Setelah baca artikel dari Dewi Lestari (Dee) yang mengatakan bahwa pada akhir 2008 ini seluruh lautan Arktik akan mencair karena pemanasan global rasanya seram juga membayangkannya. Tak heran sekarang banyak kejadian tanah longsor, banjir pasang dan sebagainya. Tak terasa efek dari pemanasan global semakin merugikan kita. Dan sebenarnya pemanasan global juga terjadi akibat ulah manusia sendiri. Jadi seperti lingkaran setan saja, kita ber-ulah dengan menggunakan AC, sampah plastik dimana-mana, pembalakan liar dsb yang mengakibatkan pemanasan global yang efeknya juga merugikan manusia.
Kalau dipikir2 bagaimana yah caranya untuk memperbaiki kondisi alam. Mau menanam pohon tapi sekarang tanahnya sudah habis untuk area parkir, pembuatan jalan atau area perumahan. Dee juga mengatakan bahwa semuanya dimulai dari diri kita masing2. Asal ada tekad pasti bisa kita lakukan. Mulai saja dari yang mudah kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Dee pernah melakukan acara talk show di TV swasta mengenai hal ini, tapi Dee sangat kecewa karena acaranya sangat singkat terlalu banyak dipotong durasinya untuk iklan dsb.
Bila di akhir tahun ini saja lautan Arktik sudah mencair berarti memang harus mulai dari sekarang kita berupaya melestarikan lingkungan. Ada masukan bahwa untuk itu kita harus sesering mungkin menggunakan kertas bekas supaya mengurangi penggunaan kayu yang didaur menjadi kertas, berarti juga mengurangi penebangan pohon. Kuakui memang sudah kulakukan. Di tempat kerja aku memang jarang menggunakan kertas, biasanya jika ingin menggunakannya pun aku menggunakan kertas bekas. Awalnya aku merasa sudah berhasil ramah pada lingkungan. Tapi setelah kupikir2, aku baru menyadari dalam keseharian hidupku aku tak pernah lepas dari tissue, kertas dan buku.
Sebagai seorang wanita aku selalu butuh tissue, entah untuk ke toilet, atau urusan kewanitaaan lainnya seperti membersihkan kosmetik dsb. Belum lagi setiap bangun pagi aku pasti selalu bersin karena alergi dingin, dan mau tak mau aku pasti butuh tissue. Bila dihitung2, dalam sebulan aku bisa menghabiskan sekitar 4 roll tissue gulung dan 2 box tissue dalam kemasan kotak. Termasuk boros juga yah untuk penggunaannya? Dan tissue juga kertas yang berarti mendorong untuk penebangan pohon. Belum lagi hobiku memang membaca dan menulis. Dan itu berarti tak pernah lepas dari kertas dan buku. Bila ada rejeki lebih pasti aku langsung mampir ke toko buku untuk membeli buku yang berarti mendorong penerbitnya untuk mencetak lebih banyak lagi bukunya karena sudah habis persediaannya karena diborong konsumen. Boros kertas juga ya? Belum lagi setiap hari aku langganan koran, langganan majalah bulanan dan setiap mampir ke tukang koran pasti ada yang dibeli. Selain itu di kamarku masih banyak kertas2 lainnya, selain koleksi buku yang sudah tak muat di kamar, masih banyak pula jenis barang dalam bentuk kertas. Entah itu struk belanjaan, kalender, tagihan pembayaran ponsel dll, dus sepatu, lembaran iklan dari supermarket, kartu diskon, kartu nama teman, post it yang menempel di pinggir monitor komputer dan masih banyak lagi kertas2 menyebar di kamar. Wah…ternyata sulit juga yah untuk menghemat penggunaan kertas?
Buku, koran, majalah memang sangat berguna untuk menambah ilmu. Jadi jangan sampai karena alasan ingin ramah lingkungan, kita jadi malas membaca buku. Ilmu juga dapat dicari dengan browsing di internet tapi efek satelit untuk internet juga berefek radiasi yang menyebabkan pemanasan global. Memang semuanya akibat ulah manusia, entah ulah baik seperti mencari ilmu atau ulah buruk dengan pembalakan liar; yang keduanya mengakibatkan pemanasan global. Bila manusia sudah banyak menggali ilmu dengan membaca dsb seharusnya kita juga bisa menanggulangi risikonya. Mulai saja dari kehidupan sehari-hari.
