Jalan-jalan ke Yogyakarta

malioboro1
Liburan akhir tahun ini aku habiskan bersama keluarga di Yogyakarta. Benar-benar menikmati kota Yogyakarta selama beberapa hari dan dirasa masih kurang sehingga masih kangen dan ingin kembali lagi ke kota Gudeg ini. Memang benar kata Kla Project,,suasana di kota ini pasti membangkitkan noltagia dimana tiap sudut akan menyapa dengan senyuman manis dan ramah. Rasa penat, mual dan lelah pun langsung terobati karena senyuman kota ini yang abadi :)

Aah..kesannya lebay yah, tapi memang benar kok kota Yogyakarta atau yang fasih disebut Jogja ini memang indah. Bersih, nyaman, dan ramah. Tujuan jalan2 ke kota ini memang untuk silaturahmi ke keluarga yang ada di sana, wisata budaya dan kuliner mengelilingi kota Yogyakarta.

Kata sepupuku, waktu seminggu tak akan cukup untuk “menjelajahi” Yogyakarta :) Tapi kita memang benar2 berniat mengetahui kota Jogja – bukan seperti turis – yang cenderung mengetahui Jogja identik dengan jalan-jalan pula ke Prambanan dan Borobudur (wow Borobudur pasti di luar kota alias di Magelang) lagipula kedua candi ini sudah sering kukunjungi sejak kecil. Karena musim hujan, mengunjungi pantai pun langsung dicoret dari rencana awal sebelum bepergian. Awalnya niat wisata budaya karena membaca novel “Raksasa dari Jogja” karya Dwitasari, dari novel ini aku baru tahu bahwa jogja ternyata memang kaya akan budaya yang selama ini belum dikenal masyarakat luar kota. Akhirnya memang niat mengelilingi budaya khas masyarakat Jogja yang biasanya hanya dikenal masyarakat lokal – dan tentu saja dengan bantuan sepupuku yang asli orang Jogja, tujuannya justru lebih banyak lagi :D Yaah, meskipun beliau tidak tahu tujuan utamaku datang ke Jogja adalah untuk menggali budayanya dan tentu saja mencari inspirasi di kota yang nyaman ini untuk menulis; tapi berkat jasanya yang sangaaat banyak, tujuanku jadi lebih dari cukup dan sangat puas. Thanks a lot my cousin.

Hari pertama saat tiba di bandara Adi Sucipto langsung mengunjungi sepupuku yang sedang kuliah di UPN, dia masih tahun pertama kos di Jogja dan jauh dari keluarga makanya senang sekali waktu kita kunjungi. Lalu kita mengunjungi bude ku yang tinggal di Serangan – dekat stasiun Ngabean – sudah lama sekali aku tak bersua dengannya. Alhamdulillah masih sehat dan segar bugar. Sebenarnya rumah budeku strategis, tapi karena barang bawaan kita banyak dan bisa2 jadi menuh2in rumahnya selain itu ngerepotin pula, akhirnya kita memutuskan menginap di hotel. Kita menginap di hotel jl.Dagen, dekat Malioboro….dan ke bude ku juga tinggal naik becak. Wuiih di jl.Dagen memang hotel semua isinya sepanjang jalan, sampai bingung memilihnya. Sedikit saran dariku, bila ingin jalan-jalan dan menginap di Yogyakarta sebaiknya tak perlu browsing di internet untuk mencari penginapan, karena di kota ini sangat banyak tempat penginapan yang murah dan nyaman dan pastinya ada kamar! Karena bila browsing belum tentu yang dipromosikan di situs sesuai dengan kehendak kita. Lagipula hotel, losmen dsb banyak pula yang tidak ada di website tapi banyak di tempat strategis seperti Malioboro.

Kemudian, hari berikutnya kita jalan-jalan ke arah Bantul dengan sepupuku yang asli Jogja (bukan yang kuliah di UPN). Cukup jauh juga tapi banyak kerajinan yang bisa dilihat. Awalnya ke Kasongan melihat kerajinan keramik dan patung-patung, ada pula sejenis kerajinan kulit …seperti dari vinyl. Keren lho dibuat untuk perabot rumah tangga, ATK, asesoris mobil dsb, tak kalah dengan kerajinan dari Italia. Hanya mungkin kurang yah promosinya.
Masih daerah Bantul, kita makan siang di rumah makan Ayam Goreng Mbah Cemplung di Sembungan/DK.XIX Sembungan RT 05, Kasongan, Bangunjiwo, Bantul, Jogja. Pokoknya arahnya adalah dari Kasongan belok ke kanan teruuus aja, ancer2 deket masjid trus ada penunjuknya Yang jelas rasanya uenaak tenaan….entahlah apakah pak Bondan sudah pernah ke sini.. Ada di pelosok, rumah makan sederhana, tapi pengunjung sangat banyak. Menu utamanya berupa ayam goreng tapi ayam kampung tapi sangat besar!! Karena memang ayam jago dan ayam kampung lagipula dimasak menggunakan arang, jadinya sangat empuk! Menu lain pendampingnya juga enak. Truss….harganya juga murah, kita makan berlima dan hanya Rp.130 ribu :)
Setelah makan siang, kita mengunjungi pengrajin wayang Bapak Sagio, luar biasa karya-karyanya! Harus diacungi jempol. Harus kita angkat lagi budaya wayang ini sebelum ada bangsa lain yang mengakuinya. Selain ada gallery dan tokonya, juga ada workshopnya. Sungguh kuakui, sulit memang untuk membuat wayang karena asli mengunakan tangan tanpa mesin sama sekali. Sungguh luar biasa karya bangsa ini!! :)

wayang5
wayang1
Kemudian kita belanja di batik bu Dirja, Bantul. Bagus dan murah. Dari luar tak tampak seperti toko, hanya seperti warung biasa…tapi di dalamnya …waaah luar biasa koleksi batiknya.

