanya yang tak ada sama sekali, pertanyaan yang diajukan tim Pansus-pun tak ada mutunya serta berputar-putar tak karuan. Dan bila dijawab mereka malah semakin ngotot. Mereka marah bila si penjawab langsung menjawab, mereka langsung protes “maaf, saya belum selesai bertanya!” Tapi bila ketua sidang berusaha menyudahi tim Pansus mereka malah nyeleneh “Maaf, saya punya hak yah buat bertanya.” ……coba pikir, masa yang punya hak hanya si penanya saja, terus apakah si penjawab sama sekali tak diberi hak? Katanya mereka ingin menegakkan keadilan, tapi KENAPA SIKAP PANSUS SAMA SEKALI TAK ADIL?
****
Beberapa contoh pertanyaan tak becus dari Pansus saat sidang Senin kemarin:
@ Sore hari, ketika pemeriksaan Darmin Nasution:
Fahri Hamzah yang terus menerus menanyakan definisi uang negara kepada Darmin Nasution. Darmin telah menjelaskan beribu kali, tapi Fahri Hamzah tetap tidak puas dan terus menerus menanyakan beberapa definisi kata kepada Darmin. Oala , pak Fahri emangnya ini ulangan SMA, dimana kita mesti hapal definisi kata? Kalo mau tahu definisi, lihat aja di Wikipedia pak… btw apakah Fahri Hamzah itu tahu ga yah yang namanya Wikipedia :P
@ Malam hari, ketika pemeiksaan Marsillam Simanjuntak :
Sejumlah tim Pansus dari fraksi Golkar ngomel2 ga jelas kepada Marsillam mengetahui narasumber dsb. Marsillam justru bisa menjawab santai dan intelek, tapi si penanya nggak mau ngaku kalah, terus aja pertanyaan di ulang2 sampai akhirnya di stop oleh sang ketua sidang.
Salah seorang penanya dari fraksi Golkar juga sewot mengenai tandatangan kehadiran Marsillam pada rapat KSSP. Marsillam sudah menjelaskan bahwa ia memang hadir, tapi tanpa perintah presiden. Si Penanya masih belum puas malahan dia minta tandatangan langsung Marsillam saat itu juga sebagai bukti. Sempat dicegat sang ketua sidang karena penjelasan Marsillam sudah cukup. Tapi si penanya tsb malah terus ngomel minta tandatangannya saat itu juga….Marsillam bersedia dan dia malah menantang “mo minta tandatangan saya berapa?”….ckckck bapak dari pohon beringin, istrinya nge-fans banget yah sama Marsillam jadi nitip minta tanda tangan, atau mau latihan nyoba malsuin tanda tangannya?
@ Malam banget, masih pemeriksaan Marsillam Simanjuntak :
Raden Pardede marah-marah sampe kelihatan di tv ludahnya muncrat kemana-mana gara-gara saat bertanya, Marsillam menolehkan kepalanya. Dikiranya Marsillam mau nyari pendukung.
Please deh pak Raden Pardede, wajar aja kali kalo Marsillam nengok kiri-kanan sebentar, dia pasti pegel banget seharian harus ngeliat ke arah lo mulu…ngeliat kea rah lo dan temen2 lo yang ngomel, marah,sewot, dan ga becus itu…belum lagi Pak Raden Pardede kan ngomongnya muncrat, ya iyalah Marsillam kan ga bawa tisu dan payung…
****
Sebenarnya tim Pansus itu kan pasti dari orang2 terpilih untuk menyelesaikan kasus Century. Pansus pasti dibayar mahal. Tapi bila sikap dan pertanyaan sama sekali tak bermutu, maaf saja yah Lanjut membaca

Boediono

Calon Wapres yang dipilih SBY ini – memang banyak pro kontra. Yah, wajarlah namanya juga mo jadi wapres pasti banyak yang heboh. Waktu saya pulang lewat ITB sebelum deklarasi SBY-Berbudi – H min 1 – banyak spanduk yang menentang dia. Ada kata2 yang lucu :”Say no to Boediono, say yes to Budi Anduk”. Lucu juga.
Memang pemilihan Boediono ini benar2 surprised banget. Sebelumnya udah banyak partai yang mo koalisi n masing2 partai banyak yg berebut kuasa pengen nyalonin orang dari partainya buat jadi cawapresnya SBY.

