Senangnya bisa ketemu sama Pak M.U,
Datang pakai baju ungu,
Dengan gaya senyumnya yang lugu.
Seperti biasa Pak M.U selalu datang di akhir waktu. Waktu hanya sepersekian detik dari bel masuk. Menghampiri mejanya sambil mesem-mesem ke arahku lalu melepaskan jaketnya untuk dihampirkan pada sandaran kursinya. Setelah duduk langsung buka tabloid Otomotif dan membacanya dengan santai. Ketika pikirannya sudah mulai ’fresh’ untuk kerja beliau buka laptop portege-nya, yang pertama kali dibuka folder e-mai. Dan email-nya yang baru masuk dari rekan-rekannya amat banyaaaaak. Tapi salut juga, dia baca satu per satu email yang masuk dan diusahakan di balas dan ditindak lanjuti.
Setelah itu beliau menghadap meja kerjanya yang penuh dengan dokumen untuk di review dan ditandatangani. Beliau melakukannya sambil duduk selonjoran santai, persis seperti orang nonton televisi di rumah, tidak seperti orang yang serius kerja. Tapi semuanya tetap dikerjakannya dengan sungguh, buktinya posisi jabatannya sekarang adalah kepala bagian suatu bidang kerja di tempatnya. Sesekali beliau suka pula menggeliat bagai orang baru bangun tidur saat sedang bekerja. Selain langganan tabloid Otomotif beliau juga langganan majalah Kartini, pasti titipan istrinya, tapi dia juga suka membacanya. Beliau juga jarang ada di tempat karena sering sekali ikut meeting sana sini sehingga anak buahnya sangat merindukannya. Entah dia tidak ada di tempat karena meeting atau sibuk dengan ’hobi’nya.
Pak M.U memang termasuk perokok berat. Itulah hobinya. Makanya beliau suka ’ngaret’ masuk kantor karena pagi harinya selalu nongkrong dulu untuk merokok. Walaupun itu bukanlah kebiasaan hidup yang sehat, tapi justru karena kebiasaannya itulah beliau tampak merakyat. Sangat dekat dan familiar dengan orang-orang disekitarnya, tanpa memandang jabatan, pendidikan yang tidak setinggi yang ditempuh Pak M.U, benar-benar pribadi yang sangat merakyat. Beliau selalu menyapaku dan menagajak becanda basa-basi. Padahal dia memang super sibuk, masih bisa saja diajak tertawa, beliau sibuk dengan tugas kerjanya dan kegiatan ekskulnya sebagai salah satu pemegang amanat yang bertanggung jawab untuk menjalankan pasal 33 UUD’45.
Waktu Pak M.U tak masuk, aku selalu saja ada perasaan cemas, rasanya seperti kehilangan seorang figur yang bisa menghiburku, walaupun kita bukan sahabat tapi aku salut di tengah-tengah kesibukannya itu beliau bisa saja membuatku terasa relaks di tengah-tengah suasana kerja yang stres. Selain itu, yang membuatku cemas saat beliau tak hadir karena sebelumnya dia pernah kena typhoid fever dan beliau juga menderita gastritis. Ditambah lagi dengan kebiasaan makan dan pola hidupnya yang tidak sehat, makanya beliau selalu kurus, jadi suka kambuh juga gejala gastritis-nya. Beliau juga sakit kepala, mungkin karena stres kerjaannya yang selalu numpuk sehingga bisa setinggi Pegunungan Himalaya. Bila beliau tidak masuk, aku penasaran dengan basa-basi bertanya kepada anak buahnya,”Pak M.U kenapa?”. Mungkin karena gastrirtisnya Pak M.U selalu sedia cemilan di meja kerjanya. Ada sekotak biskuit marrie di mejanya dan dia memperbolehkan siapa saja yang mampir kemejanya atau minta padanya untuk mengambil biskuitnya sesuka hati – sebanyak yang mereka mau. Memang benar-benar merakyat, dan yang membuatnya merakyat bukan karena kebiasaan merokoknya, benar-benar dari jiwanya sendiri.
***
Setiap orang bisa saja jadi public figure . Seorang panutan yang dikenal dan menjadi panutan masyarakat luas. Entah dalam suatu daerah atau kota ata RT atau di tanah airnya atau mungkin di seluruh dunia. Yang akan selalu tercatat dalam sejarah walaupun yang bersangkutan telah meninggal.
Pak M.U memang bukan (belum) menjadi public figur. Oleh karena itu, namanya masih dalam inisial saja. Tapi buatku pribadi dia adalah seorang personal figur. Bukan juga karena aku naksir kayak abg yang jatuh cintrong sama bintang sinetron atau asisten dosennya. Tapi dia benar-benar seorang tokoh yang punya ’image’ tersendiri. Seorang pribadi yang santai, sederhana, familiar tapi juga seorang yang pintar dan profesional dan bisa menyelesaikan tugasnya dengan santai serta memanage anak buahnya dengan baik.Anak buahnya pasti merasa kehilangannya bila beliau tak hadir. Walau pintar dan punya jabatan yang bergengsi ditambah laptop kerennya, beliau juga tak pernah sombong. Salut.Entah di mata orang lain mengenai beliau. Pasti semua orang mempunyai pandangan yang berbeda.
Sebelum menjadi public figure, pastilah seseorang menjadi tokoh panutan seseorang atau massa yang lebih kecil dulu. Dan semua itu berkat jasa, image atau kepribadian yang menarik, prestasi, kepahlawan dan sebagainya. Bila seseorang atau sekelompok orang kenal dengan kebaikan suatu tokoh dan pastilah akan terus menyebar dari mulut ke mulut maka seluruh dunia pun akan mengenalnya. Dan tercatat dalam sejarah.
So, anyone can be a public figure. Siapapun bisa jadi tokoh masyarakat atau public figure. Public figure dalam hal kebaikan bukan kejahatan. Buatlah prestasi atau image sebaik mungkin. Hanya karena nge-blog saja siapa tahu banyak yang kenal dengan kita, karena hobi kita bisa terkenal. Karena senyum kita yang dekat dengan massa, karena kita yang selalu menolong dsb. Semuanya tak perlu keluar modal besar untuk jadi public figure.
Bagaimana dengan Pak M.U?….siapa tahu?
I Know who are you talking about…