Beberapa kali menyaksikan iklan di Star World dan beberapa channel TV Internasional lainnya, sempat menduga bahwa Indonesia yang sedang dipromosikan. Bayangkan saja tayangan yang tampak dalam iklan itu : wayang, bunga Rafflesia Arnoldi, orang yang sedang melakukan lompat batu, rumah panggung, bocah-bocah ingusan yang sedang main permainan khas adat kita, pasar apung dalam perahu di sungai, tampak pula beberapa candi kecil (entah candi apa) dan batik;…kita (sebagai orang Indonesia) pasti berpikir itu adalah Indonesia. Tapi tunggu dulu…di ujung iklan itu lalu tampak beberapa orang bule dan India, menara kembar dan buntutnya tertulis serta terdengar kata-kata ”Malaysia, truly Asia”
Marah?
Pasti…sebagai orang Indonesia kita pasti merasa gusar karena kita tahu pada awal yang ditayangkan oleh iklan itu adalah ciri khas Indonesia. Tapi mengapa dipromosikan sebagai Malaysia di tayangan TV Internasional pula. Seakan-akan memberi tahu pada dunia bahwa itulah Malaysia. Bagi negara yang belum tahu Indonesia pasti percaya saja kalau itu semua adalah adat Malaysia, dan justru kita nanti yang dianggap sebagai penjiplak.
Dan gondoknya lagi masih banyak adat kita yang diklaim Malaysia selain yang disebutkan di atas, masih ada reog, angklung, lagu ”Rasa Sayange” dan terakhir tari khas daerah Bali yang merupakan tari penyambutan datangnya tamu agung yaitu tari Pendet!
Sebenarnya apa sih maunya Malaysia mensabotase kebudayaan kita? Bila slogannya adalah ”Malaysia, truly Asia” kenapa Asia-nya yang mereka ’jajah’ budayanya hanyalah Indonesia? Kan masih banyak negara-negara di Asia lainnya? Ataukah mungkin karena Indonesia adalah negara yang paling kaya budayanya di Asia. Bila yang mengklaim wayang adalah India masih masuk akal karena budaya perwayangan yang kita punya masih warisan dari India. Tapi kalau Malaysia? Apakah mereka tahu cerita Ramayana atau Mahabarata? Memang ada sebagian warga Malaysia yang masih keturunan India, tapi sepertinya cerita perwayangan di sana tidaklah dikembangkan seperti di sini. Tidak tampak pula candi di Malaysia kan? Apalagi orang yang bisa membatik atau main angklung. Kalau yang mereka klaim adalah budaya di daerah Sumatera atau Kalimantan tempat mereka ’nebeng’ di lahan kita, masih masuk akal, karena mungkin budayanya tidak jauh beda karena masih satu lahan. Tapi kalau budaya yang berada di pulau Jawa atau Bali juga mereka klaim seperti angklung, batik, reog dan tari Pendet….rasanya sangat tidak masuk akal. Karena sangat jauh dari tanah mereka. Hati-hatilah jangan sampai akhirnya mereka mengklaim juga Jaipong, Rampak Kendang, Silat, Gamelan, lagu ”Suwe Ora Jamu”, gudeg, lotek, gado-gado, peuyeum, keripik tempe, soto Madura, onde-onde, combro, tahu gejrot, tempe mendoan, bakpia…(laper dot com )
Tapi, kembali bercermin pada diri kita sendiri. Bila dipikir-pikir semuanya tak mutlak 100% salah Malaysia..mungkin ini karena kita juga yang kurang ’sayang dan cinta’ budaya sendiri. Coba siapa yang tahu darimana asal lagu ”Rasa Sayange”? Walaupun kita hapal mati syairnya tapi kita mungkin lupa darimana asalnya. Ada yang tahu di mana tradisi lompat batu dan pasar apung berasal? Dan sebelum batik diklaim Malaysia, hanya berapa persen sih warga kita yang mengenakan batik? Batik sebelumnya hanya digunakan saat acara adat atau acara formil saja.
Justru dengan pengklaiman dari ’negeri penjajah budaya’ itu kita memperlihatkan masih ada rasa sayangnya kita terhadap budaya Indonesia. Banyak warga kita yang marah akan hal itu dan dilampiaskan lewat beberapa media. Kita masih sadar bahwa itu semua adalah milik kita dan tak ingin diambil orang lain.