Yah…namanya soal berebut kuasa…orang memang suka lupa diri, awalnya hanya menebar janji, tapi mereka inget ga kalo janji itu adalah hutang yang harus dibayar? Apalagi hutang kepada seribu massa setanah air?

Kembali ngomongin Boediono, jujur aja saya ga tahu banyak soal dia. Soal dia pernah jadi gubernur BI, menteri keuangan, sukses memotong inflasi (suer…penulis sama sekali buta sampe sekarang apaan sih inflasi itu?) :)
Terus baca di Tempo 18 – 24 Mei 2009 ini tentang “Plus-Minus Boediono”; namanya juga manusia dia pasti ada plus (karena dia bukan setan) and pasti ada minusnya juga (karena dia bukan malaikat; yang bersih dari dosa). Wajarlaah semua orang juga pasti ada plus-minusnya.

Yang bikin saya salut soal Boediono, di luar sumber media dsb, jujur dari dalam hati nurani saya sendiri; karena dia anteng alias ga banyak mulut. Ga nyombong kalo dia mo kepilih jadi cawapres ama SBY sebelum disampaikan langsung oleh SBY sendiri. Buat jadi cawapres kan pasti amanat yang cukup berat dan ga mungkin kalo di ‘tembak’ langsung ama SBY. Pasti SBY udah nge’tek’in dia jauh-jauh hari. Tapi si Boediono ini adem ayem aja pas banyak partai yang koalisi trus heboh nentuin cawapres buat SBY, si ‘pak Boed’ ini ga nyombong n berkoar2 alias nyombong kayak ini: “woi, ngapain sih lo puyeng2 amat nentuin cawapres, kan SBY juga dah minta kesediaan gue”…intinya bener2 surprised kan, ga ada yang dapet ‘bocoran’ sebelumnya.
Bayangin aja (karena saya langganan majalah Tempo) kira2 3-4 edisi sebelumnya, liputan utama Tempo tentang “Menunggu Angin Cikeas” dari karikaturnya bisa diliat SBY yang lagi bingung nentuin siapa yang mo jadi cawapresnya a.l:Sri Mulyani, Hidayat Nur Wahid dll, tapi sama sekali ga disebut2 nama Boediono.

Barangkali SBY juga udah milih jauh2 hari n mikir yang mateng bener, kayak waktu dia mo ngelamar calon istrinya :) , tapi masih malu2 kucing. Bisa aja sebelumnya SBY juga milih Antasari karena kerjanya yang cukup ok jadi ketua KPK, tapi ternyata jadi tersangka pembunuh, akhirnya dicoretlah nama AA…(ini masih misalnya lho…:) )

Soal baik-buruknya Boediono yang lain, speechless, emang saya ga tahu sama sekali. Tapi jujur aja yang bikin salut, yah sifatnya yang ga nyombong pas mo kepilih jadi cawapres itu.
Kadang, jangankan jadi cawapres, mo dipilih jadi ketua kelas aja kita suka dah belagu. Karena ini adalah soal amanat, sebaiknya jangan disombongkan bila kita terpilih jadi ‘orang’ seperti ketua kelas, ketua RT, panitia 17-an, dsb. Karena yang memilih kita jadi orang terpercaya hanyalah sesama manusia, bukan Tuhan. Rasulullah dan nabi lainnya juga tak pernah menyombongkan diri walaupun yang memberikan amanat kepada mereka adalah Allah SWT. Dan tugasnya pastilah lebih berat karena menitipkan amanat kepada seluruh ummat manusia, bukan hanya umat senegara, satu kelas, satu RT dsb.

