Setelah membaca essay dari Catatan Pinggir Tempo yang ditulis oleh Goenawan Muhammad mengenai “Blangkon”, baru kali ini saya terpikir akan suatu hal yang sebenarnya bukan hal baru dan sering tercatat dalam buku sejarah. Terutama bila menyangkut Kebangkitan Nasional. Yaitu tentang : dokter Jawa.
Memang menyedihkan masa-masa kita dijajah Belanda pada awal abad ke 20 itu. Kita, bangsa Pribumi, telah mendapatkan hak untuk pendidikan, tapi sebenarnya masih tertindas. Yang menjadi guru untuk STOVIA (sekolah dokter pertama di Indonesia, Betawi, sekarang FK UI) saat itu tentu saja orang-orang Eropa. Dan bangsa kita telah mendapatkan hak untuk belajar di STOVIA, namun sangatlah sedikit pribumi yang bisa sekolah di situ. Sebenarnya STOVIA diperuntukkan bagi anak-anak orang Eropa yang tinggal di Indonesia, namun akhirnya beberapa orang bangsa kita pun berhak untuk sekolah di situ, walaupun sangat terbatas. Biasanya yang bisa sekolah di situ hanyalah anak priyayi lulusan HBS (setara SMA sekarang) dengan nilai yang sangat cemerlang. Benar-benar terpilih dan biasanya mendapat surat panggilan langsung dari STOVIA-nya. Mungkin seperti Sipenmaru/UMPTN/SPMB/PMDK sekarang, tapi jauh lebih terbatas tempatnya untuk kaum pribumi. Untuk soal biaya, saya sama sekali tidak tahu, karena saudara2/kakek/buyut dst saya tidak ada yang dokter alias alumni STOVIA.
Selain dari masalah keterbatasan kita untuk sekolah di situ, mereka (nenek moyang kita alias pribumi yang sekolah di STOVIA) memang boleh mendapat ilmu dari bangsa Barat tapi sama sekali tidak boleh berpenampilan ala Barat. Untuk yang berasal dari Sunda, Jawa, Bali, Madura wajib mengenakan pakaian adat Jawa :blangkon, kain, destar, beskap dsb. Sedangkan untuk yang berasal dari Melayu (Sumatra) wajib mengenakan sarung dan kopiah, persis kayak orang tarawih, saat sekolah. Yang boleh mengenakan celana panjang, kemeja dan sepatu hanyalah orang Barat sendiri, indo (keturunan Eropa) dan orang pribumi yang beragama Kristen. Waktu itu belum ada wanita yang boleh setinggi itu. Dan masih sedikit pula Melayu yang sekolah di situ, karena jauh, dan bila adapun kadang mereka juga mengenakan pakaian Jawa. Dan satu lagi, mereka juga tidak boleh mengenakan sepatu atau alas kaki apa pun alias nyeker! Maka dari itu dikenallah orang pribumi yang sekolah di situ sebagai DOKTER JAWA.
Saat lulus dijuluki dokter Jawa, yang mendapat julukan dokter hanyalah orang Barat saja. Penghasilan dokter Jawa jauh lebih rendah dari penghasilan dokter (Eropa/Barat). Saat bepergian dokter Jawa tidak boleh naik kendaraan/kereta kelas I. Menyedihkan, kita memang benar-benar dijajah secara lahir batin.
Karena pas sekolah mereka sudah kelihatan sebagai “dokter Jawa” dan jumlahnya hanyalah sedikit. Biasanya mereka pun di”ospek” oleh teman2 sejawatnya sendiri yang dari Barat. Berarti penjajahan pun juga berlangsung di sekolah, tidak hanya di medan perang saja. Biasanya saat di asrama mereka dikerjain habis oleh orang Barat. Karena hanya mengenakan pakaian Jawa yang berupa kain dsb, biasanya kain tsb suka ditarik oleh teman2 dari Barat atau Indo dan karena mudah terlepas, sehingga – maaf – akhirnya mereka terpaksa telanjang dan ditertawakan oleh teman2nya. Kepala asrama tak ada yang membela mereka dan bila ada yang melawan mereka pun yang ditegur.
Akhirnya terbayang oleh saya sendiri, benar-benar perjuangan mereka untuk mendapat ilmu sangatlah berat. Terbayang dalam pikiranku, apakah mereka tetap harus menngenakan blangkon saat masuk kamar operasi? Karena pada masa itu, bila seorang pribumi melepaskan penutup kepalanya (blangkon, topi atau peci) di hadapan orang lain adalah sebuah perbuatan tercela – tidak menghormati orang lain. Hebat juga mereka harus wara-wiri di ruang emergency dengan mengenakan kain. Dan nyeker! Bayangkan bila ada darah yang berceceran di lantai dan mereka harus menginjaknya dengan telanjang kaki.
Itu masih soal penampilan, entah bagaimana soal hal belajar. Apakah ada keterbatasan bagi mereka untuk mendapatkan buku atau ke perpustakaan? Apakah untuk membedah saja mereka harus menggunakan keris? Atau ada hal diskrimanasi juga saat ujian? Pastilah kerja keras para dokter Jawa itu sangat luar biasa. Entahlah, mungkin inilah salah satu yang membuat dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Cipto Mangunkusumo dkk “berontak” untuk bangkit. Selain untuk bangkitnya nasionalisme mungkin mereka juga ingin bangkit dari kesengsaraan sebagai mahasiswa. Dengan adanya organisasi pemuda Indonesia pertama yang didirikan para dokter Jawa itu. Dan inilah yang membuat bermunculan organisasi pemuda lainnya di Indonesia untuk saling berbagi ide, ilmu, dan yang jelas:persatuan.
Salut untuk semua pahlawan bangsa.
Masih terasa banyak peninggalan Belanda/Eropa yang tertinggal di rumah sakit; seperti istilah untuk nama2 ruangan, yang sepertinya sudah diwariskan turun temurun secara lisan. Misalnya VK untuk ruang partus/melahirkan, OK untuk ruang operasi, NC (diucapkan: en-se) untuk bedah syaraf dsb. Kita tak tahu persis singkatan dari kata2 apa tapi itulah salah satu peninggalan Belanda, warisan saat sekolah dokter.
Memang saat jadi mahasiswa dulu, ada rasa bete juga kepada dosen saat ujian atau diberi tugas. Tapi sebenarnya perjuanganku sebagai mahasiswa tidaklah seberat perjuangan mereka, para dosen dan dosennya lagi yang sangat berat untuk menjadi dokter. Mereka dengan sukarela terus membagi ilmu mereka kepada kita tanpa harus minta persembahan seperti yang harus mereka lakukan kepada para orang Eropa itu (dosen mereka dulu)..Saat saya kuliah telah banyak diberi kebebasan, yaah karena sudah merdeka, syukur sebagai wanita saya sudah bisa kuliah. Ini semua karena jasa mereka. Para pahlawan dan dokter Jawa……….serta seluruh dosenku tercinta.
matur nuwun…..
terima kasih atas artikel yg bagusini