Haya saja belum ada sikap yang tegas dari pemerintah mengenai ’penjajahan budaya’ ini. Dan ini yang membuat kita semakin ’panas’ hubungannya dengan Malaysia.
Memang sangat disayangkan negeri kita yang kaya budaya ini justru kurang sekali promosinya ke dunia Internasional. Setelah ada pengklaiman beberapa budaya kita, klarifikasinya justru ke dalam negeri (dan kita sendiri pasti telah tahu itu asli made in Indonesia), seperti dalam iklan obat flu beberapa waktu lalu. Bukan ke dalam tayangan TV Internasional seperti yang dilakukan Malaysia. Cobalah untuk membuka mata dunia akan budaya negeri kita. Visit Indonesia Year tahun lalu pun kurang berhasil, buktinya negara lain masih belum tahu adat tradisi kita saat ditayangkan dalam iklan untuk Malaysia. Memang belum pernah ada tayangan yang mempromosikan tentang Indonesia di channel TV Internasional. Negara di Asia yang selalu jadi langganan di iklan TV Internasional adalah Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina. Indonesia sama sekali belum pernah!!! Yang ada di tayangan iklan TV Internasional justru tentang kota Jakarta dan Ubud, Bali. Makanya Malaysia tidak berani mengklaim Monas dan resort di Ubud sebagai budaya mereka.
Wahai para pejabat di Departemen Pariwisata, apa sulitnya menayangkan tentang Indonesia di channel TV Internasional? Begitu banyak budaya kita tanpa harus mengambil budaya negeri lain. Justru pemasukan kita lebih banyak dan tayangan iklannya pun pasti jauh lebih menarik daripada tayangan tentang Malaysia. Kita bisa lebih variatif, setiap bulan satu kota saja di Indonesia – mencakup makanan, lagu, tarian dan tempat menarik – pasti iklannya bisa lebih dari setengah jam. Bertindaklah secepatnya sebelum kita ’dicopet’ lagi.
Save Our Nation and Our Cultures
Seorang wanita tlah berdandan dengan bunga kemboja di rambutnya dan piring berisikan bunga di tangannya
“Wahai Datuk, ada yang hendak kupersembahkan padamu?”
”Apa yang Puan hendak lakukan”
”Aku hendak dance untuk menyambutmu, Datuk?”
”Oh, dance apa?”
“Namanya dance Pendet.”
Sang putri pun menari dengan iringan kaset, matanya melirik kesana kemari mengikuti gerakan jemarinya. Namun, hanya dalam hitungan menit, matanya tak bisa melihat ke arah sang raja.
”Hai Puan, ada apa dengan your eyes.”
“Entahlah Datuk…ternyata dance ini sangatlah sulit. Tapi dia melakukannya dengan beautiful, mengapa aku tak bisa?”
”Siapa yang mengajar dance ini, Puan?”
”Budak kita dari Indon.”(cerita ini hanya fiktif- tapi bisa saja terjadi – cegahlah sedini mungkin)
salam, saya Agus Suhanto, posting yang menarik
… lam kenal yee
malaysia
indonesia
timor-timor
australia
pilipina
batas-batas wilayahnya
ditentukan oleh penjajah
jaman dulu kala
sultan demak di jawa
bersahabat
dengan sultan malaka di malaysia
makanya demak mengirimkan
armada kapal perang
untuk menyerang portugis
yang menduduki bandar malaka
Gelang
sipatu gelang
gelang si rama-rama
mari pulang
marilah pulang
marilah pulang
bersamo-samo
mari pulang
marilah pulang
marilang pulang
bersamo-samo
orang malaysia pasti ngerti juga lagu ini
soalnya bahasa kita samo-samo melayu
adalagi kesamaan dengan malaysia
sama-sama suka pake sarung
cuman aku gak tau apakah mereka juga suka tidur
pake sarung kaya kita-kita di sini
Pada pendapat saya, Malaysia dan Indonesia kan dikira serumpun maka sudah pasti ada budaya-budaya yang seakan-akan sama. Kalau dilihat pada sejarah, pendedahan budaya Malaysia dan Indonesia banyak dipengaruhi oleh India dan China yang mana menjadi kuasa perdagangan besar pada waktu dahulu.
http://forum.lowyat.net/topic/1159659