Demo, stok bbm kosong di beberapa pom bensin di daerah, harga sembako naik,antrian panjang isi bensin..selalu saja pasti terjadi menjelang kenaikan harga bbm. Ibarat lagu lama…pasti itu sudah dapat diterka bila bbm akan naik harganya.
Bukan pertama kalinya negeri kita mengalami kenaikan harga bbm. Pastinya sudah sering..bayangkan dari dulu saya naik bus Patas saat SMA di Jakarta dari jl.Pemuda sampai Kalimalang hanya Rp.500,- !! Terbayang kan murahnya harga bbm saat itu…kendaraan umum di Jakarta saja murah. Berarti sudah berapa kali kita mengalami kenaikan harga bbm?
Yang jelas ini bukan pertama kalinya.
Lalu mengapa mahasiswa dan massa harus mengamuk?
Ini hanyalah sebuah lagu lama. Yang indah bila dikenang kembali. Memang awalnya masyarakat resah saat harga sembako naik..tapi seiring dengan itu angka kebutuhan hidup berarti naik yang menandakan kita bukan bangsa miskin. Dengan kebutuhan hidup yang makin tinggi harganya, masyarakat akan berusaha bekerja makin giat..gaji makin tinggi dsb. Akhirnya pendapatan negara pun bertambah.
Untuk memutuskan kenaikan harga bbm tidak sembarang ketuk palu saja..pastilah sudah dipertimbangkan segala impact dari segala bidang. Dan pastinya sudah dipertimbangkan dalam waktu yang sangat lama.
Lalu kenapa tiba2 banyak fraksi yang berubah pikiran sehingga menolak kenaikan harga BBM?
Banyak faktor. Salah satunya adalah ‘cemen’ mereka takut massa semakin mengamuk dan dukungan massa terhadap partai mereka untuk pemilu mendatang semakin kecil.
Padahal harga BBM di Indonesia paling murah di Asia.
Harga bensin di kita jauh lebih murah dari iuran PAM, sampah, atau keamanan. Atau bahkan jauh lebih murah daripada biaya kebutuhan pulsa mahasiswa yang lagi sibuk demo anti kenaikan bbm.
Setiap hari kebutuhan mahasiswa saat ini mampu buat chatting, facebook-an, sms, internet, laptop, ke kafe gaul, nongkrong ga jelas, nonton sama pacarnya tapi ribut dengan kenaikan bbm yang hanya ‘cenggo’ alias 1.500? Padahal buat beli galaxy tab, ipad udah abis berapa?
Katanya kita tidak ingin kemacetan…tapi bila harga bensin murah, wajar saja tiap orang lebih memilih bawa kendaraan pribadi (yg semakin mendukung macet) daripada naik kendaraan umum.
Lihatlah negara tetangga kita seperti Singapura, harga bensin Rp.15.000,- dan banyak yang naik subway alias kendaraan umum lain saking mahalnya bensin. Hasilnya? Negaranya juga tertib dan bebas macet…
Kita ga mau jadi negara miskin, ga mau macet, tapi masa sih masih menolak kenaikan harga BBM??? Coba yang demo….pikir baik2 sebelum menolak…
Kita sudah berapa kali naik harga BBM…kok masih ngamuk.
Bila kalian pro rakyat (katanya) namun mengapa merusak fasilitas rakyat yang nanti juga akan menggunakan uang rakyat buat memperbaikinya?
Sebelum anarkis…berpikirlah…..