Hari ke-3, pagi-pagi aku jalan menghirup udara segar di Malioboro lalu kita jalan-jalan ke Mirota, memang terkenal dengan batiknya. Tapi selain batik juga padat dengan kerajinan lainnya dan yang unik-unik seperti peninggalan budaya masa lalu atau jajanan kita masa kecil. Ada juga rokok kretek jaman mbah kita dulu. Di Mirota cukup padat lah kultur budaya kita dicampur adukkan di situ, terutama budaya Jawa. Dan khasnya adalah bau kemenyan. Makan siang kita ke arah Taman Sari dan makan brongkos di dekat alun-alun.

mirota3

Setelah itu kita ke arah Ringroad buat melihat kerajinan tas Gendhis yang terbuat dari bahan rajutan. Lalu ke kaos khas buatan Jogja alias Dagadu. Bukan hanya lucu slogan kaosnya tapi karakter pegawainya juga sengaja dibuat lucu. “Selamat Hari Rabu” begitu sambutan pegawainya begitu kita datang karena saat itu memang hari Rabu :)

Malamnya kita makan bakmi Jawa di dekat lapangan Mancasan. Siap-siap antri buat pesanan kita di tempat ini. sangat laris manis. Anak dari sepupuku alias keponakan sudah sengaja pesan ke tempat ini sore hari sebelum Maghrib, karena sepupuku sudah tahu akan dahsyatnya antrian pesanan, dan itu pun sudah dapat nomor antrian ke-15!! Kita ke sana jam 7 malam, itu pun masih mengantri. Tempatnya kelihatan sangat biasa saja. Seperti warung biasa dengan 3-4 tempat duduk, dan begitu datang pesanan kita tampaknya pun seperti indomie rebus biasa.,,,Tapi rasanya luaar biasa!! Enakkk sekali..dan dijamin murah!

bakmi mencasan

Setelah makan, kita jalan-jalan ke alun-alun Kidul di dekat Kraton, dimana terdapat 2 pohon beringin 2 di depannya yang turun temurun mengandung mitos yang sama secara turun temurun. Indahnya alun-alun saat malam hari, dikelilingi aneka rupa odong-odong yang dihiasai lampu berwarna-warni menyinari sekeliling alun-alun. Aku yang tak pernah percaya hal-hal mistis, mau tak mau menngikuti juga setelah didesak sepupuku untuk melintas di antara ke dua pohon beringin itu. Dan memang “merinding” :)
alunalun9

Hari ke-4 dihabiskan buat ngeborong di pasar Beringharjo…puas dengan aneka batik yang murah dan bagus-bagus. di depan pasar beringharjo1

Kita makan di depan pasar Beringharjo dengan nasi pecel, keluargaku sempat terganggu dengan pengamen yang mengusik…tapi yah namanya juga di pasar, pasti sama saja. Tadinya kita rencana ingin ke Pulo Cemeti tapi mendadak hujan besar sehingga kita terjebak di pasar. Malamnya kita ke arah stasiun untuk makan nasi kucing di angkringan dan minum kopi joss. Ada rekomendasi dari teman, angkringan yang paling populer hanya sayang malam itu beliau tak berjualan karena orang tuanya sakit. Tapi di angkringan yang mana pun tetap asyik kok

Hari ke-5 rencananya kita kembali pulang, hanya saja aku masih kurang puas. Karena membaca novel “Raksasa dari Jogja” aku masih penasaran dengan Taman Sari, Pulo Cemeti, dan Taman Budaya. Karena jam boarding pesawat masih agak siang, selesai sarapan dan packing, aku langsung pamit sebentar kepada keluargaku buat jalan-jalan. Aku tahu mereka kurang tertarik dengan hal itu. Aku nekat naik becak ke arah Taman Sari, Pulo Cemeti dan Kraton
pulocemeti4
tamansari4kraton12
Sayang,,,Taman Budaya masih belum buka saat itu dan aku juga harus buru-buru ke bandara. Mungkin lain kali masih bisa kukunjungi. Di kraton, akhirnya aku bisa foto2 narsis juga berkat sepupuku yang dari UPN..hehehe…enaknya gitu yah sama yang masih muda, masih lihai megang kamera :)

Selamat tinggal Jogja,,aku benar-benar terhanyut akan nostalgia. Masih banyak tempat yang belum kukunjungi, saat itu Tugu pun sedang di renovasi. Dan aku pasti ingin selalu kembali. Aku serasa benar-benar telah mengenal Jogja, karena makanan yang kukenal pun tak hanya gudeg dan bakpia pathuk….banyak makanan khas yang enak yang telah kukenal dan pastinya berkesan! Kota ini memang tak hanya manis makanannya, tapi senyum penduduk dan kotanya juga manis…. :)

Sekali lagi terima kasih Mbak Krisna, sepupuku yang telah membuatku serasa benar-benar mengenal Jogja…


Ijinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati
(Yogyakarta_Kla Project)

About these ads

4 responses to “Jalan-jalan ke Yogyakarta

  1. Ping-balik: Raksasa Dari Jogja | story of the daily

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s