Nasi Goreng Cisitu

Masih ngomongin jalan Cisitu Lama, Bandung. Disini selain terkenal dengan daerah mahasiswa dan kos-an, ada juga nasi goreng yang enak. Kata gue sih, ini nasi goreng yang paling enak se-Bandung.Setelah mencoba beberapa nasi goreng di daerah Bandung, ini yang paling enak se-Bandung dan murmer alias murah meriah!!
Sebenarnya ini hanya nasi goreng kaki lima biasa, dengan gerobak keliling, yang mangkal di pertigaan gang kecil antara jl.Cisitu Lama V dan jl. Cisitu Lama IX. Semua orang yang kos atau tinggal di daerah sana pasti langganan dengan nasi goreng ini. Walaupun masih banyak tukang jualan nasi goreng lainnya, tapi nasi goreng di pertigaan ini yang paling laris manis.

Nasi goreng yang beroperasi sekitar jam 6 sore ba’da Maghrib ini dikenal juga dengan nasi goreng si Bejo, karena yang jual namanya Bejo. Gue sama teman gue manggil dia Joe, biar rada keren dikit. Sepertinya Bejo hanya julukan bukan nama asli, dia ga pernah ngasih lihat KTP-nya ke gue. Tapi semua orang di Cisitu sudah kenal dia itu si Bejo.

Harga nasi goreng si Bejo ini cuma Rp.6000 per porsi. Kalo sudah langganan biasanya suka dikasih discount. Dulu, gue sempat dikasih discount cuma 5000 per porsi, tapi setelah krisis global ga berlaku lagi discountnya. Nasi gorengnya memang enak, gurih, rasa pedasnya bisa diminta sesuai selera masing-masing, kecapnya juga ga kebanyakan. Kalau kita suka pedas, biasanya di kasih yang ekstra pedas tapi yang ga suka pedas juga ga dikasih cabe. Nasi gorengnya juga ga berminyak kayak nasi goreng lainnya. Dan baunya….juga… tercium sangat wangi, mengundang selera makan…enak tenan…!! Rasanya memang pas sesuai selera kita. Biasanya pelanggannya banyak yang cerewet, minta yang asin lah, minta yang manis, minta yang pedas, telornya minta didadar lah dsb. Tapi semua permintaan ini dipenuhi oleh si Bejo ini. Pelanggan pun puas. Dan yang lebih bikin puas lagi nasi goreng ini diantar oleh si Bejo sendiri ke kos-an kita masing-masing! Kita ga perlu nunggu lama di depan gerobaknya, cukup nunggu sambil nonton TV aja di kos-an masing-masing. Apalagi kalo di kos-an cowok, si Bejo langsung masuk ke kos-annya untuk nganterin pesenan dan kira-kira yang pesan sudah selesai makan si Bejo datang lagi untuk mengambil piring kotornya. Full service bo!! Tapi untuk yang layanan yang diantar sendiri sama si penjualnya ini khusus untuk yang pemesannya tinggal sekitar situ saja. Untuk yang tinggal di daerah Dayeuh Kolot sana…yah…jangan harap deh :P

Selain itu, si Bejo bisa terima pesenan nasgor-nya via sms. Tapi gue ga pernah pesen lewat sms karena dia memang mangkal depan rumah gue, jadi gue tinggal teriak aja dari depan pintu.
Nasi goreng si Bejo ini memang laris manis, benar2 full order dari jam 6 sore sampai jam tak terhingga, sampai habis nasinya, biasanya kira2 sampai jam 11 lewat. Menurut pengakuan Bejo, sehari bisa ada 100 piring pesanan. Dan itumemang benar, setiap hari terdengar bunyi sodet yang beradu dengan wajan dai kamar gue yang ga ada berhentinya. Belum lagi, harumnya aroma nasi gorengnya yang bikin gue ga bisa tidur karena perasaan jadi lapar aja walaupun udah makan. Mengenai omzet yang dihasilkan sehari, si Bejo masih tutup mulut saat gue interview. Pastinya sih nasi goreng ini bener2 enaaaak….dan murah! Waktu dia sempat mudik selama 3 bln kemarin, banyak warga Cisitu yang merasa kehilangan.