Sst… ini bukan berarti saya pilih Boediono lho… :P

Pengalaman Pemilu Pertama

dsc00869
Usia memang bukan 17 tahun lagi, dan sebenarnya ini bukan Pemilu pertama yang diikuti. Hanya karena sebelumnya Pemilu identik dengan nyoblos bukan nyontreng.
Dan ini memang pertama kali gw nyontreng – bukan nyoblos – jadi anggap saja ini pertama kali Pemilu.

Pemilu dengan nyontreng ini memang Pemilu terpuyeng sejak pertama kali gw ikutan Pemilu pas masih SMA dulu. Partainya banyaaaaaak banget. Iklannya juga heboh dimana-mana. Di TV, spanduk, poster, internet, radio mungkin juga sampai ke bulan sono. Belum lagi buat Pemilu 2009 ini, rakyat juga punya hak buat milih langsung wakil rakyatnya. Sehingga banyak juga poster para calon legislatif alias CALEG yang berseliweran di sepanjang jalan di mana aja. Ditambah lagi poster para caleg itu sangatlah….jujur aja nih…aneh! Gambarnya pake kostum ga jelas, kata2nya bener2 menggambarkan tipe manik, dan segudang aksi kampanyenya yang ga dewasa. Heran, kayak gitu kok berani yah jadi caleg? Mereka udah ngeluarin dana sekian banyak untuk menarik hati rakyat supaya mereka bisa kepilih jadi anggota DPR. Dari sekian banyak caleg, hanya kurang dari 50% yang bisa resmi jadi anggota DPR. Benar2 persaingan ‘panas’. Makanya banyak rumor bahwa nanti setelah Pemilu sudah disediakan beberapa Rumah Sakit Jiwa untuk para caleg yang gak kepilih. Obat2 penenang seperti Diazepam, CPZ dsb juga diperbanyak stoknya. Sepertinya rumor ini memang benar, bayangkan saja sebelum Pemilu saja calegnya sudah banyak yang mengalami gangguan jiwa dengan tipe manik seperti itu alias mengumbar janji dan narsis terhadap dirinya sendiri. Apalagi setelah Pemilu, bila ga kepilih bisa jadi depresi berat karena udah keluar banyak dana dan gak punya malu memajang dirinya dengan kostum Superman dsb…eh ndilalah gak kepilih. Terbayang akhirnya jadi manik bipolar alias manik depresif… Belum ada kabar neh dari temen2 yang jadi psikiater atau ngambil PPDS Psikiatri. Tapi firasat gw kayaknya mereka emang lagi sibuk dengan bertambah banyaknya pasien. Ada beberapa teman yang lagi ngambil PPDS Psikiatri, biasanya dia selalu on line di facebook, tapi sejak awal minggu ini dia off. Yang pasti, dia ga lagi ujian, jangan2 emang bener ya banyak yang kena gangguan jiwa ….

Kembali lagi ke pengalaman pemilu pertama gw. Iklan pemerintah supaya kita jangan golput alis ga milih juga gencar. Tapi sepertinya rakyat kita memang sudah biasa, bila dilarang justru melakukan. Alias selalu melanggar aturan. Sebenernya tak perlu rakyat yang patut disalahkan. Di bbg media tersiar bahwa byk wilayah yang DPT-nya ga jelas, ada yg terdaftar double, ada yang ga terdaftar sama sekali bahkan ada satu RT yang tak terdaftar padahal katanya lima tahun yang lalu mereka semua terdaftar.

