Angkatan ‘95


Ada nama angkatan’45, angkatan’66, angkatan pujangga baru untuk menghargai suatu periode angkatan karena perjuangan mereka baik dalam dunia sastra ataupun dalam pertempuran di negeri ini.
Tapi belum ada yang menganugerahi penghargaan bagi angkatan’95. Bukan sekedar tahun angkatan lulus SMA atau masuk kuliah.

Tapi memang benar – angkatan’95 ini mengukir sejarah bagi bangsa kita.

Ingat peristiwa Trisakti Mei 1998? Yang akhirnya melahirkan orde reformasi bagi bangsa kita.
Kebanyakan mahasiswa yang mati atau hilang atau ikutan demo saat peristiwa Trisakti adalah mahasiswa angkatan ’95. Saat itu mereka sedang duduk di tahun ke-tiga bangku kuliah – sedang getol2nya ikut-ikutan teman – bukan mahasiswa semester satu yang masih malu-malu atau semester akhir yang sedang sibuk ujian dan skripsi atau tugas akhir.

Wajar bila ada angkatan baru dalam generasi perjuangan kita : Angkatan’95. Kalian semua – walaupun beda almamater – sebagai sesama Angkatan’95 – patut dibanggakan.

Angkatan ini juga bisa dibilang angkatan generasi ‘miskin’ terakhir dalam masa kuliah, dimana masa2 kuliahnya jarang – hampir tidak ada – yang menggunakan HP. Ditambah lagi biaya masuk kuliah angkatan terakhir yang termasuk murah. Sangat jauh berbeda dengan generasi mahasiswa sekarang yang tergolong borju.
Bisa dibilang angkatan ini termasuk legendaris…yah sama lah kayak angkatan’45 dkk…kita tuh cenderung “the Beatles”nya abad ke 21.
^_^
Salam kangen untuk semua kawan-kawan alumni SMA dan kuliah angkatan’95.

Dokter Jawa

Setelah membaca essay dari Catatan Pinggir Tempo yang ditulis oleh Goenawan Muhammad mengenai “Blangkon”, baru kali ini saya terpikir akan suatu hal yang sebenarnya bukan hal baru dan sering tercatat dalam buku sejarah. Terutama bila menyangkut Kebangkitan Nasional. Yaitu tentang : dokter Jawa.

Memang menyedihkan masa-masa kita dijajah Belanda pada awal abad ke 20 itu. Kita, bangsa Pribumi, telah mendapatkan hak untuk pendidikan, tapi sebenarnya masih tertindas. Yang menjadi guru untuk STOVIA (sekolah dokter pertama di Indonesia, Betawi, sekarang FK UI) saat itu tentu saja orang-orang Eropa. Dan bangsa kita telah mendapatkan hak untuk belajar di STOVIA, namun sangatlah sedikit pribumi yang bisa sekolah di situ. Sebenarnya STOVIA diperuntukkan bagi anak-anak orang Eropa yang tinggal di Indonesia, namun akhirnya beberapa orang bangsa kita pun berhak untuk sekolah di situ, walaupun sangat terbatas. Biasanya yang bisa sekolah di situ hanyalah anak priyayi lulusan HBS (setara SMA sekarang) dengan nilai yang sangat cemerlang. Benar-benar terpilih dan biasanya mendapat surat panggilan langsung dari STOVIA-nya. Mungkin seperti Sipenmaru/UMPTN/SPMB/PMDK sekarang, tapi jauh lebih terbatas tempatnya untuk kaum pribumi. Untuk soal biaya, saya sama sekali tidak tahu, karena saudara2/kakek/buyut dst saya tidak ada yang dokter alias alumni STOVIA.

Selain dari masalah keterbatasan kita untuk sekolah di situ, mereka (nenek moyang kita alias pribumi yang sekolah di STOVIA) memang boleh mendapat ilmu dari bangsa Barat tapi sama sekali tidak boleh berpenampilan ala Barat. Untuk yang berasal dari Sunda, Jawa, Bali, Madura wajib mengenakan pakaian adat Jawa :blangkon, kain, destar, beskap dsb. Sedangkan untuk yang berasal dari Melayu (Sumatra) wajib mengenakan sarung dan kopiah, persis kayak orang tarawih, saat sekolah. Yang boleh mengenakan celana panjang, kemeja dan sepatu hanyalah orang Barat sendiri, indo (keturunan Eropa) dan orang pribumi yang beragama Kristen. Waktu itu belum ada wanita yang boleh setinggi itu. Dan masih sedikit pula Melayu yang sekolah di situ, karena jauh, dan bila adapun kadang mereka juga mengenakan pakaian Jawa. Dan satu lagi, mereka juga tidak boleh mengenakan sepatu atau alas kaki apa pun alias nyeker! Maka dari itu dikenallah orang pribumi yang sekolah di situ sebagai DOKTER JAWA.

Saat lulus dijuluki dokter Jawa, yang mendapat julukan dokter hanyalah orang Barat saja. Penghasilan dokter Jawa jauh lebih rendah dari penghasilan dokter (Eropa/Barat). Saat bepergian dokter Jawa tidak boleh naik kendaraan/kereta kelas I. Menyedihkan, kita memang benar-benar dijajah secara lahir batin.

Karena pas sekolah mereka sudah kelihatan sebagai “dokter Jawa” dan jumlahnya hanyalah sedikit. Biasanya mereka pun di”ospek” oleh teman2 sejawatnya sendiri yang dari Barat. Berarti penjajahan pun juga berlangsung di sekolah, tidak hanya di medan perang saja. Biasanya saat di asrama mereka dikerjain habis oleh orang Barat. Karena hanya mengenakan pakaian Jawa yang berupa kain dsb, biasanya kain tsb suka ditarik oleh teman2 dari Barat atau Indo dan karena mudah terlepas, sehingga – maaf – akhirnya mereka terpaksa telanjang dan ditertawakan oleh teman2nya. Kepala asrama tak ada yang membela mereka dan bila ada yang melawan mereka pun yang ditegur.
Akhirnya terbayang oleh saya sendiri, benar-benar perjuangan mereka untuk mendapat ilmu sangatlah berat. Terbayang dalam pikiranku, apakah mereka tetap harus menngenakan blangkon saat masuk kamar operasi? Lanjut membaca