Bagi yang tinggal di Bandung dan belum pernah nyobain nasgor ini, silakan dicoba. Pasti ga nyesel. Datang saja ke jalan Cisitu Lama IX dan ikutin jalannya sampai ujung jalan trus masuk ke gang kecil dan nengok kanan bentar pasti ketemu dan langsung tercium aroma sedapnya. Untuk yang dari luar Bandung, tak ada salahnya dicoba. Jalan Cisitu Lama ini ga jauh kok dari Simpang Dago dan kawasan factory outlet Dago.

Jalan Cisitu Lama

14082008007Jalan Cisitu Lama di Bandung tepatnya di daerah Dago. Hanya jalan kecil dari pertigaan jl. Cisitu sampai Alpina. Jalan ini dikenal sebagai kawasan mahasiswa. Hampir seluruh rumah yang ada di jalan Cisitu Lama ini adalah rumah kos. Karena letaknya berdekatan dengan Unpad dan ITB. Mahasisswa yang kuliah di daerah Jatinangor banyak juga yang kos di sini karena dekat dengan “pangdam” (Pangkalan Damri) di jl. Dipati Ukur yang merupakan transportasi mahasiswa dari Bandung ke Jatinangor pulang pergi. Selain itu posisinya juga dekat dengan Simpang Dago tempat jajanan dan makan anak kos yang murah meriah.

Jalan ini hanya dilalui satu angkot, angkot ungu jurusan Cisitu – Tegalega. Walaupun hanya jalan kecil, tapi berbagai fasilitas lengkap di sana yang disediakan bagi anak kos. Mulai dari tukang koran, tempat cuci motor, laudry kiloan, fotocopy, sewa buku/komik, salon, warteg, mesjid, indomart, warnet, rental komputer, tukang baso dan segala macam jajanan. Semuanya lengkap ada di jalan ini tak kalah dengan komplek perumahan atau mall.

Hampir setiap saat, jalan kecil ini suasananya padat lancar seperti jalur Pantura saat lebaran – kecuali saat Subuh. Jalan kecil yang cenderung berbentuk gang ini, terbagi dua jalur dan itu saja jalurnya sudah diperkecil karena banyak yang parkir. Parkir mobilnya milik para mahasiswa yang kos di daerah sekitar situ. Tak heran bila sering macet. Meski hanya jalan kecil dan milik mahasiswa tapi sangat diminati banyak orang. Setiap hari ada saja pemandangan orang yang menunggu angkot, pengemudi motor/mobil, mahasiwa yang berangkat kuliah, mahasiswa yang beli makan, mahasiswa yang sedang bergandengan mesra sampai tukang baso atau tukang koran yang berperan sebagai tukang parkir bila jalanan macet. Puncak kemacetan biasanya antara jam 5 sore sampai 7 malam.

Kemacetan kadang disebabkan oleh mahasiswa sendiri. Pernah angkot dan kendaraan lain terpaksa berhenti karena ada serombongan mahasiswa yang memakai jalan ini untuk ospek. Yang rugi, sebenarnya mahasiswa lain yang tinggal di sini juga dimana mereka terburu-buru supaya bisa belajar untuk ujian besok. Mahasiswa di Bandung sekarang memang sudah banyak yang mengenakan kendaraan pribadi ke kampus (motor dan mobil). Bahkan pernah terjadi kemacetan luar biasa ketika di jalan kecil ramai ini dilalui bus pariwisata, dan kita sempat terjebak macet satu jam lebih di sini. Jalan ini memang banyak peminatnya!!