Gw sendiri sudah terdaftar di Dago, Bandung. Sudah dapat surat undangan dari RT setempat 3 hari sebelumnya. Sebenernya ada niat juga untuk golput, tapi karena ini menentukan nasib diri sendiri dan saudara2 sebangsa lainnya, gw berusaha jadi WNI yg baik ….semoga jangan sampe pemerintah selanjutnya ngawur. Dan main saling tuding bila ada musibah, bahkan musibah sekecil apapun seperti yang udah gw tulis dalam artikel “Selasa Sore di Borromeus”
Di undangan dan di TV juga sudah diberitahukan bahwa Pemilu dimulai jam 7 pagi. Karena ada rencana mo ke Jakarta naik travel jam 9. Pagi2 gw udah ke TPS. Sampe sana jam 7.40.Ternyata di TPSnya masih beberes. Di meja pendaftaran juga masih kosong. Terdengar suara heboh panitia :“spidolnya mana?”, “bolpen buat nyontreng udah ketemu belom?”, “kotak suaranya udah di kunci?”,”formulir pendaftaran udah ketemu?”…oala, katanya kita ga boleh golput,tapi kita kan berusaha menunaikan kewajiban di tengah segudang aktivitas kita. Tapi…kalo jam karet ga jelas gini, gimana pak? Bahkan ada seorang bapak yang ngantri bareng gw terpaksa pulang setelah gelisah melihat arlojinya, dia ada keperluan penting jam 8..jadi terpaksa pulang. entah apakah dia bisa balik lagi sebelum jam 12. Bila dia akhirnya jadi golput, bukan sepenuhnya salah dia kan?

Ketika nama gw di panggil, diberitahukan bahwa gw salah TPS. Pas lihat surat undangannya dan nyocokin no.TPS (yang ga keliatan jelas) memang beda. Tapi waktu gw baru dateng dan nanya sama penjaga n hansip sambil memperlihatkan surat undangannya mereka ngasih tahu emang itu TPS gw……..uuuh !!!

Setelah nyampe dan ngos2an nyampe di TPS yang bener. Gw dikasih 4 kertas (atau diktat?) yang tebel. Sampe di bilik suara, ribet juga buka kerta suara yang segede tiker buat pengajian itu. Ambil bolpen merah yang dipake buat nyontreng. Lipet lagi kertas suaranya trus buka lagi,nyontreng,lipet lagi. Begitu seterusnya sampe 4 kertas. Untuk DPR, DPRDI, DPRDII, DPD. Cukup ngos-ngosan and puyeng juga buat nyontreng dan permainan lipat melipat itu. Terus…masukin ke kotak suara ‘dipandu’ oleh panitianya.Setelah itu, kelingking kanan dimasukin ke botol tinta. Gw – sebagai cewek – ga mau terkena banyak tinta yang merusak penampilan itu. Jadi hanya sedikiiit saja dimasukin ke pinggir botolnya. Tapi sampai sekarang belum bisa ilang juga berkas tintanya.
Mudah-mudahan pilihan gw ga salah….demi semua rakyat termasuk gw…Setelah banyak keluar keringat jalan ke 2 TPS, nyontreng dan buka tutup lipetan kertas segede itu. Semoga hasilnya memuaskan bagi seluruh saudara sebangsa setanah air.
Amin

(arlin,10 April 2009)

Pramoedya Ananta Toer

Setelah buku kumpulan esai mengenai Pramoedya Ananta Toer yang berjudul “1000 Wajah Pram dalam Kata dan Sketsa”, saya sepertinya telah mengenal dekat dengan beliau. Buku ini dibuat dalam rangka memperingati 1000 hari meninggalnya Pram, panggilan akrab untuk sastrawan besar ini, tanggal 1 -7 Februari 2009 para sahabatnya serta sastrawan dan para komunitas pencinta Pram mengadakan acara yang berjudul 1000 Wajah Pram dalam Kata dan Sketsa bertempat di rumahnya – jl. Sumbawa 40, Jetis, Blora.

Kumpulan esai mengenai Pram ini berisi 1000 artikel mengenai Pram yang ditulis oleh sastrawan, jurnalis, kolumnis, budayawan, beberapa keluarga Pram sendiri dan sebagainya. Dan tidak hanya dari orang-orang dalam negeri kita saja, banyak juga sastrawan dan jurnalis asing yang berperan dalam kumpulan esai ini. Dan artikel-artikel tersebut telah dipublikasikan ke media massa periode 2006 – 2009.

