Beberapa waktu yang lalu, aku menerima kabar bahwa salah seorang teman sejawatku Agoes Naziel Furqon – seorang dokter yang masih muda – meninggal dunia. Berita ini sangat mengejutkan, karena sangatlah mendadak, karena almarhum adalah seseorang yang ceria, aktif, supel, dan sangat eksis di situs jejaring sosialnya. Beliau selalu update dengan status di situsnya. Termasuk sehari sebelum ajalnya. Tak pernah tampak keluhan mengenai sakit atau apapun di situsnya. Makanya sangat kaget dengan berita kematiannya.
Semua orang sempat menyangkal berita duka ini. Namun berita ini benar adanya, karena datang dari sang istri. Ternyata beliau memang sangat mendadak sakit – hanya gejala sakit biasa – yang langsung dibawa ke UGD lalu langsung dipanggil Sang Khalik.
Beberapa tahun yang lalu aku pun mendapat kabar serupa, teman SMA, yang juga seorang dokter meninggal dunia. Usianya pastilah masih sangat muda, karena itu terjadi sekitar 2-3 tahun lalu. Dan saat ini masih ada kabar lainnya, salah seorang temanku, ayahnya yang juga seorang dokter kini terbaring kritis di ruang ICU.
Begitu banyak tuntutan masyarakat kepada seorang dokter. Karena dokter adalah tempat untuk berobat. Kesannya dokterlah yang menyembuhkan. Padahal yang menyembuhkan adalah Tuhan, dokter hanya memberi jalan menuju kemudahan.
Karena dokter dianggap masyarakat sebagai yang bisa menyembuhkan, maka masyarakat menuntut juga agar dokter senantiasa sehat. Tak boleh sakit. Ibarat dewa. Bila dokter sakit, hal itu dianggap aneh oleh masyarakat. “Dokter kok sakit?” “Dokter kan gak boleh sakit.” “Kamu kan dokter, masa sih sakit?”
Dokter adalah seorang manusia. Bukan Tuhan. Bukan dewa. Dokter tetap layaknya seorang manusia yang menngalami fisologis manusia pada hakikatnya. Bila lapar, seorang dokter tetap ingin makan…sama seperti pasiennya. Seorang dokter juga pernah mengalami rasa haus, ngantuk, lelah, masturbasi, nafsu seks, emosi, menstruasi (bila wanita), sangat kedinginan pun dokter ingin pipis, saat kepanasan pun dokter berkeringat, dsb. Karena dokter juga manusia. Manusia yang mengalami proses metabolisme tubuh untuk siklus hidupnya. Dan ada ‘sinyal’ bila ada yang tak beres alias sakit. Wajarlah bila dokter juga sakit.
Bila dokter dituntut untuk tak sakit, kita semua melihat bahwa kebanyakan dokter mengenakan kacamata bukan? Pakai kacamata saja sudah merupakan tanda bahwa matanya tak sehat. Berarti tak semua dokter sehat.
Tak ada yang sempurna di dunia ini. nobody perfect. Kita hidup bersosialisasi justru karena kita tak sempurna. Agar bisa saling menolong.
Justru karena dokter pernah mengalami sakit, biasanya dia jauh lebih sensitif akan keadaan pasiennya. Tahu bagaimana rasanya jadi orang sakit. Tahu bagaimana rasanya sakit kepala, tahu bagaimana rasanya punya anak yang sakit, tahu bagaimana rasanya harus tirah baring selama seminggu. Justru dorongan psikisnya kepada pasien lebih kuat. Yang dibutuhkan pasien selama berobat tak hanya obat, tapi dukungan moril (psikis) sangat perlu karena biasanya orang yang berobat sering putus asa duluan. “Dok, anak saya bisa sembuh ga?” “Dok, saya kapan sembuhnya?” “Dok, kalau anak saya sakit nanti dia besarnya bakal jadi apa?” dst.
Dokter juga manusia yang juga pernah merasakan sakit-manisnya kehidupan sama seperti pasiennya. Dokter juga pernah merasakan sakitnya dikhitan saat kecil, dokter juga pernah mengalami kecelakaan, dokter juga pernah merasakan sakitnya melahirkan, dokter juga berjuang untuk tetap hidup karena yakin dirinya bukan dewa,,,dan dokter juga pasti akan dijemput kembali kepada-Nya. Karena dokter adalah manusia yang pasti akan kembali ke- Sang Pencipta. Karena itu lah dokter juga selalu berdoa, sebab tahu dia hanya manusia biasa yang pasti akan sakit dan mati.
Bila dokter tidak pernah sakit, dia pasti akan arogan dan tak religius, bukan? Justru bisa jadi mengganggap dirinya Tuhan seperti Firaun. Naudzubillah min dzalik.
Sekali lagi yang menyembuhkan adalah Tuhan- bukan dokter- dokter hanyalah sebagai perantara. Dan dokter adalah manusia. Yang akan meninggal….begitu pula kita semua, termasuk juga aku…entah kapan. Kita semua pasti akan kembali kepada-Nya.
PS : Turut berduka cita atas kepergian temanku..situs almarhum masih aktif, admin dihandle oleh saudaranya. Dan juga bagi saudara2 teman yang sedang sakit, semoga diberi kesabaran bagi seluruh keluarga, dan semoga diberi kesembuhan oleh Nya.