
Beberapa rombongan yang menuju Istana Negara mendadak terhambat di jalan Harmoni, Jakarta. Ada demo ribuan orang yang mengenakan baju putih. Mereka sengaja menghalangi rombongan tersebut mencapai Istana Negara.

Dalam rombongan mobil yang berwarna biru, seorang pengemudi bertanya kepada penumpangnya.”Bagaimana Pak? Macet total. Apakah sebaiknya kita berhenti saja di sini?”
”Tidak bisa!” jawab penumpangnya.”Kita harus tetap jalan sampai ke istana. Lanjutkan!”
”Tapi jalannya macet Pak, apa ditunda saja ke istananya?”
”Jangan menyerah. Apa tidak bisa lewat jalan lain?”
”Bisa Pak,”jawab si pengemudi.”Tapi nanti bisa terlambat karena banyak lampu merah.”
”Tenang saja. Kita kan masih dikawal Paspampres, jadi lampu merah bisa kita terobos. Mau lewat mana.”
”Kita putar ke arah Blok M saja Pak, terus mutar ke Kalideres, setelah itu kita putar lagi ke jalan Suryopranoto, terus…”
”Wah!” penumpangnya mulai gusar.”Kenapa harus putar-putar begitu sih? Pasti lama sampainya. Cukup satu putaran saja.”
Sementara di rombongan mobil merah juga kebingungan. Pengemudinya benar-benar menyerah untuk membawa rombongan tersebut ke istana, selain karena macet, ban belakang mobil mereka juga kempes karena keberatan penumpang.
”Bu, bagaimana? Kita tak bisa ke istana.”
”Kenapa? Saya yakin saya yang akan bisa lebih dulu ke istana. Istana itu kan tempat tinggal saya dan bapak saya.”
”Sulit bu…jalanan macet dan ban mobil kempes.”
”Kita turun saja lah, biar lebih pro rakyat, naik busway saja.”
Akhirnya rombongan dari mobil merah itu turun dari mobilnya. Mereka menyebrang jalan untuk naik busway jurusan Blok M – Kota.
Salah satu penumpang dari rombongan mobil kuning tampak sewot. ”Kenapa sih dulu tidak jadi dibuat jalan layang di Harmoni? Akhirnya jadi macet begini kan?”
”Tapi Pak, bukannya proyek jalan layangnya itu untuk arah Harmoni ke Roxy? bukan untuk langsung ke arah istana ’kan?”
”Ya, tapi kalau jadi dibuat kan tidak terlalu banyak kendaraan lewat sini, kita bisa jadi lebih cepat.’
”Pak,” kata seorang pengemudi.”Kita lewat jalan lain saja, kan kita juga masih dikawal Paspampres jadi masih bisa lancar di jalan. Walaupun sampai istananya jadi agak ngaret.”
”Tidak bisa. Lebih cepat lebih baik!” jawab si penumpang ”Saya naik motor Paspampres saja kesana supaya bisa lebih cepat.”
Para rombongan lainnya yang ada dalam mobil kuning itu menutupi wajahnya dengan tisu dan saputangan karena ketua rombongan yang sedang gusar itu selalu saja memercikan ludahnya setiap kali ia bicara.
Kepala rombongan dari mobil biru sudah mulai mengeluarkan sepeda agar bisa menerobos kemacetan menuju istana. Rombongan merah mengalami kesulitan saat naik busway, setiap kali ibu ketua rombongan naik, ban mobil busway parsti kempes. Akhirnya agar lebih pro rakyat, mereka pun jalan kaki menuju ke istana. Ketua rombongan kuning dibonceng motor Paspampres menuju ke istana.
Namun ketiga rombongan itu mengalami kesulitan. Selain perjalanan yang lelah dan tak nyaman, semakin banyak saja demo orang-orang ’putih’ dari berbagai golongan yang menghalangi mereka. Dari berbagai perkumpulan yang berwarna putih tumpah ruah di Harmoni. Ada dari kumpulan baju putih, muka putih, gigi putih, rambut putih, bawang putih dsb dengan kompak menutupi Harmoni ke arah istana.
Apakah ada dari ketiga rombongan yang ’balapan’ ke istana itu bisa ke istana walaupun dalam waktu dua hari….?
(arlin,juli’09)
*maaf…bila arah rute jalan yang ditulis di sini tidak sesuai dengan yang seharusnya
* garing dotcom