Secara garis besar; isi kumpulan esai ini adalah mengenai kehidupan Pram. Seorang sastrawan besar Indonesia yang lahir di Blora tanggal 6 Februari 1925 dan meninggal di Jakarta 30 April 2006. Hampir seluruh hidupnya dihabiskan di penjara. Masuk penjara tanpa proses pengadilan. Tiga tahun penjara colonial masa orde lama, 14 tahun masa orde baru, jadi tahanan rumah, tahanan kota dan tahanan negara. Karya-karyanya yang berubpa ribuan cerpen, novel, esai, puisi di bakar dan disita oleh negara. Sungguh suatu hidup yang memilukan. Tak ada kebebasan sama sekali untuk menuangkan aspirasi bagi kita di negara kita saat orde lama.

Namun sepertinya Pram pantang menyerah untuk menulis. Menulis adalah bagian dari hidupnya. Justru saat jadi tahanan di pulau Buru – atau lebih tepatnya diasingkan – periode 1969 sampai Lanjut membaca

Bubar Jalan!!

SKB AHMADIYAH :
BUBAR JALAN !!!

Kenapa ditunda-tunda
Tunda … tunda
Kenapa ditunda tunda…
Nanti jadi tua…

Itu lirik lagu lama dari film anak-anak Cinderella atau Upik abu yang dibintangi oleh Ira Maya Sofa sekitar era’70 – ’80 an.
Walaupun hanya lagu anak-anak, tapi memang benar kalau segala sesuatu dikerjakan ditunda-tunda kita nanti keburu tua.
Kalau sudah tua kita pasti lupa atau pikun.
Itu juga yang terjadi pada pemerintah yang tidak pernah tegas akan penetapan hukum keberadaan Jamaah Ahmadiyah Indonesia selama ini.

Sebenarnya keberadaan Ahmadiyah di Indonesia pernah ditentang juga oleh mantan presiden Soekarno. Dari kutipan kalimatnya pada buku Dibawah Bendera Revolusi sekitar tahun 1960-an, Soekarno tidak percaya bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalan nabi.
Akan tetapi keberadaah para jamaahnya yang mempercayai Mirza sebagai nabi tak pernah dikenai sanksi.
Semua umat muslim meyakini bahwa Muhammad SAW sebagai nabi terakhir yang diutus oleh Allah SWT. Sedangkan jamaah Ahmadiyah mengaku mereka adalah muslim namun juga meyakini ada nabi lagi setelah Rasulullah SAW.

Menurut sudut pandang Islam, ajaran Ahmadiyah dianggap melenceng dari ajaran Islam karena mengakui Mirza Ghulam Ahmad, pembawa ajaran Ahmadiyah yang berasal dari India, sebagai nabi. Selain itu Ahmadiyah juga mempunyai kitab tersendiri yaitu kitab Tadzkirah. Mereka sudah berpegangan dari kitab lain diluar Al Quran dan hadist.

Sekarang pengikut Ahmadiyah telah menyebar ke 170 negara termasuk Indonesia. Di Pakistan, ajaran ini masih diperbolehkan namun dianggap sebagai kepercayaan lain di luar agama Islam. Di Brunei dan Malaysia ajaran ini telah dilarang. Sedangkan di Indonesia sendiri belum pernah ada keputusan tegas mengenai ajaran ini. Padahal sudah jelas-jelas kesalahan mereka dalam landasan pokok Islam yaitu mengakui ada nabi lain selain yang tercantum dalam Al Quran.