Setelah kupikir sulit untuk menghemat penggunaan kertas karena langganan koran dsb. Aku bisa memulainya dengan menghemat penggunaan plastik. Karena plastik lebih sulit didaur ulang dibandingkan kertas. Plastik baru bisa lebur dengan tanah setelah ratusan tahun. Sedangkan kertas bekas masih bisa diolah lagi untuk jadi kertas daur ulang. Jadi bila pergi ke mall dsb untuk belanja aku pasti selalu mengenakan tas yang masih punya muatan lebih selain untuk dompet. Bila belanja hanya sedikit, selalu mengatakan bahwa tidak perlu dibungkus oleh kasirnya, cukup langsung dimasukkan barang belanjaannya ke dalan tas. Namun bila belanja bulanan dengan muatan besar, mau tak mau harus menggunakan plastik. Setidaknya masih bisa menghemat penggunaan plastik. Kalau mau ke pasar pun, sudah bawa tas belanjaan ke sana, sehingga tak perlu plastik dari penjualnya.
Sepertinya di Indonesia masih sulit untuk menghemat penggunaan plastik. Dari iklan yang ditayangkan di TV-pun hampir semua produk yang ditawarkan menggunakan kemasan plastik. Produsen menawarkan bahwa kemasan refill untuk sabun dsb harganya jauh lebih hemat. Namun apakah mereka sadar bahwa kemasan refill tsb terbuat dari plastik yang berarti memperbanyak sampah yang merusak lingkungan? Saat kita berada di ruang tunggu juga disajikan minuman dalam kemasan plastik. Sedangkan di negara2 lain bila kita berada di ruang tunggu disediakan aqua gallon dan gelas untuk minumnya terbuat dari kertas yang berbentuk corong. Jauh lebih ramah lingkungan kan, karena kertas masih bisa didaur ulang.
Di restoran siap saji di Indonesia juga kebanyakan menyajikan makanan dengan piring, gelas dan sendok dari plastik yang sekali pakai; maksudnya mungkin untuk mempercepat pelayanan tapi juga mempercepat efek pemanasan global. Sepertinya untuk urusan keramahan lingkungan di Indonesia justru lebih pintar pada penjual di warteg pinggir jalan karena mereka menyajikan makan dengan piring dan gelas yang dicuci berulang kali untuk beberapa konsumen. Dan sisa makanannya pun mereka berikan kepada kucing yang berkeliaran di jalan.
Saat ke toko buku pun, semua bukunya pasti dibungkus plastik. Sama saja dengan pemborosan penggunakan plastik. Aku sih sekedar memberi ide saja sebagai pelanggan setia toko buku. Entah disetujui atau tidak. Sementara ini hanya khayalanku saja. Bila pihak produsen membungkus bukunya karena tidak ingin bukunya dibaca atau dirusak konsumen sebelum di beli; kenapa tidak dipajang saja di etalase cover bukunya beserta sinopsis ceritanya. Sinopsis ceritanya disertai kategori lengkap tentang bukunya seperti pengarang, jumlah halaman dsb bisa dicetak di beberapa kertas bekas sehingga beberapa konsumen bisa mengambilnya. Dan bila konsumen tertarik akan sinopsisnya, dia akan membeli bukunya(yang masih baru!) yang tidak dibungkus plastik. Sehingga tidak perlu ada sampah plastik lagi.
Dan masih dalam khayalanku juga, mengingat hampir semua produk yang dijual dalam bentuk kemasan plastik, terutama yang berkaitan dengan keperluan wanita seperti body lotion, milk cleanser dsb. Kenapa kita tidak membelinya dalam bentuk refill saja, seperti isi ulang aqua gallon? Misalnya ketika kita ingin membeli isi sabun, kita cukup membawa wadah sabunnya lalu datang ke supermarket dan di counternya disediakan isi ulang untuk sabun dengan merk yang sama. Di counternya tinggal dikucurkan isi sabun cair yang ingin kita beli seperti menuangkan suatu jenis minuman di restoran siap saji. Bila seorang konsumen melakukan hal itu untuk satu jenis produk bisa dibayangkan bila semua orang melakukannya untuk lebih satu produk dalam kemasan plastik yang biasa digunakannya, bisa berkurang banyak kan sampah plastiknya. (arlin’08)
Gue termasuk salah seorang yang sangat concern dengan lingkungan, jadi tindakan seperti ini memang patut dianjurkan dan mulai diajarkan ke anak-anak kita. Kenapa? Karena belum banyak sekolah yang mengajarkan pentingnya memelihara lingkungan, terutama lingkungan hidup.
Menurut gue, jaman sekarang yang disebut pahlawan bukan lagi tentara Amerika yang menang di medan perang setelah bertempur dengan ‘teroris’ tapi yang layak disebut pahlawan adalah mereka yang berjuang untuk melestarikan lingkungan hidup
Artikel yang bagus Ibu, saya sepakat dengan anda. Lingkungan ini harus kita jaga. Silahkan membaca tulisan saya di http://www.ardansirodjuddin.wordpress.com. Matur nuwun