Seminar dan Wokhshop Nasional Menulis Kreatif

Acara ini berlangsung telah cukup lama, hanya saja penulis baru sempat menulis jurnalnya. Rasanya memang tidak enak, apalagi penulis telah berjanji kepada salah seorang dosen FIKOM Unpad (salah seorang penyelenggara) untuk menuliskan artikel tentang acara ini.

Acara ini diselenggarakan oleh UNPAD PRESS dan LPPM UNPAD di Hotel Grand Serela Bandung, 24 – 25 Januari 2009 lalu. Inti materi dalam seminar ini adalah memberi masukan kepada para masyarakat awam – yang belum sepenuhnya terjun ke dunia pena dan pers akan tetapi mempunyai minat untuk menulis – bagaimana caranya menulis yang baik agar menari hati massa. Menulis yang akan dipublikasikan ke dunia luar seperti novel, cerpen, artikel media cetak, jurnal dan sebagainya.

Sebenarnya tak semua peserta berminat mengikuti acara ini agar mendapat training tentang menulis; sebagian besar peserta mengikuti acara ini karena diberi kesempatan untuk foto bersama Andrea Hirata, novelis Laskar Pelangi – novelnya tersebut telah difilmkan. Andrea Hirata hanyalah penulis junior yang tiba-tiba populer karena novelnya tersebut – menurut penulis (saya) pribadi – dia sendiri masihlah seorang penulis Indonesia yang kelasnya masih jauh di bawah Pramoedya Ananta Toer atau Goenawan Mohammad – namun untuk masalah selera orang pasti berbeda pada setiap orang, mungkin saja penulis yang menjadi idola bagi saya belum tentu dikenal oleh yang lain. Itu adalah hal yang wajar.Tapi Andrea Hirata masih jauh lebih hebat dari saya yang sama sekali belum pernah menerbitkan buku. Hanya sebatas di angan-angan. Tujuan saya mengikuti acara seminar ini bukanlah untuk foto bersama beliau tapi karena ingin mendalami dunia menulis. Walaupun naskah penulis selama ini selalu ditolak oleh beberapa media…tapi masih boleh kan berharap? amin…Semoga dengan mengikuti seminar ini harapan penulis dapat lebih terwujud.

Pembukaan dilakukan oleh wakil gubernur Jawa Barat – yang juga bintang iklan Bodrex – Dede Yusuf. Namun seperti kebiasaan para pejabat di negeri kita. Selalu datang terlambat, padahal saat mereka lewat di jalan selalu diiringi polisi yang menutup jalan-jalan yang dilalui rakyat jelata, dan anehnya mereka selalu marah bila mereka telah hadir tapi ada yang telat…Aneh kan? :p
Karena keterlambatan bintang iklan obat sakit kepala ini – mungkin beliau sempat sakit kepala Lanjut membaca

Pramoedya Ananta Toer

Setelah buku kumpulan esai mengenai Pramoedya Ananta Toer yang berjudul “1000 Wajah Pram dalam Kata dan Sketsa”, saya sepertinya telah mengenal dekat dengan beliau. Buku ini dibuat dalam rangka memperingati 1000 hari meninggalnya Pram, panggilan akrab untuk sastrawan besar ini, tanggal 1 -7 Februari 2009 para sahabatnya serta sastrawan dan para komunitas pencinta Pram mengadakan acara yang berjudul 1000 Wajah Pram dalam Kata dan Sketsa bertempat di rumahnya – jl. Sumbawa 40, Jetis, Blora.

Kumpulan esai mengenai Pram ini berisi 1000 artikel mengenai Pram yang ditulis oleh sastrawan, jurnalis, kolumnis, budayawan, beberapa keluarga Pram sendiri dan sebagainya. Dan tidak hanya dari orang-orang dalam negeri kita saja, banyak juga sastrawan dan jurnalis asing yang berperan dalam kumpulan esai ini. Dan artikel-artikel tersebut telah dipublikasikan ke media massa periode 2006 – 2009.

Secara garis besar; isi kumpulan esai ini adalah mengenai kehidupan Pram. Seorang sastrawan besar Indonesia yang lahir di Blora tanggal 6 Februari 1925 dan meninggal di Jakarta 30 April 2006. Hampir seluruh hidupnya dihabiskan di penjara. Masuk penjara tanpa proses pengadilan. Tiga tahun penjara colonial masa orde lama, 14 tahun masa orde baru, jadi tahanan rumah, tahanan kota dan tahanan negara. Karya-karyanya yang berubpa ribuan cerpen, novel, esai, puisi di bakar dan disita oleh negara. Sungguh suatu hidup yang memilukan. Tak ada kebebasan sama sekali untuk menuangkan aspirasi bagi kita di negara kita saat orde lama.

Namun sepertinya Pram pantang menyerah untuk menulis. Menulis adalah bagian dari hidupnya. Justru saat jadi tahanan di pulau Buru – atau lebih tepatnya diasingkan – periode 1969 sampai Lanjut membaca

Tersenyum di Balik Layar

Paparazzi ….
Pasti selalu dihindari para selebriti.
Dan pastinya tak akan dikenal orang.
Siapakah yang menjadi paparazzi.
Siapakah yang menulis berita.
Siapakah yang terus mencari inspirasi.
Agar bisa terbit esok hari.

Kita hanya mengenal foto-foto di koran.
Kita hanya mengenal SBY, Artalyta atau Ryan.
Tapi kita tak tahu siapa yang memberitakan.
Siapa yang menulis narasi sehingga kita tahu dunia.

Semua itu karena wartawan.
Tak banyak dikenal orang.
Dan pastinya tidak menerima imbalan.
Namun tanpa mereka.
Kita tak akan tahu dunia.