Pada tahun 1980, MUI sudah menetapkan bahwa Ahmadiyah adalah sesat. Namun, sepertinya tak ada yang meributkannya. Maklum saat itu masih zaman orde baru atau masa Soeharto. Saat itu pemerintah hanya bertidak tegas – dan melulu – meributkan untuk membumi hanguskan PKI. PKI terus yang diburu dan selalu saja dikejar semua hal yang berhubungan dengan PKI – termasuk keluarga yang terkait, padahal mereka tak tahu apa-apa – mereka dibuang ke pulau terpencil atau ada juga yang jadi tahanan rumah. Masa bodo dengan aliran sesat dan sebagainya.
Belum ada kebebasan menyampaikan aspirasinya saat itu.

Setelah Soeharto lengser, baru ada ribut-ribut lagi soal Ahmadiyah. Tapi selalu saja ditunda keputusannya. Ditunda terus sampai jadi tua. Setua pengambil keputusannya.
Tahun 2005 fatwa MUI telah menegaskan bahwa ajaran itu sesat. Namun pemerintah selalu menunda keputusannya. Entah karena banyak urusan lain atau enggan memikirkannya. Semuanya ditunda sampai jadi tua.

Jika sudah ada tokoh yang memikirkan bahwa Ahmadiyah menyimpang sejak tahun 1960 dan pemerintah turut berpikir untuk bertindak tegas terhadap ajaran itu. Mungkin pengikutnya di Indonesia tak akan terus beranak cucu seperti sekarang ini. Bila sudah ada keputusan sejak dulu kala, pengikut dan penentangnya pun tidak akan menjadi sangar hingga terjadi Insiden Monas seperti awal Juni lalu. Insiden ini berbau kekerasan dan memalukan semua umat Islam di Indonesia.

Dan buntutnya pun jadi berkepanjangan. Sebagian massa minta Ahmadiyah supaya dibubarkan. Dan sebagian lagi minta FPI, yang membuat kerusuhan saat Insiden Monas, juga dibubarkan. Terus siapa lagi yang harus dibubarkan?
Sangat menyedihkan, kesannya seperti terjadi perpecahan umat Islam di Indonesia – segolongan umat Islam memusuhi umat Islam yang lain. Sesungguhnya tidak ada permusuhan dalam Islam. Jangan sampai hal ini memenangkan suatu pihak yang berniat untuk memecah belah umat Islam. Dan ini tak akan pernah terjadi. Semua umat Islam di dunia adalah satu. Allahu Akbar!!

Karena keributan Insiden Monas yang memancing perhatian publik, barulah pemerintah berani bertindak. Selain itu mereka juga takut keburu tua. Akhirnya dikeluarkan surat keputusun bersama dari Menag, Mendagri dan Jaksa Agung tentang Ahmadiyah. Isinya memerintahkan Jamaah Ahmadiyah Indonesia untuk menghentikan penyebarannya. Intinya mereka ‘membekukan’ kegiatan itu. Isi SKB lainnya seperti hanya basa-basi saja tentang kerukunan umat beragama dsb, padahal sejak SD juga kita sudah diajari hal tersebut.

Cobalah lebih tegas lagi Pak…?! Mereka memang tidak melakukan kekerasan yang menindas rakyat seperti PKI tapi ini kan menyangkut masalah yang paling prinsip – masalah agama – agama tidak boleh dipermainkan atau dinodai sesuka hati. Menurut ketua PBNU K.H Hasyim Muzadi dalam harian Republika 13/06/08; “kita memang diberikan kebebasan beragama tapi bukan kebebasan untuk menodai agama. Pemerintah berkewajiban memberi bimbingan kepada jamaah Ahmadiyah kembali ke jalan Islam yang benar.”

Semoga lahirnya SKB ini merupakan langkah awal untuk tindakan selanjutnya tidak sekedar dikeluarkan sebagai jalan tengah karena ‘takut’ akan aksi massa.
Tindakan selanjutnya – untuk memberikan pencerahan kepadah Jamaah Ahmadiyah kembali ke ajaran Islam yang benar – juga sebaiknya secepat mungkin.
Jangan ditunda terus sampai jadi tua….
Dan akhirnya pun jadi lupa…
Ingatlah yang ‘beku’ suatu saat bisa jadi ‘cair’. (arlin-’08)