Penipuan Lewat SMS

Hari Minggu di bulan puasa, ingin menikmati hari libur dengan istirahat sepuasnya.
Sehabis sahur dan shalat Subuh langsung tidur lagi. Ditambah cuaca Bandung yang sangat dingin, jadi makin enak tidurnya :)
Terbangun oleh bunyi SMS di ponsel…kebetulan memang sudah jam setengah 8 juga sih.. langsung buka jendela dan nyalain radio supaya nggak ketiduran lagi.
Masih keadaan setengah mengantuk, gue raih ponsel dan baca SMS-nya, aneh atau masih mimpi nih? Dari nomor yang tak dikenal dan begini isi pesannya :”Kirimin mama dulu pulsa 50rb di nomer baru mama ini no nya, tolong kirim skrg mama mau pakai tlpn penting banget”
Gue emang sangsi kayaknya nggak mungkin deh nyokap. Yang jelas, gue tadi begitu habis baca SMS diem aja dan masih menguap ngantuk terus2an…jadi balik lagi ke kasur. Pas udah rada seger gue buka lagi ponselnya untuk memastikan itu bukan mimpi. Ternyata emang bener.

Dan gue tetep sangsi kalo itu dari nyokap gue. Kenapa? karena gue tahu nyokap gue itu gaptek dan nggak pernah serapi itu ngirim sms. Biasanya nyokap antara angka 0 dan huruf o pasti nyampur, jadi pasti “5orb” bukan “50rb”. Trus…nyokap gw kalo sms pasti awalnya selalu pake nama pangggilan gue di rumah…dan sorry aja ini cuma ortu dan saudara kandung gue aja yang tahu. Yaah berhubung hari Minggu sekalian aja gue nelpon nyokap buat konfirmasi. Lewat no hp yang biasanya.

Memang lagi marak penipuan kayak gitu lewat SMS. Yang jelas kita harus waspada aja bila ada SMS dari nomor yang tak kita kenal apalagi yang berbasis uang. Sedikit tips berdasarkan pengalaman gue tadi. Bila si pengirim mengatasnamakan seseorang yang kita kenal, sebaiknya kita kenali dulu ‘watak’ tulisan si pengirim bila mengirimkan sms. Setiap orang pasti ada ciri khas tertentu untuk mengirimkan sms, baik dari segi bahasa, tulisan, singkatan, dsb. Kalo ada yang ‘nyeleneh’ dikiiit aja dan mminta pulsa, hati-hati aja deh.

Upacara Saat Puasa


Tanggal 17 Agustus kemarin, seperti ritual tiap tahun aku upacara merayakan kemerdekaan RI. Dengan seragam putih biru serta kerudung hitam, aku beserta rekan kerja sekantor datang semua untuk upacara. Untuk tahun ini terasa beda karena upacara dilakukan saat bulan ramadhan alias puasa. Jauh hari sebelum itu para karyawan pun mengeluh dan keberatan akan dilakukannya upacara. Sehari sebelum upacara, kotaku seharian diguyur hujan namun tepat saat jam dilaksakannya upacara cuaca sangat cerah. Matahari cenderung terik. Terasa sekali sinar matahari bersinar di ufuk timur menyinari wajah kami yang sedang upacara di lapangan. Ada yang bilang upacaranya pakai pawang hujan supaya tetap hadir :)

Mengenang cerita almarhum Mbah putri, tentang cerita 17 Agustus – 65 tahun lalu atau tahun 1945, memang bertepatan dengan bulan ramadhan. Waktu proklamasi kita semua – bangsa Indonesia – yang muslim- sedang beribadah puasa. Terbayang saat Jepang menjajah kita, kita tetap bergerilya tengah malam namun tetap bangun sahur, shalat tarawih dan adapula yang itikaf. Para kaum ibu menyiapkan buka puasa bagi para pejuang dan tak kenal lelah membawa rantang ke pengungsian saat puasa. Ikhtiar bangsa kita memang patut dibanggakan. Walaupun telah diucapkan Proklamasi kita menyorakkan kata merdeka dalam keadaan lapar dahaga. Belum lebaran tapi kita telah saling bersalaman satu sama lain. Mengucapkan selamat atas kemerdekaan. Semuanya kita anggap saudara. Saudara sebangsa setanah air.

Mengingat lagi perihal upacara yang hanya berlangsung beberapa jam di tengah teriknya matahari. Saat berpuasa. Sepertinya jauh lebih ringan dibandingkan pengorbanan saudara kita 65 tahun lalu yang juga berlangsung saat puasa. Bila kemenangan dan kegembiraan upacara kali ini berbuah dengan judul “THR” sedangkan dulu berbuah kemerdekaan. Jauh lebih terasa manakah antara THR dan kemerdekaan? Bila THR hanya dapat dinikmati oleh kita beserta keluarga sedangan kemerdekaan dapat dinikmati seluruh bangsa – oleh jutaan umat manusia setanah air. Bila THR dapat dinikmati sampai hari raya, sedangkan kemerdekaan dapat dikmati sampai detik ini….65 tahun merasakan embusan ketenangan tanpa dijajah. Bila THR selalu dirasakan kurang, kemerdekaan tak pernah kurang. Bila THR hanya didapat oleh kita atau karyawan, kemerdekaan pun dirasakan oleh seorang pengangguran. Bila THR hanya ada saat bulan puasa, sedangkan kemerdekaan selalu ada sepanjang masa. Memang aku sendiri pun tak sangsi bahwa aku juga kerap menanti THR, tapi akankah ada THR bila kita belum merdeka? Dan saat kita belum merdeka, kita tak butuh THR untuk lebaran tapi setidaknya sepiring nasi saja sudah cukup….syukur-syukur bisa beserta rendang atau opor ayam. Bila tak merdeka dapatkah kita menikmati amplop THR? Dan itupun berkat jasa nenek moyang kita yang bergerilya saat puasa sedangkan kita cukup dengan upacara saja saat puasa….
Terima kasih pahlawanku…..
MERDEKA!!!