Matahari belum terbit dan kabut subuh tadi masih jejak-jejaknya masih terlihat jelas. Naja sudah berdandan cantik untuk berangkat kuliah. Selesai sarapan ia langsung pamit pada orang tuanya.
“Mah…Naja kuliah dulu yah” kata Naja sambil berteriak di depan pintu.
“Hati-hati yah…,” sahut mamahnya,”Naja, nanti kamu pulang jam berapa?”
“Mungkin sore Mah, jam 5-an”
“Langsung pulang yah, jangan mampir kemana-mana, nanti kita akan kedatangan tamu penting,” pesan mamahnya.
“Siapa Mah, Presiden yah?” Naja tertawa kecil”Naja tak akan kemana-mana koq Mah, pasti langsung pulang”
Naja sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Pasti banyak mahasiswa yang tertarik padanya pikir mamahnya. “Tapi..ah..janji yah pasti janji” Mamahnya Naja menghembuskan nafasnya. Ia melihat kalender dari balik kacamatanya, sepertinya ia tak percaya melihat tanggal di kalendernya, ia membenarkan posisi kacamatanya lagi dan mendekati kalender. “Ah…ternyata memang sudah sekarang waktunya, aku belum pernah memberitahu Naja, tapi nanti dia pulang pasti akan kuberitahu sebelum mereka datang,” pikirnya.
Mamahnya Naja langsung mengambil telponnya dan menghubungi sobat lamanya. “Bagaimana, apakah anakmu sudah diberitahu?” tanya mamahnya Naja.
“Sudah,” sahut sobatnya di telpon,”Syamil sudah kuberitahu dan ia bersedia. Bagaimana dengan Naja?”
“Naja…,” mamahnya Naja menghentikan percakapannya sambil menghembuskan nafas kecil,” Naja belum kuberitahu, tapi pasti ia akan kuberitahu sore ini sepulang kuliah.”
“Hei…jangan-jangan kau masih ragu-ragu yah? Kalau kau keberatan tak apa-apa koq kita batalkan niat kita itu. Jangan malah kau jadikan beban.”
“Tidak, aku tidak keberatan. Lagipula aku kan sudah janji. Nanti pasti akan kuberitahu ke Naja soal semuanya, tak usah khawatir dia anak yang baik koq dan patuh sama ortunya. Kalian sekeluarga siap-siap saja datang kesini sekitar jam 7 malam. Sudah dulu yah, aku harus siap-siap untuk makan malam nanti,” mamahnya Naja bicara cepat sekali sampai tersenggal-senggal nafasnya.
“Ok..terima kasih yah, kami pasti datang,” sahut papanya Syamil.
Ada perjanjian tidak tertulis antara mamahnya Naja dan papanya Syamil saat putra-putri mereka masih berusia di bawah tiga tahun. Mereka ingin menjodohkan anak mereka. Awalnya pernyataan itu hanya sebagai gurauan semata, namun karena mereka saling merasa hutang budi, akhirnnya pernyataan itu justru menjadi kenyataan. Sudah dua puluh tahun berlalu, dan waktunya datang juga. Mamahnya Naja dan papanya Syamil memang merasakan ini sebagai hal yang konyol karena saat mereka masih muda pun sudah tidak jamannya lagi menjodoh-jodohkan anak. Tapi karena sudah dari dulu kebiasaan mamahnya Naja dan papanya Syamil suka sekali melakukan hal-hal yang berbau tantangan, jadi mereka merasa tak ada salahnya dicoba.
Lanjut membaca