Winter Dreams


Novel karya Maggie Tiojakin ini menceritakan mengenai kisah seorang pemuda Indonesia yang tinggal di negeri orang. Kisah seseorang yang bertahan hidup untuk mencari makan dan kebutuhan sosialnya namun jauh dari keluarga.

Nicky F.Rompa, tokoh utama dalam novel ini, seorang pemuda yang awalnya tinggal bersama ayah sejak perceraian kedua orang tuanya. Namun hidupnya tak pernah rukun bersama sang ayah. Beliau sering curhat dengan sahabat di sebelah rumahnya, Reno, seorang pengangguran yang sedikit lebih tua darinya. Ketika ibunya Nicky mengetahui percekcokan antara Nicky dan ayahnya – info dari Reno – sang ibu menyarankan Nicky tinggal bersama tantenya di Amerika.

Ketika tinggal di Amerika, Nicky akrab dengan sepupunya Leah. Dan untuk pertama kalinya Nicky menjalin cinta pertamanya di Amerika dengan Polina. Namun persahabatan Nicky, Leah, Richard (pacarnya Leah) dan Polina tak berjalan mulus. Leah kecanduan narkoba, namun dia justru menjebak sepupunya sendiri sehingga Nicky diusir oleh tantenya.
Yang menghibur Nicky dari kegalauan setelah diusir dari tantenya adalah kekasihnya, Polina. Sementara Nicky tinggal dengan Polina. Namun akhirnya Polina hamil, hingga mereka pun putus sehingga Nicky pamit dari tempat tinggal keluarga Polina. Akhirnya Nicky mencari apartemen dan berkenalan dengan seorang room mate bernama Dev yang mepunyai pacar Natalie. Dan mereka bertiga pun menjadi sobat akrab seperti keluarga, sampai tak disadari terjalin cinta segitiga antara Nicky, Natalie dan Dev. Nicky selalu merahasiakan cinta dia dan Natalie agar tak diketahui Dev, karena Dev adalah sahabatnya.

Untuk mempertahankan hidup di Amerika, awalnya Nicky Lanjut membaca

Just So Stories


Judul Buku : Just So Stories _ Sekadar Cerita
Penulis : Rudyard Kipling
Penerjemah : Maggie Tiojakin
Ilustrasi : Staven Anderson
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Desember 2011
Jumlah Halaman : 158 halaman
Harga Buku : Rp.35.000,-

Buku ini merupakan buku yang bisa dibaca oleh segala usia – dewasa maupun kanak-kanak. Sebuah kumpulan cerpen klasik sebelum tidur karya penulis novel anak-anak, Rudyard Kipling.

Novel ini diterbitkan pertama kali oleh sang penulis seabad yang lalu, tahun 1902. Namun baru diterbitkan pertama kalinya di Indonesia oleh PT. Gramedia tahun 2011.

Kumpulan cerpen ini berbentuk fabel alias cerita mengenai hewan seperti kebanyakan karya-karya Rudyard Kipling lainnya. Hewan-hewan yang diceritakan disini bertingkah laku dan mempunyai sifat seperti layaknya manusia. Bisa berbicara, sombong, egois, malas dll. Dan karena sifatnya pula mereka mendapat bentuk tubuh seperti sekarang. Seperti unta yang berpunuk, gajah yang berlalai, dan mengapa kucing suka dilempari sepatu oleh manusia dsb.

Menariknya lagi di buku ini juga dilengkapi dengan gambar yang lucu-lucu. Jadi saat kita membacakan buku ini kepada anak sebelum tidur, si anak juga bisa kita tunjukkan seperti apa rupanya kangguru, kepiting, dsb. Di sini kita bisa mengajari anak-anak mengenai makna pelajaran hidup yang berharga.

Dalam terbitan yang baru ini, buku ini diilustrasi ulang oleh Staven Anderson. Sang illustrator, dalam prolognya menceritakan bahwa beliau sangat antusias saat menggambar buku karangan Rudyard Kipling karena beliau suka dengan karya klasik. Saya pribadi mengerti perasaan illustrator, karena saya pun suka dengan cerita klasik. Makanya buku ini menjadi pilihan saya. Meskipun kesannya cerita anak-anak, tapi buat saya cerita klasik sangat luar biasa, bisa dinikmati semua usia dan selalu dikenang sepanjang masa.

Di tiap cerita selalu diakhiri oleh puisi dan pantun yang sangat indah dan lucu. Dalam puisi dan pantun tsb terdapat pesan-pesan sangat bermakna kepada kita.
Kumpulan cerpen dalam buku ini tdd :

1. Lanjut membaca

Pertanyaan

Sedikit menyinggung kasus kecelakaan maut di Patung Pak Tani libur Imlek lalu, di luar pengetahuan kita – sebelum kejadian – tak ada yang tahu akan terjadi kecelakaan. Tak ada yang tahu akan terjadi kecelakaan yang menewaskan pejalan kaki karena pengemudinya dalam keadaan mabuk. Pengemudinya dalam keadaan delirium(kesadaran berkabut). Jelas semua menyalahkan sang pengemudi. Tapi,,,,di balik semua itu…sebelum kejadian, di luar kejadian adakah yang tahu mengapa ada seseorang tak mengemudikan sendiri kendaraannya? Dan mengapa ia menjerit saat ditanyakan perkara tersebut? Karena kondisi fisiknya yang mengharuskan beliau demikian, bukan karena pemabuk, tapi karena tak diizinkan dokternya. Karena kondisi yang mengakibatkan ia seperti orang mabuk dan bahaya bila berkendaraan seorang diri. Saat belum kejadian semua orang menanyakan perkara itu kepadanya. Namun ketika terjadi peristiwa kecelakaan – bukan karena mabuk seperti Afriyani Susanti – tapi karena kondisi patologis, semua orang pasti akan menghakiminya. “mengapa kamu mengendarai mobil sendiri? Kan bahaya?” semuanya jadi seba salah kan…padahal beliau mengendarai mobil juga karena tuntutan masyarakat.
Kata pepatah “malu bertanya sesat di jalan”. Jadi intinya kita tak boleh segan-segan untuk bertanya. Bila kita tidak bertanya, kita tidak akan tahu apa-apa. Mulai dari kecil kita dibiasakan bertanya untuk mengetahui segala hal disekitar kita. Seperti “mengapa pelangi berwarna-warni?”, “mengapa bulan hanya tampak pada malam hari?” dsb.
Tapi, contoh peristiwa kecelakaan yang bukan dilakoni Afriyani Susanti di atas justru sebaliknya. Itu semua karena pertanyaan yang menyesatkan. Pelaku terpaksa melakukannya karena segala macam pertanyaan yang berakhir dengan pertanyaan lagi. Yang menyesatkan.
Memang tak salah bila kita bertanya, tapi kata pepatah yang kita dapatkan secara turun temurun itu sepertinya “agak menyesatkan”. Kesannya bertanya adalah gudang ilmu. Padahal telah diturunkan dalam surat Al Alaq mengenai “Bacalah”…bacalah kamu. Membaca adalah sumber ilmu. Yang merupakan sumber ilmu adalah membaca bukan Lanjut membaca