
Lebaran atau Idul Fitri yang merupakan hari kemenangan setelah satu bulan menahan nafsu tak lepas dari tradisi makan ketupat di negara kita.
Biasanya di tiap rumah pasti ada ketupat dan uniknya lagi walaupun kita telah mencicipi hidangan di rumah sebelumnya dengan menu serupa tak pernah bosan kita mencicipi lagi di tempat lainnya. Tapi meskipun begitu di tiap rumah pasti ada satu atau beberapa hidangan yang khas dan beda dari lainnya.
Lebaran kali ini di rumahku telah tersedia menu lengkap khas lebaran yang selalu dihidangkan tiap tahun di rumah , yaitu : ketupat, opor ayam, rendang, sambal goreng kentang-ati, oseng tempe, gulai labu siam plus segala ‘pernak-pernik’nya seperti bawang goreng, emping, kering kentang, timun segar dan satu lagi yang bikin hidangan terasa makin mantap yaitu SAMBAL TERASI !! hmm…sedaaap.
Sempat bingung juga saat menata meja makan dengan aneka rupa hidangan lebaran tersebut, masih ditambah lagi berbagai cemilan untuk tamu seperti kolang-kaling, tape, kacang,brownies kukus, bika ambon dan batagor. Belum lagi tumpukan piring berbagai ukuran, sendok-garpu, aqua gelas (supaya menghemat tenaga cuci piring) dan di tengahnya bunga sedap malam yang wangi. Semuanya demi kepuasan para tamu, agar mudah saat mengambil hidangan tidak perlu mondar-mandir ditambah bunga yang cantik dan harum bercampur dengan harumnya terasi. Meja makanku pagi itu tak kalah padatnya dengan arus mudik di jalur Pantura atau kereta bisnis jurusan Jawa
Ketika pagi-pagi terdengar takbiran, sambil mengantri giliran mandi kunikmati teh Tong Tji, sambil mencicipi sepotong kue brownis kukus rasa pandan yang kubawa dari Bandung. Sedapnya teh …ditambah wangi teh Tong Tji yang beraroma melati, begitu aku menegak teh kunikmati wangi teh dan setelahnya kunikmati harum bunga sedap malam yang masih segar. Sebelum shalat Ied, sambal terasinya belum terhidang di meja makan jadi terasa segar udara karena wangi bunga ditambah lagi saat malam takbiran, semalaman Jakarta diguyur hujan. Sehingga terasa segar sekali ditambah indahnya lantunan lafadzh takbiran.
Selesai shalat Ied, bermaaf-maafan sekeluarga dan menikamati hidangan lebaran aku langsung ke rumah nenek di Bukit Duri Tanjakan.
Ternyata tak sama persis hidangan di rumah Nenek. Nenek tak menyajikan ketupat, yang disajikan justru lontong. Menu lainnya kurang lebih standar menu lebaran, hanya tak tersedia sambal terasi, sebagai gantinya Nenek menyediakan sambal acar. Tapi memang benar kata orang, bagaimanapun juga makanan di rumah sendiri memang yang paling enak ![]()
Di rumah Nenek, cenderung lebih banyak cemilan daripada makanan utama. Biasanya masing-masing cucu atau anaknya yang membawanya. Tersedia baso, rujak, es buah, aneka kue. Dan tidak semuanya sempat kucicipi.
Di rumah uwa’.., aku hanya sowan sebentar jadi tak lihat menu utamanya. Yang khas dan diserbu para tamu di sini adalah tape, opak, rujak atau asinan yang merah segar dan bertaburan irisan cabai segar.
Sedangkan hidangan khas di tempat pakde adalah ketupat dengan pecel dan rempeyek.
Hari kedua lebaran yang sepenuhnya kunikmati di rumah setelah sehari sebelumnya berkeliling, hidangan lebaran di rumahku telah ‘menciut’ sehingga diungsikan ke meja makan yang lebih kecil. Dan menunya masih sama, tapi masih belum bosan juga. Ketika sore hari kedatangan tamu, hidangan yang laris manis tandas diserbu para tamu adalah pisang rebus, tape dan batagor.
Sungguh nikmat bersilaturahmi sambil mencicipi aneka hidangan lebaran.
Kita rela merepotkan diri demi kepuasan para tamu agar nyaman bersilaturahmi dengan kita di hari yang penuh kemenangan ini.
Dan satu hal yang masih menjadi pertanyaan, siapakah yang pertama kali menciptakan ide ketupat dll sebagai hidangan lebaran di negara kita? Kenapa semua orang pasti mengenalnya dan bisa membuatnya? Kenapa semua orang menyukai menu ini? kenapa kita tak pernah bosan saat lebaran disuguhkan oleh ketupat dkk? Hebat juga yah nenek moyang kita…Salut!!
Selamat Idul Fitri
Mohon maaf lahir batin

Pingback: Hidangan Lebaran(2) « story of the daily