Tapi meskipun sering macet, jalan ini memang nyaman bagi mahasiswa. Dan bila yang sudah tinggal di sini rasanya enggan pindah ke tempat lain. Selain aman dari kecelakaan, jalan ini padat fasilitas dan enak buat jalan kaki bagi mahasiswa karena dekat kemana-mana.

Uraian Perubahan

obama2
Kata-kata itu pasti ada, ketika kita akan mengirimkan naskah fiksi ke suatu majalah, atau artikel ke blog, atau pidato upacara atau suatu candaan bahkan obrolan ringan sekalipun. Suatu larangan mengungkit suatu hal…sesuatu yang berbau “hal” atau SARA (yah, entahlah bila nanti blog saya ini mungkin di blokir karena membawa2 hal yang selalu dilarang itu). Memang hal ini berbau sensitif dan bila diungkit bisa menyakiti perasaan yang lain. Sedangkan sudah jelas kan dalam Sumpah Pemuda dinyatakan bahwa kita bertumpah darah, berbangsa dan berbahasa satu. Semua juga sudah tahu.

Kenyataannya “hal” itu tidak hanya berlaku di Indonesia saja, namun juga di seluruh dunia. Permasalahan warna kulit, agama, suku, keturunan dan sejenisnya memang ada dimana-mana. Dan sebisa mungkin tidak mengungkit2nya. Tapi, walaupun kita dilarang membicarakan “hal” itu, entah kenapa pasti ada saja dalam percakapan atau perbuatan sehari2 “hal” itu selalu ada.

Sadarkah kita bahwa dalam acara humor yang ada di TV, bahkan dalam ceramah agama sekalipun; “hal” itu selalu dibawa2. Bahkan oleh seorang tokoh agama! Dan rasanya bagi penontonnya merasakan kesegaran humor atau tidak ngantuk bila “hal” itu dibawa2. Dan yang menyedihkan lagi biasanya dalam bentuk ejekan.Dalam percakapan sehari2 pun, sudah menjadi kebiasaan bagi kita membicarakan sifat seseorang yang diidentikkan dengan asal kampung halamannya. Seperti pelit, malas, genit, kasar, pemarah, dan sebagainya. Begitu juga dengan soal warna kulit dan tampang.

Walaupun seseorang selalu melarang “hal” itu dibawa2 tapi kenyataannya akan selalu ada. Masalah keturunan juga berpengaruh dalam penerimaan pekerjaan dan seleksi calon mahasiswa. Tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia. Perihal ini terinspirasi ketika saya baca kolom opini di harian Jakarta Post yang terbit hari Jum’at kemarin(7/11) dengan judul “Why only race and ethnicity?”. Ketika membaca artikel tersebut, saya mengiyakan setiap kata yang ditulis. Tentang keturunan Afrika yang tinggal di Amerika, tentang keturunan Cina di Indonesia, tentang perbedaan perlakuan Muslim dan non Muslim di Indonesia dst.Sepertinya perjuangan Sumpah Pemuda dan Martin Luther King dalam persamaan ras belum berakhir.

obamaTerpilihnya Barrack Obama sebagai presiden Amerika kulit hitam pertama membawa banyak harapan bagi seluruh penduduk dunia. Kita tahu bahwa mayoritas penduduk Amerika  berkulit putih, namun kali ini Obama membuktikan bahwa warna kulit bukanlah segalanya.”America can change and yes we can!” adalah kalimat yang selalu dulang2 dalam pidato kemenangannya di Chicago. Yes we can, tidak hanya Amerika saja yang berubah, kita juga bisa.

Bukan berarti kita meniru Amerika. Tapi kita bisa optimis untuk berubah. Memang kita telah dilarang untuk mengungkit “hal” itu, tapi kenyataannya makin dilarang justru makin gencar. Memang sulit untuk menyudahinya. Saya mengalaminya dalam kehidupan sehari2. Lanjut membaca