Pertanyaan

Sedikit menyinggung kasus kecelakaan maut di Patung Pak Tani libur Imlek lalu, di luar pengetahuan kita – sebelum kejadian – tak ada yang tahu akan terjadi kecelakaan. Tak ada yang tahu akan terjadi kecelakaan yang menewaskan pejalan kaki karena pengemudinya dalam keadaan mabuk. Pengemudinya dalam keadaan delirium(kesadaran berkabut). Jelas semua menyalahkan sang pengemudi. Tapi,,,,di balik semua itu…sebelum kejadian, di luar kejadian adakah yang tahu mengapa ada seseorang tak mengemudikan sendiri kendaraannya? Dan mengapa ia menjerit saat ditanyakan perkara tersebut? Karena kondisi fisiknya yang mengharuskan beliau demikian, bukan karena pemabuk, tapi karena tak diizinkan dokternya. Karena kondisi yang mengakibatkan ia seperti orang mabuk dan bahaya bila berkendaraan seorang diri. Saat belum kejadian semua orang menanyakan perkara itu kepadanya. Namun ketika terjadi peristiwa kecelakaan – bukan karena mabuk seperti Afriyani Susanti – tapi karena kondisi patologis, semua orang pasti akan menghakiminya. “mengapa kamu mengendarai mobil sendiri? Kan bahaya?” semuanya jadi seba salah kan…padahal beliau mengendarai mobil juga karena tuntutan masyarakat.
Kata pepatah “malu bertanya sesat di jalan”. Jadi intinya kita tak boleh segan-segan untuk bertanya. Bila kita tidak bertanya, kita tidak akan tahu apa-apa. Mulai dari kecil kita dibiasakan bertanya untuk mengetahui segala hal disekitar kita. Seperti “mengapa pelangi berwarna-warni?”, “mengapa bulan hanya tampak pada malam hari?” dsb.
Tapi, contoh peristiwa kecelakaan yang bukan dilakoni Afriyani Susanti di atas justru sebaliknya. Itu semua karena pertanyaan yang menyesatkan. Pelaku terpaksa melakukannya karena segala macam pertanyaan yang berakhir dengan pertanyaan lagi. Yang menyesatkan.
Memang tak salah bila kita bertanya, tapi kata pepatah yang kita dapatkan secara turun temurun itu sepertinya “agak menyesatkan”. Kesannya bertanya adalah gudang ilmu. Padahal telah diturunkan dalam surat Al Alaq mengenai “Bacalah”…bacalah kamu. Membaca adalah sumber ilmu. Yang merupakan sumber ilmu adalah membaca bukan bertanya. Selama ini kata pepatah “malu bertanya sesat di jalan.” membuat pemahaman bahwa kita akan sesat bila tidak bertanya. Memang fatwa ini tidaklah salah, semua anak pasti bertanya kepada bapaknya, semua murid pasti bertanya kepada gurunya, bawahan bertanya kepada atasan, junior bertanya kepada senior dst. Namun yang ditanya pun tidak akan sembarang menjawab, mereka pasti akan melihat referensi yang benar dan terpercaya untuk menjawab pertanyaan, seperti teori mengenai warna-warni pelangi dsb.
Bila menanyakan alamat agar tidak tersesat pun, biasanya kita telah memakai bantuan peta, GPS dsb. Guru yang terus menerus ditanyakan oleh muridnya oleh pertanyaan yang sebenarnya sudah tercantum dalam buku pelajaran pun pasti kesal dan menganggap muridnya itu “ndablek” – lain halnya bila murid yang bertanya untuk diskusi dan yang ditanyakan tak tercantum di buku.
Apalagi dengan kemajuan tekhnologi sekarang. Ada internet dsb, kita bisa browsing tanpa harus bawel tanya sana-sini. Bisa mengumpulkan fakta, definisi bisa kita dapat dari Wikipedia. Kalau dari situ aja ga bisa bagaimana caranya, kebangetan deh begonya.
Pertanyaan yang tak menyangkut soal ilmu tak penting adanya. Tapi dalam kehidupan sehari-hari, kita juga sering mendengar pertanyaan yang tak penting. Lebih sering pertanyaan yang menyangkut urusan pribadi orang lain. Dan ada kalanya pertanyaan itu tak bisa dijawab oleh yang ditanya. Bukan karena ia (yang ditanya) tidak tahu, tapi karena menyangkut masalah pribadi dan rahasia. Setiap orang punya hak pribadinya masing-masing. Jadi yah jangan usil dong, urus aja urusannya masing2. Pertanyaan usil tsb seperti : “kenapa sampai sekarang belum punya anak juga?”, “kenapa kamu ke pasar aja harus di antar?”, “kenapa anakmu autis?”, “kenapa kamu tidak melanjutkan pasca sarjana?” kelihatannya seperti pertanyaan simple tapi kita tak tahu jawaban di balik itu semua. Siapa tahu yang ditanya justru menangis karena alasan yang sangat prinsip. Dan bila kita terus menerus bertanya seperti itu berarti sama saja dengan menzhalimi orang lain.
Tahukah kita bila menzhalimi orang lain sangat besar dosanya. Apalagi bila orang yang kita zhalimi tanpa sadar tak bisa memaafkan kita, doa orang dizhalimi biasanya justru dikabulkan. Dan ada kemungkinan dosa kita justru semakin bertambah. Berpikirlah dulu sebelum bertanya. Apalagi kita telah punya bekal ilmu yang sangat mendasar yaitu membaca.
Bila kita bisa membaca….bacalah dulu apa yang ingin kita pertanyakan dan kira2 yang bisa jadi jawabannya. Bila penasaran dan pertanyaan (bukan diskusi) tak kunjung dijawab, itu adalah hak pribadi seseorang….masih penasaran,,,ada internet, daripada browsing video bokepnya luna-ariel atau hanya chatting mulu, kita bisa cari penyebab yang mungkin bisa menolong seseorang kenapa dia hingga dewasa tak mengemudikan kendaraannya sendiri, kenapa belum dikaruniai anak, kenapa suka latah, dan bila sudah tahu….sudahlah. jangan menghina. Itu sama saja mendzalimi orang lain.
Di balik pertanyaan kita yang menyangkut masalah orang lain, setelah kita tahu sendiri jawabannya kita akan tahu bila seseorang didera masalah, dan bila kita menyerangnya dengan pertanyaan itu sama saja dengan mendzhaliminya. Segeralah minta maaf. Dengan serius dan seikhlasnya-bukan minta maaf sambil main-main. Karena orang yang anda zhalimi doanya akan terkabul bila dia tak memaafkan perbuatan anda. Dan itu membuat anda sulit masuk surga.
wallahualam

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s