***

Ternyata tidaklah mudah menjadi seorang paparazzi atau wartawan atau reporter, journalist… dan entahlah apalagi istilahnya. Yang jelas merekalah yang selalu memburu berita. Dan nama mereka sebagai penulis berita memang terpampang di akhir artikelnya, tapi tak banyak yang mengenang namanya. Namun, jika mereka tak ada pastilah kita akan merasa kehilangan. Seperti Goenawan Mohammad di Catatan Pinggir majalah Tempo, sempat beberapa waktu tak ada artikelnya di majalah tsb, barulah kita bertanya-tanya “ koq ga ada ya?” sambil membolak-balik majalahnya.

Sangatlah sulit menulis berita. Harus berusaha netral dan tidak memihak serta harus juga menulis berdasarkan riil. Dan fakta. Tidak dibuat-buat supaya moment yang ditulisnya terkesan sangat indah bak di surga atau terkesan seram. Semuanya harus riil. Dan pastinya lagi harus berusaha cool. Siap-siap saja bila ada orang yang tak suka dengan berita yang ditulisnya. Dengan segala komentar, saran atau kritik pembaca.
Kadang ada kritik yang santai tapi banyak pula kritik yang pedas.

Namun segala kritikan itulah yang menjadi kepuasan bagi sang journalist. Karena bila ada yang mengkritik berarti ada yang benar-benar membaca artikelnya. Dan para journalist pun tak menyerah untuk terus menulis dengan kritik yang akan terus mengalir. Karena dunia pers kini telah bebas. Tak lagi dikekang seperti zaman orde baru.

Sulit, lelah, bete dan sejenisnya sangat dirasa oleh journalist ketika meliput berita. Bayangkan untuk meliput satu moment, mereka harus mengikuti moment itu lengkap dari awal hingga akhir. Dan tak ada imbalan. Hanya imbalan sebagai wartawan. Selebihnya tidak. Ketika meliput sidang MPR, mereka hadir tanpa mendapat ‘uang sidang’nya; ketika meliput kekayaan anggota DPR mereka tak mendapat jatah mobilnya; ketika meliput kasus suap dan korupsi mereka tak dapat uang suapnya; dsb…dsb. Tak sampai disitu, ketika moment yang diliputnya selesai, sepulang ke rumah mereka harus menulis beritanya karena dikejar-kejar untuk ditayangkan media cetak besok paginya. Kalau tidak cepat-cepat diselesaikan, publik tidak akan tahu moment-moment penting itu. Soal kritik yang akan muncul….itu hal biasa bagi mereka.
Pastinya, para wartawan itu bisa tersenyum puas ketika melihat berita yang ditulis ditayangkan dan dibaca orang. Walaupun foto mereka tak terpampang sama sekali di koran.

***

Dan semuanya itu baru kurasakan akhir-akhir ini. Lanjut membaca

Catatan Pinggir

Artikel dengan judul Catatan Pinggir ini selalu ada di halaman belakang majalah Tempo. Ditulis dengan apik oleh satrawan Goenawan Mohammad yang juga pengelola majalah Tempo. Isi tema-nya tergantung dari sikon yang sedang hangat dibicarakan publik.

Yang menarik dari catatan pinggir ini, memang terlihat makna “pinggir”-nya dari sebuah berita. Mungkin itu juga alasannya artikel ini selalu ada di halaman belakang majalah Tempo. Dari kolom yang hanya ditulis dalam satu halaman ini, dapat dilihat secara sarat makna sebuah tema yang disajikan. Isi artikelnya tertera sebuah catatan dari sebuah berita yang biasanya luput dari pengamatan orang pada umumnya. Seperti catatan pinggir dengan judul B.O. (Boedi Oetomo) yang tertera pada majalah Tempo edisi spesial Mei 2008 lalu. Yang ditulis oleh Goenawan Mohammad adalah karakter seorang Wahidin Soedirohusodo yang merupakan salah satu pendiri B.O. Bukan semata-mata sejarah dari organisasi Budi Utomo yang sudah banyak diketahui publik. Di artikel tersebut Goenawan Mohammad juga menceritakan perjalanan para lulusan STOVIA yang masih dikenal sebagai “dokter jawa”. Sesuatu yang luput dari perhatian massa selama ini. Pantas untuk dikatakan sebagai “Catatan Pinggir”

Walaupun “Pinggir” tapi makna yang dikemukakan dalam artikel ini sangat dalam dan mengena ke hati dan pemikiran para pembacanya. Gaya bahasanya sangat lugas, kritik namun disampaikan dengan nilai sastra tinggi, kadang dituturkan pula dalam bentuk puisi.

Judul-judul dari artikel ini juga menimbulkan daya pikat tersendiri bagi pembacanya. Sering ditulis dalam singkatan seperti B.O. untuk Boedi Oetomo, D.D. untuk Douwes Dekker, Aladin untuk Ali Sadikin. Sangat menarik karena judulnya memang biasanya hanya terdiri dari satu atau dua kata saja, namun isinya sangat dalam.

Apakah masih ada penulis atau jurnalis lain yang bisa menulis suatu artikel singkat dan padat dengan nilai sastra tinggi seperti ini? Saya salut dengan Goenawan Mohammad, namun manusia pastilah terikat dengan tenggat usia. Bila beliau tak ada nanti, apakah ada yang bisa meneruskan generasi “Catatan Pinggir” seindah ini? Saya tak ingin kehilangan lagi kesempatan membaca artikel sehebat Catatan Pinggir. Mas Goenawan, tolong wariskan ilmunya kepada kami yang selama ini hanya sebatas sebagai pembaca untuk meneruskan “Catatan Pinggir”-mu. (arlin)